/0/30878/coverbig.jpg)
Bab 2 Perjanjian
Dengan terhuyung-huyung Ishan menuruni tangga, efek bir semalam ternyata belum hilang rupanya dan ternyata di rumah ia hanya sendirian. Kedua putri kembarnya, Putri dan Dara sudah tidak tampak lagi di rumah. Sepertinya mereka sudah berangkat kuliah.
TING TONG …
"Sabar!" teriak Ishan, ia membuka pintu dan tampak pria yang bersamanya semalam, sahabatnya, Roman.
"Halo, Ishan!" sapa Roman begitu pintu terbuka, "aku ke sini untuk melihat keadaanmu."
Ishan langsung mempersilahkan masuk sahabatnya itu, membuatkannya teh dan menyediakan kue-kue ringan.
"Apa kau tidak ke rumah sakit, Ishan?" tanya Roman ketika Ishan sudah duduk di sofa.
"Mungkin hari ini tidak," sahut Ishan, "kepalaku berat sekali … aku juga sudah menelpon rumah sakit dan mengatakan aku sedang tidak sehat."
"Oh …," ujar Roman, "hm … lalu … dimana putramu itu?" tanya Roman sambil hendak meneguk teh-nya.
Ishan malah mendecak. "Berandalan itu sudah masuk penjara."
Prooooooooooott
Roman langsung menyemburkan semua teh yang ada di mulutnya.
"Nanda masuk penjara?" tanyanya dengan ekspresi yang agak berlebihan.
"Ya, sudah dua malam dia ada di sana."
"Memangnya, apa yang anak itu lakukan?" tanya Roman, masih terheran-heran, "bukan kamu kan yang membawanya ke penjara?"
Ishan mengernyit. "Tentu saja tidak!" sahutnya, "dia masuk penjara karena sudah melakukan keributan di kelab malam … dan juga … dia memukul dua orang di sana, salah satu yang dia pukul adalah seorang gadis .…"
"Gadis?" Roman terkejut. Nanda memukul seorang gadis? Itu benar-benar sangat keterlaluan, pantas saja semalam Ishan terlihat murka, batin Roman.
"Ya, dia memukul seorang gadis," terang Ishan kembali, "aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan? aku bisa saja mengeluarkannya dari sana tapi aku benar-benar kecewa dengan anak itu."
"Ishan," gumam Roman, "tapi … Nanda itu ahli waris perusahaan milik keluarga Edward dan seharusnya umur dia sekarang sudah bisa mengambil alih perusahaan. Bagaimana pun dia tidak bisa berada di penjara, seharusnya kita mempersiapkan anak itu agar bisa memimpin perusahaan," Roman mengingatkan Ishan.
"Mau bagaimana lagi, Man?" Ishan malah terlihat bingung sendiri, "aku juga tidak bisa membiarkan Nanda yang sekarang memimpin perusahaan Maria … yang ada dia akan menghancurkannya."
Roman merenung sejenak. Selama ini yang mengurusi perusahaan adalah dia dan sahabatnya, Sheren. Tapi bagaimana pun perusahaan itu harus memiliki pemimpin demi mengembangkan bisnis keluarga Edward. Tanpa pemimpin, perusahaan itu hanya akan berada di situ-situ saja sementara perusahaan saingan sudah berkembang pesat. Tidak bisa dibiarkan, Nanda harus segera keluar dari penjara.
"Aha, aku tahu bagaimana merubah anak itu!" seru Roman tiba-tiba, seperti habis mendapat ilham.
"Hah? Kau punya cara?" ujar Ishan bertanya-tanya.
Roman mengangguk penuh keyakinan. "Mungkin Nanda menjadi berandalan karena di sekitarnya penuh dengan berandalan," ucapnya, "tapi, jika di sekitar Nanda adalah orang-orang hebat, orang yang berambisi dan para pesaing, kurasa Nanda akan beradaptasi dan termotivasi."
Ishan mengernyit, tidak begitu mengerti maksud sahabatnya itu. "Maksudmu … Nanda dipekerjakan di perusahaan?" tebaknya mencoba.
"Yup, benar sekali!" seru Roman sambil mengangkat telunjuknya dengan semangat.
"Kau ini bercanda, ya? Nanda yang sekarang malah akan menghancurkan perusahaan Maria jika memimpin perusahaan!"
"Hehehe ...," Roman malah terkekeh, "Nanda memang akan kita pekerjakan di perusahaan … tapi bukan di Edward Group."
"Lantas?"
"Nanda akan bekerja di perusahaan lain, perusahaan yang penuh dengan orang-orang hebat seumurannya … agar dia bisa belajar."
***
Setelah mendengar penjelasan Roman yang panjang lebar, Ishan seperti kembali memiliki secercah harapan. Segera ia menghubungi pengacara keluarga Edward untuk mengurus pembebasan putranya lalu ia menghampiri putranya.
Kini Ishan bersama Nanda, duduk berhadapan sambil saling melemparkan tatapan tajam. Yang Ishan kesalkan dari Nanda, yaitu tatapan anak itu ternyata tidak memiliki penyesalan sama sekali atas tindakannya.
