Lewati ke konten utama

Alissa POV:

Dinda yang berada di dalam pelukan Dara, sontak mendongak, matanya membesar.

"Rumah ini milik Tante Alissa?" tanyanya, suaranya nyaring.

Dara segera membekap mulut Dinda.

"Dinda, diam!" bisiknya, menatapku dengan tatapan panik.

Dara menatapku lagi, air mata mulai menggenang di matanya.

"Alissa, apa yang kamu bicarakan?" katanya, suaranya bergetar.

"Kamu tahu kan, aku tidak pernah menginginkan apa-apa darimu."

"Rumah ini adalah rumahmu."

"Aku hanya ingin kita semua hidup damai."

"Aku tidak mau merusak rumah tangga kalian."

"Aku akan pergi."

Dara mencoba melangkah mundur, seolah ingin pergi.

Tapi Tristan segera meraih lengannya.

"Dara, jangan pergi!" katanya, suaranya penuh keputusasaan.

Dara menatap Tristan, lalu menatapku.

Dia melemparkan dirinya ke pelukan Tristan, menangis tersedu-sedu.

Tristan memeluknya erat-erat, matanya menatapku dengan tatapan menuduh.

Aku menatap mereka berdua, hatiku terasa dingin.

Tristan menatapku, lalu melepaskan Dara.

Dara menatapku dengan mata penuh kebencian, lalu kembali menatap Tristan.

"Maafkan aku, Tristan," katanya, suaranya bergetar.

"Aku tidak bermaksud mengganggu."

"Aku tahu kamu sedang banyak masalah."

"Aku seharusnya tidak datang."

Dara menangis lagi, kali ini lebih keras.

Dinda berlari ke arah ibunya, memeluknya erat-erat.

"Mama, jangan menangis!" katanya, matanya berkaca-kaca.

"Dinda tidak mau Mama sedih."

Aku hanya berdiri di sana, menatap mereka bertiga.

Seperti menonton sebuah drama.

Dara dan Dinda mungkin pantas mendapatkan penghargaan Oscar untuk akting mereka.

Tristan menatap Dara dengan mata penuh kasih.

Lalu, dia menatapku dengan tatapan marah.

"Apa lagi yang kamu inginkan, Alissa?" bentaknya.

"Aku yang meminta Dara dan Dinda untuk tinggal di sini."

"Rumah mereka sedang direnovasi karena atapnya bocor."

"Lagipula, rumah ini besar. Ada banyak kamar kosong."

"Kenapa kamu tidak bisa berdamai dengan Dara?"

"Kamu tidak lihat betapa sedihnya dia?"

"Kamu tidak lihat betapa ketakutan Dinda?"

"Kamu benar-benar kejam!"

Aku tidak bermaksud untuk berdebat.

Aku hanya ingin pergi.

Tapi kata-kata Tristan membuatku marah.

"Konyol," kataku, suaraku datar.

Aku tertawa.

"Aku hanya mengatakan satu kalimat."

"Dan drama ini, kalian mau bilang ini salahku?"

"Kalian berdua, ibu dan anak, pantas mendapatkan penghargaan drama terbaik."

"Tapi sudahlah."

"Aku tidak peduli lagi."

"Aku akan pergi."

Tristan menatapku dengan bingung.

Dia tidak tahu apakah aku serius atau hanya menggertak.

Dia tidak tahu apakah aku benar-benar tidak peduli, atau hanya berakting.

Aku tersenyum padanya, lalu mendorongnya.

Aku menyeret koperku menuju pintu.

Tristan terkejut.

Dia tidak menyangka aku akan benar-benar pergi.

Dia tidak menyangka aku akan meninggalkannya.

Tristan menatapku dengan mata penuh kepanikan.

Dia mengingat kejadian enam bulan yang lalu.

Dara mengalami kecelakaan kecil dan rumahnya butuh perbaikan.

Dinda, yang saat itu berusia delapan tahun, menelepon Tristan, menangis.

"Om Tristan, Dinda takut sendirian," katanya.

"Mama sedang di rumah sakit. Dinda tidak mau sendirian di rumah."

