/0/2927/coverbig.jpg)
/0/2036/coverbig.jpg)
Bab 2 Kusuma yang Sulit dipahami
Setelah mendaratkan ciuman di bibir Kusuma, Dewi segera mundur. Lalu ia kabur dari lorong dan berlari kembali ke kamar.
"Dewi!" Kirani memekik sambil menutup pintu. "Kamu luar biasa sekali!" katanya dengan bangga, sambil menepuk punggung Dewi. Terengah-engah setelah melarikan diri, Dewi menghela napas lega.
Sementara itu, wajah Kusuma berubah menjadi gelap setelah mendapat ciuman tak disangka itu. Ia berdiri terpaku di tempat. Tetapi ia dapat melihat gadis itu menghilang ke dalam Kamar 501. Pria itu hendak meminta salah satu pengawalnya untuk membawa Dewi keluar dari kamar dan melemparkannya ke laut. Namun suara telepon yang tiba-tiba berdering menghancurkan rencananya.
Kesal karena rencananya terganggu, Kusuma menjawab panggilan itu. Setelah mendengarkan selama beberapa detik, ia membentak, "Baiklah. Aku akan segera ke sana." Kusuma menekan tombol untuk mengakhiri panggilan, kemudian melirik Kamar 501. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan amarahnya. Ada keadaan darurat di perusahaan miliknya, yang membutuhkan perhatian segera.
"Anggap saja hari ini adalah hari keberuntunganmu, gadis kecil. Kamu lebih baik berdoa agar kita tidak pernah bertemu lagi. Lain kali, kamu tidak akan lolos jika memprovokasiku," gumam Kusuma sambil berbalik untuk pergi.
Di dalam Kamar 501, Dewi mengusap pipinya yang merah dan merasakan pipinya terbakar karena malu. Ia tidak pernah melakukan hal segila ini dalam hidupnya. Jantung Dewi berdebar kencang, pikirannya campur aduk. 'Ya Tuhan! Tadi itu adalah ciuman pertamaku, dan aku bahkan tidak tahu siapa pria itu!
Apakah tadi aku selingkuh dari suamiku?
Ya sudahlah! Aku sudah menandatangani perjanjian perceraian beberapa hari lalu.
Tidak masalah jika Kusuma tidak mau menandatanganinya. Secara hukum, pasangan yang telah berpisah selama lebih dari dua tahun dianggap telah bercerai secara otomatis.
Aku belum pernah melihatnya sama sekali dalam pernikahan kami selama tiga tahun. Jadi mungkin secara hukum, aku bukan lagi istrinya. Berarti, aku tidak mengkhianati suamiku.
Apalagi itu hanya sebuah ciuman ... ' Dewi lupa ada teman-teman di sekitarnya.
Tiba-tiba Kirani berteriak, "Ya ampun!" Semua teman sekelasnya melompat karena teriakannya.
"Kamu kenapa Kirani? Kamu membuatku takut setengah mati!" Kristina Latif, yang hendak minum anggur, menumpahkan isi gelasnya karena teriakan Kirani. Ia menepuk dada untuk menenangkan diri.
Dengan penuh semangat, Kirani menghampiri Dewi yang masih tenggelam dalam pikirannya, lalu mengguncang bahunya.
"Apakah kamu tidak tahu siapa pria itu?" ia bertanya. Objek lelucon Dewi adalah pria idaman setiap wanita. Pria itu masih muda, tampan, kaya, dan berkuasa, dan ia memiliki perusahaan multinasional yang besar. Orang-orang memanggilnya Tuan Hadi sebagai tanda hormat.
"Jadi, kamu tahu siapa dia?" Dewi bertanya seraya mengambil segelas sampanye dan meneguknya.
"Kusuma Hadi!" Kirani meneriakkan nama itu sambil menatap wajah gadis yang sedang berulang tahun. Nama itu seharusnya menjelaskan identitas pria itu, jadi ia ingin memastikan Dewi mendengarnya.
Sampanye keluar dari mulut gadis itu saat Kirani menyebut nama Kusuma. Dewi mulai terbatuk-batuk, tidak menyadari bahwa ia telah menyemburkan sampanye ke wajah teman sekamarnya. Alih-alih marah setelah dihujani sampanye tepat di wajahnya, Kirani malah terperangah.
