/0/13130/coverbig.jpg)
/0/4019/coverbig.jpg)
Bab 2 Sungguh menyakitkan
“Jangan terlalu banyak berpikir. Dokter mengatakan kamu tidak boleh terlalu stress.”
Alfan duduk di sisi ranjang seraya menatapnya dengan perasaan bersalah.
“Maaf semua ini karena aku,” sambungnya dengan helaan napas yang terdengar penuh tekanan.
“Mari kita bercerai saja, Mas. Aku tidak mau ada di antara hubungan kalian berdua. Lebih baik kita akhiri saja sebelum semuanya menjadi lebih rumit.”
Alfan menggeleng.
“Lalu aku harus bagaimana? Jangan egois, Mas.” Bulan memekik dengan suara tertahan.
Alfan tertunduk.
“Kamu takut kehilangan warisan orang tuamu?” tanya Bulan menebak.
Kebungkaman Alfan cukup menjawab semuanya.
“Apa kamu tidak berpikir tentang perasaanku, hatiku dan hidupku yang telah kamu permainkan?” tuding Bulan dengan suara lemah. “Aku korban dari kebohonganmu, Mas. Kamu menghancurkan hidupku.”
“Aku terpaksa, Bulan. Tolong mengertilah,” keluh Alfan merasa frustasi.
“Lalu siapa yang akan mengerti diriku, Mas?” Baliknya dengan lembut namun penuh sindiran. “Kamu yang menarikku ke dalam pusara luka ini. Dan kamu memintaku untuk mengerti. Apa kamu memang tidak punya hati, Mas?”
Alfan membanting gelas yang ada di dalam genggaman tangannya.
“Aku terpaksa demi istriku. Aku dipaksa oleh keadaan, Bulan. Aku juga tidak ingin melakukan ini,” ujar Alfan dengan suara yang meninggi.
“Lalu apa artinya aku, Mas?” lirih Bulan dengan suara yang hampir tak terdengar.
Alfan kembali bungkam karena tak bisa menjawab pertanyaan Bulan. Seketika itu juga tangis Bulan pecah, ia ingin menyatakan kekecewaan, menyuarakan protes namun lidahnya keluh.
“Jangan seperti ini,” ucap Alfan dengan nada frustasi.
Bulan menghembuskan napas kasar. “Lalu aku harus bagaimana?”
“Tolong jangan melibatkan orang tua kita ke dalam urusan ini.” Permintaan Alfan membuatnya kembali dilanda kekecewaan.
“Tapi kedua orang tuamu juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku!”
“Kita bisa mencobanya, Bulan. Pernikahan ini bukan mainan,” ujar Alfan membuatnya tertawa dengan miris.
“Seharusnya kamu mengatakan itu pada dirimu sendiri, Mas. Aku di sini hanya membela diriku karena ketidakadilan yang kamu lakukan. Kamu yang mempermainkan ikatan suci ini,” balas Bulan yang selalu bisa menjawab ucapan Alfan dengan mudah.
Alfan memilih tak menjawab dan berjalan menuju balkon kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul empat menjelang pagi, namun mereka masih saja belum menghentikan perdebatan. Dengan perginya Alfan, lelaki itu memilih menghindar dan memberikan waktu kepada Bulan untuk memikirkan ucapannya.
Diakui Alfan, ia memang yang paling bersalah karena semua ucapan yang dikatakan Bulan semuanya adalah benar. Ia egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang terseret di dalamnya.
“Maaf Bulan, semua ini aku lakukan karena aku terlalu mencintai Zahra. Dia cinta pertamaku.”
Asap rokok mengepul di sekitar Alfan. Satu batang, dua batang hingga ia lupa telah menghabiskan berapa batang. Ia masih bertahan duduk di balkon bahkan ketika awan gelap sudah berubah terang.
Bulan baru saja keluar dari kamar mandi dengan dress selutut dengan model yang simple namun tetap terlihat anggun.
Matanya melihat ke arah balkon sejenak sebelum mendudukkan diri di hadapan meja rias.
Tak lama ponselnya berdering. Bulan langsung mengambil ponsel dengan bentuk apel digigit itu dan langsung menjawab panggilan.
“Halo, Mam. Ada apa?” tanya Bulan langsung.
“Kami menunggu kalian di restoran. Jangan lama-lama.”
“Mami dan yang lain bisa sarapan lebih dulu. Mas Alfan belum bangun, Mam.” Bulan beralasan.
“Tidak ada penolakan, Bulan. Kami menunggu. Oh ya katakan pada Alfan, jangan memulainya lagi karena kita semua sudah menunggunya.” Terdengar ledakan tawa dari seberang panggilan.
“Okay, Mam.”
Bulan mendengus pelan dan menaruh ponselnya sebelum beranjak menuju balkon mencari suaminya.
Melihat posisi Alfan yang tidur seperti itu membuat Bulan merasa kasihan. Perlahan langkah kakinya mendekat dan duduk di sofa tunggal.
Manik cokelat miliknya menatap lelaki itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
“Mas Alfan, bangun.” Tangan Bulan menyentuh bahu suaminya dengan pelan.
