/0/8667/coverbig.jpg)
/0/2036/coverbig.jpg)
Bab 3 Profesor Keras Kepala
"Dewi! Dewi!" sebuah suara pelan terdengar terus memanggilnya, saat ia masih terlelap dalam tidurnya. Menolak bangun dari tidurnya, Dewi merasakan lengan bajunya ditarik terus-menerus. Semakin ia berusaha mengabaikannya, panggilan suara dan tarikan itu semakin keras dirasakannya. Akhirnya ia menyerah dan mulai membuka matanya.
Meskipun jelas terlihat bahwa ia belum sadar sepenuhnya, ia menoleh ke arah Kristina yang ada di sampingnya. "Kristina...sebaiknya kamu memiliki alasan yang bagus sampai harus membangunkanku..."
Apa yang dilihat Dewi sebagai jawaban atas perkataannya adalah, ia melihat jari Kristina yang menunjuk ke suatu arah. Mata Dewi menelusuri ke mana arah jari Kristina menunjuk, dan ia melihat Martaka yang berada di depan kelas dengan ekspresi sangat marah.
Melihat wajah tegang Martaka di depan sana, Dewi tersadar, seakan telah disiram dengan air sedingin es di wajahnya. 'Oh sial!' Berusaha keras mengumpulkan kembali kesadarannya, Dewi menggelengkan kepala dan kemudian berusaha untuk duduk dengan tegak di bangkunya.
Martaka yang saat ini sedang berdiri di depan kelas untuk mengajar, adalah seorang profesor yang dianggap sebagai salah satu orang paling keras kepala di universitas tempat Dewi berkuliah. Mengambil buku diktat dari tasnya, Dewi kemudian membuka buku itu di halaman yang akan dipelajari dalam pertemuan kali ini, dan ia mengirim tatapan mengancam pada siapapun yang berani tertawa dengan kejadian ini.
Seketika, semua yang hadir di kelas itu mengalihkan pandangannya kembali ke depan kelas, berpura-pura tak mengetahui apa yang baru saja terjadi. Setelah situasi kembali tenang, Profesor Martaka pun melanjutkan kuliahnya.
'Ya Tuhan, dia terlihat sangat marah ...' Dewi membenamkan jari-jarinya di rambutnya dan merasakan penyesalan. 'Aku pasti gagal dalam mata kuliah yang diajarkannya ...'
Tak seorang pun di kelas itu yang berani mengolok Dewi. Semua orang di kelas dan bahkan seluruh universitas tahu bahwa Dewi memiliki latar belakang yang kurang jelas.
Selain itu, Dewi adalah seorang mahasiswi pembuat onar, yang sering bentrok dengan mahasiswa lain, mabuk-mabukan dan juga membolos dari kelas. Pendek kata, Dewi telah melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh universitas.
Di dalam buku pegangan mahasiswa universitas Kota Yoya, telah dinyatakan bahwa seorang mahasiswa tidak diperbolehkan mewarnai rambutnya, mengecat kukunya, dan memakai perhiasan mewah di kampus.
Namun, Dewi tidak peduli dengan aturan itu, bahkan mungkin ia tak pernah membacanya, karena ia memiliki rambut panjang yang dicat ungu dan kuku berwarna merah cerah. Para pengajar di universitas terlalu enggan untuk menegurnya perihal semua pelanggaran yang ia lakukan.
Dengan semua pelanggaran itu, sungguh mengejutkan fakta bahwa Dewi belum juga dikeluarkan dari universitas sampai dengan saat ini. Salah satu alasannya mungkin adalah, karena ada keluarga yang sangat berkuasa di belakang Dewi.
"Dewi Nayaka," panggil Martaka dengan nada datar, "tolong kamu jelaskan padaku apa itu keuangan." Profesor Martaka tahu dengan jelas mengenai latar belakang Dewi. Seseorang bernama Edi Cataka, yang merupakan asisten Kusuma, ada kaitannya dengan penugasan Martaka di universitas ini. Bahkan Kusuma sendiri dulunya adalah mahasiswa Martaka. Sebagai seorang pengajar yang bertanggung jawab, Martaka tahu bahwa ia harus campur tangan, dan ia tidak bisa membiarkan begitu saja anak didiknya, khususnya Dewi, tenggelam dalam kenakalannya.
Berpura-pura membaca buku dan mencari jawaban atas pertanyaan Martaka, Dewi menendang bangku yang ada di depannya. Duduk di depan Dewi adalah Dimas Subianto, seorang pengawas kelas dan juga mahasiswa yang pintar, hingga selalu mendapatkan nilai A dalam semua mata kuliahnya.
Dengan tendangan yang dikirimkan Dewi ke bangkunya, Dimas paham apa yang Dewi minta, ia segera membuka halaman buku tempat jawaban berada dan menggesernya ke samping agar Dewi dapat membacanya.
