/0/12435/coverbig.jpg)
/0/4762/coverbig.jpg)
Bab 3 UKS
Aksa berbelok ke koridor menuju tempat fasilitas sekolah berada. Seperti, perpustakaan, lab komputer, lab sains, green house, dan UKS. Tempat populer yang selalu ramai dikunjungi kebanyakan murid disana. Selain dekat dengan kantin sekolah, area itu banyak ditumbuhi pepohonan rindang dan sebuah taman kecil yang terdapat beragam jenis bunga di wilayah tropis.
Saat ini, pendidikan juga sedang menggalakan program adiwiyata sekolah yang menuntut penghematan sumber daya, dan penjagaan lingkungan sekolah. Bahkan sampah yang tidak bisa terurai seperti sampah anorganik akan didaur ulang menjadi kerajinan tangan.
Dari belakang, Ran mengekor Aksa yang kini memasuki UKS sekolah. Kondisi UKS sekolah kosong, dan tidak ada guru piket yang biasanya menjaga ketika jam pelajaran berlangsung.
Ketika Ran melangkah masuk ke dalam UKS, langsung tercium bau karbol yang menyengat penciumannya. Karbol sendiri adalah pembersih non detergen yang mengandung disenfektan. Cairan ini hampir mirip dengan sabun pembersih lantai, namun karbol memiliki kegunaan lebih banyak terutama mencegah perkembangbiakan kuman.
Biasanya cairan ini digunakan untuk membersihkan dapur, kamar mandi atau kandang hewan peliharaan. Karbol sendiri juga digunakan di rumah sakit. Itu sebabnya rumah sakit memiliki bau yang khas.
Ran memperhatikan setiap sudut ruangan dan perabotan yang ada di dalam UKS dengan kagum. Ia sendiri memang jarang ke UKS. Pertama kalinya saat masa orientasi siswa pada pengenalan lingkungan sekolah. Setelahnya ia hanya lewat di depan UKS ketika akan menuju kantin sekolah.
Sekalipun sekolah Ran bukan termasuk dalam sekolah yang bergengsi, fasilitas yang tersedia cukup lengkap. Penataan ruangannya juga rapi dan indah karena terdapat kerjainan tangan murid yang dipajang di sana.
Tiga ranjang UKS diletakkan di sebelah kanan ruangan yang dibatasi oleh gorden penutup pada setiap bed. Meja periksa diletakan tak jauh dari bed UKS. Di sebelah meja periksa ada timbangan dan stature meter atau pengukur tinggi badan. Di depan bed UKS terdapat lemari tempat menyimpan obat - obatan. Obat – obatan itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu obat luka luar dan untuk diminum. Tiga tandu ditumpuk rapi, di sebelah lemari tak jauh dari pintu untuk memudahkan saat keadaan darurat terjadi. UKS sendiri juga difasilitasi ac untuk penyejuk ruangan.
Aksa meletakkan buku dan tumpukan soal yang ia bawa di meja UKS. “Cari tempat duduk yang nyaman,” ujarnya pada Ran.
Ran berjalan menghampiri bed yang paling dekat dengan meja UKS. Ia duduk di ranjang UKS dengan hati – hati, karena lututnya akan sakit jika ditekuk. Kedua matanya mengikuti tubuh Aksa yang sedang memilih obat. Dalam hati ia merasa bersyukur karena tidak diberi hukuman oleh guru itu, melainkan mendapat pertolongan untuk lukanya.
Dengan gugup, Ran membuang pandangan ke segala arah seolah tidak terjadi apa – apa, ketika Aksa berjalan kearahnya.
Aksa meletakan nampan di sebelah Ran, sembari menarik kursi ke dekat bed yang muridnya itu duduki.
Ran hampir berteriak ketika merasakan cairan alkohol yang Pak Aksa tuangkan pada lukanya.
“Wanita tidak boleh meninggalkan bekas luka ditubuhnya. Jika ada luka, kamu harus rawat dengan baik jangan sembarangan, agar tidak meninggalkan bekas,” ujar Aksa sembari mengobati luka Ran dengan telaten dan hati – hati.
Kalimat yang baru saja Pak Aksa ucapan menghangatkan hati Ran. Mendengar kalimat itu, membuatnya teringat pada Venus. Seorang anak laki – laki yang pernah menjadi sahabatnya kala ia masih tinggal di panti asuhan.