Tristan, tanpa bertanya kepadaku, mengajak Dara dan Dinda untuk tinggal di rumah kami.

Aku marah.

Aku membanting semua barang di rumah.

Aku mengancam akan melompat dari lantai dua.

Tristan terpaksa mengalah.

Dia mengizinkanku untuk menendang Dara dan Dinda keluar.

Tapi dia tidak pernah memaafkanku.

Dia mendiamkanku selama dua bulan.

Aku mencoba untuk meminta maaf, tapi dia tidak mau mendengarkanku.

Sampai suatu hari, Rehan sakit.

Dia membutuhkan operasi darurat.

Tristan melarangku untuk menjenguk Rehan.

Dia bilang, aku adalah sumber masalah.

Dia bilang, aku harus menebus kesalahanku.

Aku memohon padanya, berlutut di kakinya.

Aku bilang, aku akan melakukan apa pun yang dia inginkan.

Aku hanya ingin melihat putraku.

Dia mengizinkanku untuk melihat Rehan, tapi dengan syarat.

Aku harus meminta maaf kepada Dara.

Aku harus berjanji untuk tidak pernah lagi mengganggu Dara.

Aku setuju.

Sejak saat itu, aku menjadi patuh.

Aku melakukan semua yang Tristan inginkan.

Aku tidak pernah lagi berdebat dengannya.

Aku tidak pernah lagi menentangnya.

Aku membiarkan Dara dan Dinda datang kapan pun mereka mau.

Aku membiarkan Tristan dan Rehan lebih menyayangi Dara.

Tristan senang.

Dia pikir, dia berhasil mengalahkanku.

Dia pikir, aku sudah kembali menjadi Alissa yang dulu.

Alissa yang penurut, yang tidak pernah mengeluh.

Tapi dia salah.

Hatiku sudah mati.

Perasaanku padanya sudah tidak ada lagi.

Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk pergi.

Dan waktu itu, adalah sekarang.

"Alissa, kamu mau ke mana?" teriak Tristan.

Aku menatapnya dengan tatapan dingin.

"Aku akan pergi."

Dara tiba-tiba menjerit.

"Dinda!"

Dinda pingsan.

Rehan panik.

"Ayah, cepat bawa Dinda ke rumah sakit!" teriak Rehan.

"Cepat!"

Tristan segera mengangkat Dinda, lalu berlari keluar.

Rehan mengikutinya.

Mereka tidak menoleh ke arahku.

Mereka tidak peduli padaku.

Aku hanya berdiri di sana, sendirian.

Hujan mulai turun.

Aku menyeret koperku keluar dari rumah itu.

Hujan semakin deras, membasahi tubuhku.

Aku mencoba memanggil taksi, tapi tidak ada yang berhenti.

Aku berjalan di tengah hujan, sendirian.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depanku.

Tristan.

"Masuk, Alissa!" teriaknya.

Aku tidak menghiraukannya.

Aku terus berjalan.

Tristan membanting setir.

"Alissa, sampai kapan kamu mau drama seperti ini?!" gertaknya.

Ponselku berdering.

Ibuku.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia menelepon lagi.

Aku mengangkatnya.

"Alissa, kamu di mana?" tanya ibuku, suaranya penuh amarah.

"Tristan bilang kamu ingin bercerai?"

"Kamu benar-benar tidak tahu malu!"

"Kamu ingin menghancurkan nama baik keluarga kita?"

"Jika kamu berani meninggalkan Tristan, jangan pernah menganggap kami orang tuamu lagi!"

Aku tersenyum.

"Ibu, kalau begitu, anggap saja aku tidak punya orang tua lagi," kataku, suaraku datar.

"Dan saya tidak punya ibu."

"Saya tidak punya ayah."

"Anggap saja saya tidak punya keluarga."

"Saya bukan lagi Alissa putri kalian."

"Saya adalah Alissa."

"Mulai sekarang, panggil saja saya Alissa."

"Bukan Alissa anak Ibu dan Ayah."

Itulah semua yang tersedia saat ini.

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 10 bab

  1. Bab 1Bab 1
  2. Bab 2Bab 2
  3. Bab 3Bab 3

Terbitan baru