Senyum kepuasan tersungging di bibir Dewi ketika buku yang digeser Dimas terbaca olehnya. Banyak mahasiswa di kelas yang melirik ke Dewi secara diam-diam dan mendapati bahwa Dewi memang terlihat memukau.
Ia memiliki ciri-ciri yang menjadi impian banyak wanita, kulit putih yang sempurna, sepasang mata yang bulat dan terlihat polos, hidung mancung dengan bentuk yang indah, serta bibir merah yang lembut.
Meskipun wajah Dewi polos tanpa riasan, akan tetapi penampilannya tetap mempesona. Belum lagi sepasang kakinya yang jenjang dan ramping, sangat menarik bagi para pria yang memiliki kesempatan untuk melihatnya walau sekilas saja.
Jika saja prestasi akademisnya lebih baik, ia akan menjadi kandidat yang paling pantas untuk mendapatkan gelar 'Nona Universitas.'
'Baiklah, mari kita lihat di sini ...' Dewi berdiri dan berkedip ketika ia mulai membaca jawaban dari buku Dimas. "Keuangan adalah istilah luas yang mencakup dua aktivitas yang berkaitan yaitu: studi tentang bagaimana uang dikelola dan..."
Sebagai seorang profesor, Martaka jelas mengetahui trik yang sedang Dewi lakukan, dan ini membuatnya sangat marah. "Cukup!" Teriakan Martaka menggelegar di seluruh ruang perkuliahan, membuat yang hadir di dalamnya merasa ketakutan.
Para siswa dapat melihat bagaimana Martaka mati-matian berusaha menahan amarahnya.
Semua yang hadir merasa ketakutan dan terpaku di tempat duduknya, semua kecuali Dewi yang kemudian tersenyum kepada Martaka dan berkata, "Profesor Daliono, apakah jawaban saya tadi salah?"
Mendengar pertanyaan dari Dewi, wajah Martaka pun mulai memerah karena marah. Melihat hal itu Dewi mulai menyesali apa pun yang ia lakukan dan berusaha meminta maaf kepada Martaka. "Profesor Daliono, tolong jangan marah. Saya akan menghafal jawabannya sebelum jam kelas ini berakhir!" Dewi berjanji demi meredakan kemarahan profesor. Dewi bahkan memiliki beberapa orang yang ditakutinya, dan profesor Martaka adalah salah satunya, karena Dewi tahu, Kusuma adalah salah satu mantan murid Martaka.
Amarah perlahan hilang dari wajah Martaka dan ia menjadi lebih tenang setelah mendengar ucapan Dewi. Bagi Martaka, Dewi sebenarnya adalah gadis yang pintar. Jika saja ia bersedia memfokuskan perhatian dan pikirannya untuk belajar, ia bisa menjadi mahasiswa dengan nilai yang tinggi di kelasnya. Tapi, sebagai seorang profesor yang profesional, Martaka tidak bisa lebih mentolerir tindakan Dewi yang kurang ajar lebih jauh. 'Kamu tidak suka belajar? Boleh! Kamu gagal dalam banyak mata kuliah? Boleh!' Martaka kemudian menatap Dewi dengan tajam. 'Tapi tidak di kelasku!' Martaka bersumpah pada dirinya sendiri.
"Jika sekali lagi aku melihatmu tidur di kelasku, Jaya, Kristina, dan Kirani, mereka bertiga akan berdiri di bawah bendera!" Martaka menyatakannya dengan tegas. "Apakah kamu mengerti? !" Tiga orang yang namanya disebut mengeluh tak percaya atas pernyataan yang mereka dengar dari profesor.
'Kenapa kita yang harus menderita ketika Dewi yang melakukan kesalahan…' pikir mereka bertiga sepakat.
Alasan dibalik pernyataan Martaka ini adalah karena ia tahu betul bahwa Dewi sangat setia kepada kawan-kawannya. Menyakiti orang lain demi mendapatkan apa yang ia inginkan tak pernah ada dalam prinsip Dewi. Inilah salah satu kelebihan yang dilihat Martaka, yang dapat dimanfaatkannya untuk menghadapi sikap Dewi.
Menatap dengan tajam ke arah Martaka, Dewi mengutuk di dalam hatinya, 'Kenapa?! Kau sungguh licik... '
Dewi kemudian mengangkat kepalanya, dan dengan percaya diri ia menjawab, "Mengerti, Profesor Daliono. Anda tidak akan pernah menemukan saya tertidur di kelas Anda lagi." Duduk kembali di kursinya, Dewi kemudian mengambil penanya dan seakan menulis di buku catatan di depannya. Ekspresi kepuasan muncul di wajah Martaka melihatnya, ia mengira Dewi sedang sibuk mencatat apa yang dijelaskannya. Faktanya, Dewi hanya membuat coretan-coretan tak jelas di bukunya.