“Hmm,” bergumam tapi tidak juga membuka mata.
Bulan akhirnya menepuk lengan itu sekali lagi dengan sedikit keras hingga sang empunya terkejut dan langsung membuka mata.
“Cepat mandi. Keluarga kita sudah menunggu di bawah. Jangan lama-lama,” ucap Bulan yang seketika membuat Alfan menoleh melirik jam di pergelangan tangannya.
“Iya.”
Keduanya turun bersama menuju restoran yang terletak di lantai dasar. Keduanya masih dalam kebungkaman masing-masing.
“Memang dasar pengantin baru. Jam segini baru bangun,” sindir Mama Silvi yang tak lain adalah ibunya Alfan.
Bulan tersipu. “Maaf Ma,” ucapnya.
“Tidak apa-apa. Mama dulu juga pernah muda.” Sambil terkekeh wanita paruh baya itu menggoda. “Bukankah begitu, Pa?” Mama Silvi menatap suaminya, Papa Andre.
Akhirnya mereka melakukan sarapan yang cukup telat karena harus menunggu pengantin baru yang terlambat datang. Namun tak ayal mereka memang menikmati kebersamaan itu.
Godaan dan candaan dilontarkan Mama Silvi dan Papa Andre kepada anaknya. Apalagi melihat mata mereka berdua yang jelas memiliki kantung mata membuat siapapun jelas tahu bahwa mereka berdua kurang tidur, namun tidak ada yang tahu alasan sebenarnya.
***
Pada akhirnya setelah melihat bagaimana dua keluarganya berbahagia atas pernikahan mereka, Bulan urung mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya.
“Berikan kesempatan pada pernikahan ini, Bulan. Kita pasti bisa menjalaninya.”
“Bagaimana dengan istrimu?” tanya Bulan.
“Aku yang akan mengatakan semuanya. Ini semua salahku,” jawabnya.
“Jika istrimu berarti untukmu, lalu apa artinya aku di antara kalian, Mas?” Suara Bulan kembali terdengar.
“Aku masih belajar menerima semua ini, Bulan.”
Pada akhirnya Bulan meminta waktu dan kesempatan untuk memikirkan ucapan Alfan, walaupun ia tidak yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Karena ia tahu bahwa sejatinya tidak ada wanita yang mau jika suaminya dibagi dengan wanita lain, termasuk dirinya. Walaupun hubungannya dengan Alfan belum menumbuhkan debaran dan getaran di hati, sejujurnya Bulan hanya menginginkan pernikahan sekali selama hidupnya.
“Tolong, jangan katakan apapun pada keluarga kita.”
Bulan mengangguk menyanggupi permintaan Alfan.
“Di depan semua orang, kamu adalah satu-satunya istriku.”
“Tapi pada kenyataannya, akulah istri keduamu.”
Bulan tersenyum miris.
“Sekali lagi, maafkan aku, Bulan. Akulah yang paling bersalah di sini,” sahut Alfan.
“Kamu memang bersalah.”
Alfan mengangguk.
“Kamu jahat, Mas.”
Alfan kembali mengangguk membenarkan ucapan Bulan.
Tangis Bulan kembali pecah. Kenapa kehidupan rumit ini harus menyapa dirinya? Apa kesalahannya hingga ia harus berada di titik ini.
“Maaf.” Hanya itulah yang mampu diucapkan Alfan atas rasa bersalahnya.
Ini benar-benar seperti mimpi buruk untuknya.
Ketika keinginan dan harapan tak sesuai dengan kenyataan, Bulan memilih berserah diri kepada sang pemberi kehidupan. Memohon dan berharap bahwa semua ujian yang datang padanya segera menemukan jalan terbaik.
“Ya Allah, jika memang takdirku harus seperti ini. Hamba mohon kuatkan diri ini dan besarkan hati hamba untuk menerima segala sesuatu yang sudah terjadi.”
“Amin.”
Bulan terisak pelan ketika ia baru saja menyelesaikan sholat di sepertiga malam.
Manusia hanya bisa berencana, tapi kuasa Tuhan tetaplah yang utama. Dan di atas sajadah ini Bulan memohon ampun atas segala dosa-dosanya dan memohon yang terbaik untuk hidupnya.
Jika memang ini takdir yang telah digariskan untuknya. Semoga ia sabar dan tegar dalam menjalaninya. Satu kata sederhana yang sulit untuk dilakukan.
Sudah tiga hari tiga malam Bulan dan Alfan menginap di hotel. Sudah dua malam pula Bulan meminta petunjuk pada sang pemberi kehidupan. Hingga pada akhirnya ia memilih bertahan menjadi istri seorang Alfan Fatih Herlambang.
Istri yang sah secara hukum dan agama. Perempuan pertama dan satu-satunya yang diketahui adalah istri dari Alfan Fatih Herlambang. Namun pada kenyataannya, ia kembali harus tertampar akan statusnya bahwa ia hanyalah yang kedua.
Siap ataupun tidak. Ia harus berbagi suami dengan perempuan yang diketahui bernama Zahra.
