/0/29147/coverbig.jpg)
Bab 2 Aku Bukan Suamimu
"Aku bilang, kamu tidur dengan pria lain saat itu. Orang yang tidur denganmu itu bukan aku. Dan alasan mengapa aku memanggilmu datang ke sini hari ini adalah agar kamu melakukan hal yang sama lagi, "jawab Leon dengan santai.
'Kamu benar-benar pria yang menjijikkan, Leon.
Mengapa kamu masih menikah denganku jika kamu bukan pria yang tidur denganku malam itu?' Devita berpikir dalam hatinya sendiri.
Kata-kata terakhir Leon terus berputar di dalam benaknya seperti perekam.
"Kakak, jika kamu setuju untuk pergi dan menghibur tamu itu Aku berjanji dan meyakinkanmu bahwa kami akan memperlakukanmu dengan baik dan adil jika Tuan Pradipta bersenang-senang malam ini. Leon bahkan akan memberikan tunjangan setelah perceraianmu. Tetapi aku khawatir bahwa kamu harus kehilangan semua bagianmu jika kamu tidak mau melakukan hal ini." Chandia tahu kelemahan Devita, jadi dia mengatakan sesuatu untuk menusuk Devita di tempat yang sakit ini. "Sekarang aku sedang hamil anak Leon. Dia perlu menghemat uang untuk kita. Kamu sendiri tahu kalau membesarkan anak-anak itu mahal."
Devita menatap perut Chandia dengan tatapan kosong begitu dia menyebut anak itu.
Berita di TV beberapa waktu lalu sempat menyebutkan bahwa Chandia sedang hamil.
Tetapi Devita tidak terlalu memperhatikannya ketika dia baru datang karena perhatian utamanya adalah Leon. Dia memasang senyum pahit di wajahnya.
'Leon sedang memaksaku untuk tidur dengan pria lain, jika tidak begitu dia akan menceraikanku. Chandia sedang mengandung anaknya,' pikir Devita berulang-ulang di dalam benaknya.
Dia tidak bisa percaya bahwa Leon ternyata orang yang begitu kejam. Dia tidak hanya membuangnya begitu saja di depan Chandia, dia bahkan mengoleskan garam ke lukanya.
"Leon, kamu benar-benar orang yang brengsek! Kembalikan anakku padaku." Devita hampir putus asa ketika memikirkan anaknya yang sudah hilang. Dia menyerang Leon dengan histeris.
Dia sangat ingin membunuhnya sekarang.
"Dasar kamu perempuan cerewet!" Leon menjambak rambut Devita dan menamparnya dengan jijik tertulis di seluruh wajahnya. "Apakah kamu pergi atau tidak? Aku tidak pernah menyentuhmu selama lima tahun terakhir ini. Jangan bilang padaku bahwa kamu tidak menginginkan seorang pria sekarang"
Leon menamparnya begitu keras hingga mulut Devita mulai mengeluarkan darah.
Rasa pemberontakan tiba-tiba melonjak di dalam hatinya. Devita menatapnya dalam-dalam dan berkata dengan tegas, "Tidak, aku tidak akan pergi. Aku lebih baik mati daripada membiarkanmu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kembalikan anakku padaku. Kamu adalah binatang, Leon. Cepatlah kembalikan Sam padaku sekarang !"
Leon tidak tahan dengan teriakan Devita, jadi dia membekap mulutnya dengan tangan besarnya. Devita mencoba membuka mulutnya untuk berteriak, tetapi dia merasakan bau obat yang kuat menembus lubang hidungnya.
"Aku akan memberimu pelajaran jika kamu tidak ingin patuh pada ucapanku. Kirim dia ke sana dan biarkan dia merasa bahwa hidup lebih buruk daripada mati."
Devita mencoba untuk melawan, tetapi perlahan-lahan dia kehilangan kesadarannya sampai semua yang ada di hadapannya menjadi gelap.
Dia merasa sangat lelah
kepanasan.
Devita mendengar pintu terbuka dalam kegelapan, dan udara dingin seketika masuk ke dalam ruangan. Terdengar langkah kaki yang mantap dan kuat yang semakin dekat dengannya.
"Sayang?"
Dia sendiri tidak yakin apakah dia hanya bermimpi.
Tapi dia tahu bahwa Leon telah berbohong padanya. Leon tidak menjual anaknya kepada orang lain.