Bahkan Jaya ikut terperangah ketika mendengar nama itu. "Tuan Hadi? Tomboi, aku pikir kali ini kamu telah berbuat kesalahan besar. " katanya. Jaya adalah putra manajer umum sebuah perusahaan keuangan di Kota Yoya, dan nama Kusuma terdengar di telinganya seperti gemuruh.
Nama yang tak asing itu juga membuat Kristina menjerit. "Dewi, kamu mencium Tuan Hadi! Ahhh. Biarkan aku menciummu karena itu seperti mencium Kusuma secara tidak langsung," goda Kristina.
Dewi membersihkan wajah temannya dengan tisu, tetapi terlalu terkejut untuk meminta maaf.
Ketika Kristina maju ke arahnya, Dewi melemparkan tisu ke meja dan berlari secepat mungkin.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Kirani, apakah kamu memanggil namaku ketika aku berada di lorong?" tanya Dewi. Ia merinding memikirkan kemungkinan itu. 'Aduh! Bagaimana jika Kusuma ingat namaku?'
Kirani yang bersemangat mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya. lalu ia menjawab dengan nada marah, "Ya, aku tadi memanggil namamu. Jadi hal kecil ini yang membuatmu cemas? Aku tahu, mencium Tuan Hadi akan membuat hatimu berdebar. tapi sikapmu sekarang sedikit berlebihan, kan?" Ia mengutuk Dewi dengan pelan, 'Dasar anak nakal!
Ya Tuhan! Wajahku! Dan rambutku! Ada sampanye di mana-mana!' Dewi menepuk lengan Kirani untuk menghibur sekaligus meminta maaf. Tiba-tiba ia berkata, "Kalian bersenang-senanglah. Aku harus pergi sekarang."
Setelah ia selesai berpamitan, gadis yang sedang berulang tahun itu meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Semua orang menyaksikan sosok Dewi yang semakin jauh dengan ekspresi terkejut.
Semua temannya memikirkan hal yang sama. Apa yang akan Dewi lakukan, mungkinkah ia akan mengejar Tuan Hadi? Ia benar-benar sudah gila! Mereka semua mendengar ada banyak wanita yang mengejar Kusuma. Untuk menyingkirkan wanita-wanita tersebut, Kusuma akan meminta anak buahnya untuk menelanjangi sang wanita lalu membuangnya ke jalan. Melihat kemungkinan yang akan terjadi, mereka semua memiliki ide yang sama untuk menghentikan Dewi menemui Kusuma.
Sebagian besar dari teman-temannya berlari keluar ruangan, berharap untuk mencegah Dewi dari apa pun yang ia rencanakan.
Tetapi mereka terlambat, gadis itu tidak bisa ditemukan.
Begitu Dewi melangkah keluar dari bar, ia memanggil taksi dan meminta sopir untuk membawanya ke vila tempat ia tinggal.
'Aku harap Kusuma tidak mengenaliku dan tidak akan datang ke vila malam ini. Kalau tidak, ia mungkin berpikir aku menyesal telah meminta cerai, dan mencoba mendapatkan perhatiannya dengan ciuman tadi.'
Dewi terus memikirkan peristiwa yang ia alami sambil bersandar di kursi.
Setelah mereka menikah tiga tahun lalu, Kusuma menugaskan Panji untuk mengurus makanan, pakaian, dan kebutuhan lain Dewi.
Namun, Dewi tidak pernah bertemu dengan suaminya.
Di satu sisi, Kusuma sibuk dengan pekerjaan dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus bisnis di luar negeri.
Di sisi lain, Kusuma memiliki sebuah vila yang ia tempati ketika berada di Kota Yoya. Mereka juga memiliki teman dan lingkar pergaulan yang berbeda. Sehingga sangat wajar jika mereka tidak pernah bertemu sama sekali dalam tiga tahun terakhir ini.
Pada saat ayah Dewi masih hidup, beliau menyimpan akta nikah putrinya. Tetapi sebelum meninggal, beliau menyerahkan akta nikah itu kepada Kusuma karena takut Dewi akan menceraikan suaminya.
Jadi, baru sekarang Dewi tahu seperti apa rupa suaminya.