“Terima kasih, Bulan.” Alfan menatapnya dengan ketulusan.
Bulan mengangguk.
“Pulang sekarang?” tanya Alfan.
“Mampir ke rumah dulu. Aku mau ngambil barang-barang keperluanku.”
Alfan mengangguk.
“Kamu tidak ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Alfan membuka obrolan.
Bulan menggeleng. “Tidak, terima kasih,” ucapnya.
Alfan menyeret satu koper berukuran sedang yang berisi pakaiannya dan Bulan selama menginap di hotel. Setelah cek out, mobil yang dikendarai Alfan melaju membela padatnya kota Jakarta yang tidak pernah tidur. Apalagi ketika siang hari seperti ini, kemacetan menjadi hal yang biasa terjadi.
Mobil yang dikendarai Alfan sudah masuk ke dalam halaman rumah yang sangat luas bergaya eropa dengan pilar-pilar besar sebagai ciri khasnya.
Rumah milik keluarga Latief ini memang berbeda dari yang lain karena dibangun ulang oleh pemiliknya. Juga menjadi salah satu rumah yang sangat luas dan besar dengan halaman yang luas karena menggabungkan empat kavling untuk mendapatkan rumah impian.
Rumah yang indah dan mewah dengan mobil berbagai merk berjajar rapi di garasi.
Bulan turun diikuti Alfan. Mereka berdua langsung masuk dan disambut dengan asisten rumah tangga yang sedang membersihkan pajangan dinding di ruang tamu.
“Non Bulan sudah kembali,” sapa wanita paruh baya itu sambil melempar senyum tipis.
Bulan mengangguk dan balas tersenyum.
“Selamat datang, Den Alfan.”
“Terima kasih, Bi.”
“Non Bulan dan Den Alfan mau makan siang? Bibi siapkan ya,” tawarnya kepada sepasang pengantin baru tersebut.
Alfan mengangguk. “Terima kasih, Bi.”
“Sama-sama, Den Alfan.”
Tidak perlu ditanya kemana kedua orang tua Bulan. Sudah pasti mereka sedang bekerja dan akan pulang larut malam untuk tidur dan kembali di pagi hari.
Entah apa yang kedua orang tuanya cari hingga lupa waktu bahkan terkadang sampai lupa pada anak sendiri hanya untuk mengejar materi yang bahkan lebih dari cukup mereka miliki.
“Boleh aku jalan-jalan di sekitar sini?” tanya Alfan membuyarkan lamunan wanita cantik itu.
Bulan mengangguk.
“Mau menemani?” tanya Alfan.
Banyak hal yang ingin Alfan ketahui tentang Bulan, tapi entah mengapa ia tak bisa memulainya.
Bulan menggeleng. “Aku harus membereskan keperluanku, Mas.”
“Ya sudah.”
Bulan menuju kamarnya untuk mengambil keperluannya sedangkan Alfan berkeliling rumah.
Alfan dan Bulan duduk di meja makan menyantap makanan yang telah disediakan.
Sesekali Alfan menoleh ke arah istrinya yang makan dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian.
“Kenapa melihatku?” tanya Bulan membuat Alfan tersedak karena merasa ketahuan.
Uhuk! Uhuk!
“Hati-hati, Mas.” Bulan menyodorkan segelas air ke arah suaminya.
“Terima kasih, Bulan.”
Hingga pada sore harinya, Alfan menemui Bulan yang saat itu sedang duduk di samping kolam renang. Wajah wanita itu terlihat seperti kehilangan banyak semangat. Ada raut kesedihan dan luka yang tersorot dari manik matanya.
“Bulan,” panggilnya membuat wanita itu menoleh.
“Ya,” sahutnya dengan pelan. “Jika butuh sesuatu kamu bisa memintanya pada bibi.”
Alfan tertawa. “Aku ingin melihat senyum di wajahmu. Siapa yang bisa membantuku melakukannya?” Terdengar manis tapi sayang mulut itu juga yang telah tertutup rapat menutupi dusta.
“Mencoba merayuku?” tanya Bulan dengan datar. “Sayangnya aku bukan wanita yang mudah melupakan,” sambungnya dengan wajah menunduk memandangi pantulan dirinya di permukaan air.
“Aku hanya sedang berusaha mengakrabkan diri. Kita harus saling mengenal,” ucap Alfan.
“Maybe not now. Kita masih sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, Mas.” Bulan menghembuskan napas pelan diiringi desahan lirih dari bibirnya.
Hening untuk beberapa saat sampai Bulan memilih mengakhiri kegiatannya. Ia menoleh menatap Alfan sekilas sebelum meninggalkan kolam dengan tatapan mata Alfan yang masih mengikutinya.
“Aku bersalah. Bagaimana aku bisa menebus semuanya?” lirihnya sambil tertunduk.
To Be Continue ….
Daftar bab
Total 30 bab
/0/6736/coverbig.jpg)
/0/3778/coverbig.jpg)
/0/15822/coverbig.jpg)
/0/6728/coverbig.jpg)
/0/3367/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)