Leon adalah ayah kandung Sam. Sam adalah buah hati mereka berdua.
Leon hanya sedang mempermainkan dengannya.
Sosok tinggi dan ramping berjalan masuk dan berdiri di depan Devita. Aroma mint dari tubuhnya memberinya perasaan yang menyenangkan.
Devita memeluk pria itu erat-erat dan mengusap pipinya ke dadanya.
Rasanya begitu nyaman.
"Suamiku, apakah aku sedang bermimpi?" dia bertanya.
Zack Pradipta mengerutkan keningnya sambil menatap wanita yang melemparkan dirinya ke arahnya dan berkata, "Aku bukan suamimu."
"Ya kamu adalah suamiku." Devita menatap wajah tampannya yang dingin dalam-dalam. "Suamiku, jangan tinggalkan Sam dan aku lagi, oke? Kamu tidak boleh meninggalkanku sendiri di sini seperti yang dilakukan Sam. Apakah kamu tahu betapa aku merindukanmu?"
"Aku sudah bilang aku bukan suamimu" Zack merasa semakin kesal, jadi dia mencoba menarik lengan wanita yang mengelilinginya itu, ingin mendorongnya menjauh.
Tapi Devita tidak mau melepaskan cengkeramannya. Dia malah melingkarkan lengannya di lehernya dan menciumnya dengan penuh gairah.
Zack tidak menyangka wanita ini akan bertindak seperti itu. Devita bahkan mendorongnya ke belakang hingga punggungnya membentur dinding.
Dia bergelantungan padanya seperti pohon anggur, dan bibirnya terasa sangat manis.
Zack tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Keesokan paginya, Devita terbangun dalam keadaan linglung.
Dia tercengang ketika dia melihat sekelilingnya yang aneh. Dia tiba-tiba menyadari bahwa apa yang terjadi tadi malam bukanlah mimpi saat dia melihat pakaian berserakan di lantai.
Leon dan Chandia benar-benar mengirimnya ke kamar seorang pria asing.
Devita merasa sangat putus asa. Dia tidak pernah berpikir bahwa pria yang dia cintai selama bertahun-tahun lamanya akan menjadi pria yang paling dia benci sekarang.
Dia ingin bertemu dengan Leon sekarang.
Dia harus membuat semuanya jelas dengan pria itu.
Devita bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaiannya, dan pergi dengan tenang terlepas dari rasa sakit yang dia rasakan. Dia terlalu berhati-hati untuk tidak membangunkan pria di sisi lain tempat tidur itu meskipun dia bahkan tidak melirik pria itu.
Devita sudah pergi ketika Zack terbangun beberapa saat kemudian. Dia menyentuh bagian ranjang di sampingnya, dan ranjang itu sudah dingin. Wanita itu telah pergi untuk waktu yang cukup lama.
Zack bangkit perlahan. Sinar matahari pagi yang mengintip melalui jendela menyinari wajahnya yang tampan, membuatnya terlihat lebih menonjol. Dia mengerucutkan bibirnya yang tipis dan menarik napas dalam-dalam penuh penyesalan.
Dia mengambil ponselnya dari sakunya dan memutar sebuah nomor.
"Hendra, periksa siapa yang masuk ke kamar hotelku kemarin malam."
Setelah mengatakan ya, Hendra ragu-ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Tuan, Tuan Muda Budi menghilang."
Wajah Zack langsung berubah menjadi gelap. Dia mengambil bajunya di lantai dan memakainya sambil berjalan keluar ruangan dengan cepat. "Apa yang telah terjadi?"
"Dia meninggalkan selembar surat yang mengatakan bahwa dia akan mencari ibunya."
Mata Zack menyipit mendengar informasi itu.
Hendra bisa merasakan dinginnya Zack dari ujung ponsel. Dia berkeringat dingin dan segera mengakui kelalaiannya. "Tuan, ini semua adalah salah saya. Saya tidak menjaganya dengan baik dan benar. Tolong hukum saja saya."
"Temukan dia sekarang juga! Berikan lokasi spesifiknya dalam sepuluh menit."
"Baik Tuan."
Daftar bab
Total 177 bab
/0/3831/coverbig.jpg)
/0/19692/coverbig.jpg)
/0/5957/coverbig.jpg)
/0/27988/coverbig.jpg)
/0/30878/coverbig.jpg)
/0/13311/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)