Saat duduk, ia tiba-tiba teringat sesuatu dan menampar dahinya. 'Oh, aku ingat pernah melihatnya sekali,' pikir wanita muda itu. Dewi telah beberapa kali mengunjungi kantor Kusuma. Setiap ia datang, asisten Kusuma lah yang menyambutnya. Jadi ia tidak punya kesempatan untuk bertemu suaminya. Terakhir kali pergi ke perusahaan, Dewi tidak memperkenalkan dirinya, jadi petugas keamanan mencegahnya memasuki gedung. Saat itu, Kusuma baru saja pulang dari perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan saat berdiri di luar, Dewi melihat suaminya keluar dari mobil.
Sayangnya, jarak Dewi terlalu jauh untuk melihat wajah suaminya dengan baik. Dan kejadian itu sudah lama sekali. Bahkan setelah tahu nama suaminya, Dewi tidak pernah menemukan foto Kusuma di Internet. Ia tidak pernah menonjolkan diri, menolak memberikan wawancara kepada media dan tidak mengizinkan siapa pun untuk memposting fotonya secara online.
Suatu hari, ada yang menerbitkan foto Kusuma. Dalam foto itu, dikatakan bahwa ia sedang memegang tangan seorang aktris. Tapi sebelum Dewi sempat melihat, foto itu sudah dihapus.
Sekarang, akhirnya ia mengetahui wajah suaminya.
Dan ia bahkan sempat untuk menciumnya! Jika Kusuma telah menandatangani surat cerai, secara teknis, ia akan menjadi mantan suami Dewi.
Kusuma tidak pernah kekurangan wanita untuk menemani dirinya. Tetapi ia membenci wanita yang sengaja datang untuk mendekatinya.
Jadi bertambah satu lagi alasan mengapa Dewi menjadi gelisah. 'Ya Tuhan! Mati aku. Aku benar-benar berharap ia tidak mengenaliku, ' Dewi terus berdoa dalam hati.
Ketika tiba di vila, ia menghela napas lega ketika melihat tidak ada lampu yang menyala.
"Mungkin ia tidak mendengar Kirani memanggil namaku, dan bahkan tidak mengenali wajahku. Terima kasih Tuhan telah membantuku!" Dewi bergumam.
Menepuk wajahnya yang masih memerah, ia melemparkan dirinya ke sofa ruang tamu sambil mengingat semua peristiwa malam ini. "Jika dia mengenaliku, aku yakin dia pasti tidak menyukaiku. Tapi mungkin itu jalan yang terbaik. Jadi ia dapat menandatangani perjanjian perceraian tanpa ragu-ragu," gumamnya.
Dewi adalah seorang mahasiswa junior di Kelas 22 Jurusan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Manajemen di Universitas Kota Yoya.
Ada lebih dari 50 mahasiswa yang terdaftar di kelasnya. Empat puluh dari mereka lulus ujian masuk perguruan tinggi, sedangkan sisanya melalui pintu belakang.
Universitas Kota Yoya termasuk salah satu di antara 3 universitas lokal terbaik. Kusuma juga lulus dari institusi ini. Ada banyak orang yang ingin mendaftar di universitas ini. Dewi adalah salah satu dari mahasiswa yang masuk melalui koneksi pribadi.
Martaka Daliono, seorang profesor senior, sedang berdiri di pondium di depan kelas. Beliau mendorong kacamatanya ke atas hidung sembari mengambil napas dalam-dalam. Lalu Beliau menatap murid-muridnya, yang sebagian besar sedang tidur..
Tiba-tiba, terdengar suara keras! Profesor itu melemparkan sebuah buku ke mejanya. Suara yang sangat keras membuat sebagian besar siswa terbangun. Lalu mereka segera duduk dengan punggung tegak.
Tetapi tampaknya suara itu tidak berpengaruh pada seorang gadis dengan jas putih santai yang duduk di baris terakhir. Gadis itu masih tertidur nyenyak di mejanya.
Melihat siswa yang sedang tertidur, Martaka meraung, "Dewi Nayaka!" Ia mungkin sudah tua dan memiliki rambut abu-abu, tetapi suaranya masih menggelegar. Ruangan kelas menjadi hening sampai Anda bisa mendengar jika ada jarum yang jatuh.
Tapi suara berisik atau keheningan tidak berpengaruh bagi Dewi. Ia masih tertidur lelap. Semua orang menatap Dewi saat ia tetap berada di alam mimpi.
Daftar bab
Total 1476 bab
/0/16889/coverbig.jpg)
/0/15744/coverbig.jpg)
/0/6503/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)
/0/2839/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/29980/coverbig.jpg)