Ran tidak punya teman selain Venus, karena dulu ketika ia pertama kali masuk panti asuhan kepribadiannya sangat buruk. Anak temperamental, penyendiri dan murung. Venus merupakan satu – satunya anak yang berani mengajaknya bicara. Venus juga telah mengembalikan senyumnya. Senyuman yang telah lama hilang akibat trauma atas tragedi yang menimpa keluarganya delapan tahun lalu. Venus juga yang mengajarinya tentang rasa syukur. Ia ingat ketika Venus menceritakan kisah hidupnya.
Mengingat tentang Venus, tiba – tiba rasa sesak menggerogoti hati Ran dan membuatnya sesak nafas. Air mata mulai turun membasahi pipinya tanpa sempat ia kontrol. Ia sangat merindukan Venus. Ia sudah berpisah dengan Venus sangat lama, karena Venus lebih dulu diadopsi. Lima tahun lalu sebelum ia diadopsi oleh Nenek Mariyati, Venus masih sering mengiriminya surat atau postcard ke panti asuhan untuk memberi kabar. Namun sekarang ia tidak pernah lagi mengetahui kabar Venus, seakan Venus menghilang.
Semakin ingatannya mengalir, Ran tak kuasa menahan isak tangisnya, melupakan keberadaannya saat ini dan siapa orang di depannya.
Aksa mendongakkan kepala menatap Ran ketika mendengar isak tangis Ran. “Ran ada apa? Apakah begitu sakit?” ujarnya dengan khawatir.
Ran menggelengkan kepala, lalu menutup wajahnya. Ia tetap menangis.
Pak Aksa kebingungan bagaimana harus merespon keadaan itu. Melihat tangisan Ran, sepertinya itu bukan disebabkan oleh luka di kakinya, tetapi ada masalah lain.
“Ran jika memang ada yang mengganggu dirimu, kamu bisa bercerita. Atau perlu saya panggilkan guru BK wanita agar kamu lebih nyaman?” kata Aksa dengan lembut.
Ran menggeleng, lalu berkata, “Ji-jika sa-saya sudah menangis, sa-saya susah berhenti. Saya mohon maaf."
Aksa bangkit dari duduknya sembari membereskan obat – obatan yang ia bawa untuk dikembalikan di almari, dan membuang kapas bekas darah Ran. Kemudian ia menuju ke almari penyimpanan makanan dan minuman. Lantas ia mengambil botol air mineral dan berjalan kembali ke tempat Ran berada.
“Kalau begitu, ini minum dulu,” ujar Aksa sembari menyodorkan botol dengan tutup yang sudah ia buka.
“Terimakasih Pak,” jawab Ran sembari menerima botol itu dan meminum airnya, berharap tangisnya berhenti.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Aksa kemudian.
Pertanyaan Aksa membuat Ran malu. Ia menyesal telah menangis barusan, karena jika ditanya alasannya ia tidak bisa menjelaskan itu. Jika bercerita, secara tidak langsung ia akan menceritakan masalah pribadinya. Ia bukan tipe orang yang dengan mudah berbagi masalah pribadi pada orang lain, kepada sahabatnya sekalipun. Bahkan sampai detik ini hanya Nenek Mariyati dan Venus yang tahu setengah dari kisahnya.
Ran segera menghapus air matanya dengan tangan dan mengatur nafas agar emosinya stabil. Kemudian ia menggendong tas ranselnya kembali sembari bangkit dari duduknya.
“Saya mohon maaf atas kejadian barusan. Namun saya tidak bisa menjelaskan apa –apa. Terimakasih sudah membantu saya hari ini. Saya mohon agar bapak tidak mengingat kejadian barusan. Sekali lagi maaf, saya sudah merepotkan bapak,” jawab Ran.
“Baiklah, jika kamu sudah merasa baikan tolong bawa soal – soal yang tadi saya bawa ke kelas kamu. Bagikanlah pada teman kelas, kumpulkanlah sore ini sepulang sekolah. Kamu bertanggung jawab atas tugas itu kumpulkan kepada saya nanti, saya tunggu di ruang guru. Pagi ini saya tidak mengajar karena ada keperluan, jadi tolong kendalikan kondisi kelas.”
Tanpa sadar, kedua sudut bibir Ran terangkat membentuk bulan sabit. Ia sangat senang karena jam pertama ini tidak akan ada pelajaran. Setidaknya ia bisa menghabiskan waktu kosong itu untuk mengembalikan suasana hati.
***
Daftar bab
Total 19 bab
/0/5957/coverbig.jpg)
/0/2950/coverbig.jpg)
/0/30878/coverbig.jpg)
/0/21475/coverbig.jpg)
/0/13413/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)