"Apa ayah datang ke sini untuk memukuliku lagi?" Nanda bertanya dengan tajam.
"Apa kau ingin keluar dari sini?" Ishan malah melemparkan pertanyaan.
Nanda mengernyit. Apa maksud ayahnya? Bukankah kemarin jelas-jelas ayahnya mengatakan tidak akan membantunya keluar dari penjara lalu kenapa ayahnya malah bertanya seperti itu?
"Tentu saja aku ingin keluar dari sini!" sahut Nanda tegas.
Ishan lalu melempar map ke meja, tepat di depan Nanda. "Baca itu!" perintahnya, "Ayah akan membantumu keluar dari sini tapi kau harus menandatangi perjanjian itu!"
Segera Nanda mengambil map itu, membukanya dan membacanya dengan seksama. Ada beberapa point isi perjanjian tersebut, antara lain; tidak melakukan keributan di tempat umum, tidak melakukan kekerasan tanpa alasan yang jelas, tidak menyentuh wanita dalam hal melakukan kekerasan fisik, bersedia mengikuti kegiatan apa pun yang Ishan Edward perintahkan, bersedia bekerja keras, tidak menggunakan nama Edward sebelum Ishan Edward mengizinkan.
Nanda tertawa geli begitu membaca point kelima dan keenam. "Apa ayah serius mau mempekerjakan aku di perusahaan ibu?"
"Siapa bilang kau akan bekerja di sana?" sergah Ishan tajam, "kau akan bekerja di tempat lain!"
Nanda mendengus. "Lalu … apa maksudnya point keenam ini? Tidak menggunakan nama Edward? Masa iya namaku cuma Ananda …" Nanda lalu tertawa geli.
"Kau akan memakai nama keluarga ayah," kata Ishan serius, "yaitu … Iskandar."
***
Akhirnya, Nanda pun lepas dari penjara. Dan keesokan harinya, perjanjian itu langsung dimulai untuk point keempat, mengikuti kegiatan yang ayahnya perintahkan. Sesuai dengan perjanjian, Nanda kini berada di halaman kediaman milik seseorang dari konglomerat dan juga bangsawan. Ia bersama Roman, mengenakan jas hitam, berjalan menuju kediaman keluarga itu.
"Ananda Iskandar," Roman tertawa terpingkal-pingkal setelah memanggil Nanda dengan sebutan "Ananda Iskandar" dengan tambahan aksen yang berlebihan.
"Kenapa kau tertawa?" geram Nanda yang merasa agak risih dengan cara Roman memanggilnya.
"Hahahahaha …" Roman tertawa, "aku sangat senang menyebut nama "Iskandar" lagi, kau tahu … sudah lebih dua puluh tahun aku tidak menyebut nama itu. Haha."
"Lalu apanya yang lucu?"
"Tidak ada memang … hanya terdengar asing saja … ahahahaha … Ananda Iskandar~"
"Berhenti memanggilku dengan cara menjijikkan!"
Mereka berdua kini berada di dalam kediaman rumah megah, menghadiri acara ulang tahun seorang pria pemilik rumah megah itu. Ini pertama kalinya Nanda mengikuti acara formal tersebut. Kebanyakan pesertanya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu, seumuran dengan Roman dan Ishan. Nanda bingung mengapa ayahnya memerintahkannya untuk mengikuti upacara orang-orang kaya tersebut, katanya penting tapi menurut Nanda pasti akan sangat membosankan.
"Kenapa lama sekali mulai? Bukannya tuan rumahnya si kakek-kakek botak itu? Apa lagi yang ditunggu?" bisik Nanda ke Roman yang duduk di sampingnya.
"Tunggu tamu spesialnya toh ...."
"Siapa?
"Itu dia."
Tidak lama kemudian seseorang menggeser pintu dan tampaklah seorang pria berkemeja putih berambut hitam sebahu terurai rapi dan berwajah tampan dengan wajah keturunan jepang yang terlihat jelas di raut wajahnya yang tampan dan seorang gadis cantik berambut hitam yang dikonde, mengenakan dress ungu. Mereka berdua masuk dan memberi salam. Pria tampan itu kemudian duduk di samping Roman.
Masih sangat muda, entah apa yang mereka kagumi hingga ada yang berbisik-bisik mengatakan ingin sekali mempunyai anak atau menantu seperti gadis itu.
Yah, memang sih, gadis itu lebih cantik dari Maya, tapi penampilannya sangat biasa menurut Nanda. Dan juga, dia agak tukang pamer. Nanda malas melihat seorang perempuan yang selalu ingin mengumbar kelebihannya.
Gadis itu tiba-tiba menoleh ke arah Nanda, Nanda cepat-cepat memalingkan pandangannya. Mungkin dia sadar kal bahwa Nanda terus memandanginya dari tadi tapi ketika Nanda melirik ke arahnya kembali, gadis itu sudah sibuk kembali dengan para tamu yang lain.
Daftar bab
Total 31 bab
/0/15361/coverbig.jpg)
/0/30875/coverbig.jpg)
/0/3150/coverbig.jpg)
/0/13269/coverbig.jpg)
/0/15487/coverbig.jpg)
/0/4573/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)