Ketika bel akhir mata kuliah berbunyi, Martaka mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum kemudian mengumpulkan barang-barangnya dan akhirnya meninggalkan ruangan perkuliahan.
Kelas pun secara resmi dibubarkan.
Saat Martaka telah pergi, beberapa teman pria dan wanita Dewi berkumpul di sekitar mejanya, dan mulai menyatakan protes tentang pernyataan sang profesor sebelumnya.
"Hei, Tomboi. Ada masalah apa kamu dengan Profesor Daliono?" tanya Jaya. Ekspresi frustrasi terlihat dengan jelas di wajahnya. 'Kenapa harus kita yang bertanggung jawab atas apa yang telah Dewi lakukan? Pria yang aneh, ' pikir Jaya dalam hatinya.
Dengan badan setinggi 210 sentimeter, Jaya adalah salah satu mahasiswa yang mendapat karunia berupa tinggi badan dan dianggap sebagai yang tertinggi di seluruh universitas. Sebagai tambahan, Jaya adalah salah satu teman baik Dewi, dan merupakan seorang pria yang murah hati.
"Dewi, kumohon jangan tidur di kelas Profesor Daliono lagi..." Kristina merengek sambil memegangi lengan Dewi dengan erat, memohon dengan sikap yang menawan. "Aku mohon padamu..." Kristina, teman baik Dewi lainnya, memiliki rambut panjang yang keriting dan tubuh yang mungil, dan selalu memancarkan pesona.
"Dewi, sebagai Nona Kamar 3301, aku tidak mau dipermalukan di depan umum seperti itu, mengerti?" kata Kirani, yang menyatakan dirinya sebagai gadis paling cantik di asrama.
Saat ini, Dewi sangatlah tak berselera untuk mendengar semua ocehan ini, akibat permintaan cerai yang sedang ia ajukan dan juga ciuman yang terjadi antara dirinya dan Kusuma. Suara bising di sekitarnya saat ini mulai membuatnya merasa kesal. Dengan tiba-tiba ia mengambil buku dengan tangannya, dan membantingnya dengan keras ke meja. Menimbulkan suara nyaring dan keras yang bergema di seluruh ruangan, dan membuat semua orang terkejut karenanya.
Semua yang masih ada di ruangan itu tahu, jika mereka coba melihat ke belakang, ke arah datangnya suara itu, mereka akan mendapatkan masalah dengan Dewi, hingga mereka pun diam saja. Tak ada satu pun yang berani berkomentar.
Merasakan suasana tegang yang terus meningkat, Kirani pun kemudian angkat bicara dengan tujuan meredakan ketegangan yang ada. "Hei, aku baru ingat. Sedang ada promosi besar-besaran di Plaza Cahaya Internasional hari ini! Apa kalian tertarik untuk pergi ke sana?"
Berdiri dan menghampiri Kirani dengan gaya centilnya, Dewi kemudian melontarkan senyum dan berkata, "Aku mau!" 'Mungkin hanya karena lipstik yang selama ini selalu dia inginkan…' pikir Kirani sambil memainkan matanya.
Sebagai teman yang begitu dekat, Dewi dan Kirani sudah saling memahami satu sama lain, luar dan dalam.
Untuk seorang Dewi yang biasanya terlibat dalam perkelahian dan gemar menenggelamkan dirinya dalam alkohol; ketertarikannya pada lipstik adalah sebuah hal yang sangat mengejutkan. Ia tak pernah peduli akan pakaian, karena ia terbiasa mengenakan pakaian santai. Akan tetapi, minatnya untuk mengumpulkan kaleidoskop lipstik adalah hal yang tak terbendung.
Di Plaza Cahaya Internasional.
Sekelompok sahabat itu akhirnya tiba dan berkumpul di Plaza Cahaya Internasional. Di dalam plaza itu terdapat begitu banyak keindahan untuk dilihat dan juga ditawarkan.
Plaza Cahaya Internasional terdiri dari tujuh bangunan, yang masing-masing bangunan itu dinamai dengan nama bintang-bintang yang membentuk konstelasi Biduk.
Nama ketujuh bangunan itu adalah Dubhe, Merak, Phecda, Megrez, Alioth, Mizar, dan Akaid.
Di puncak setiap bangunan, terdapat beberapa lampu, yang ketika malam tiba, lampu itu akan menyala. Jika orang melihatnya dari langit, maka lampu pada masing-masing gedung itu akan tersusun membentuk konstelasi Biduk. Sebuah tontonan yang menakjubkan.
Desain pencahayaan di dalam plaza pun telah dirancang untuk menyerupai langit yang penuh bintang, sehingga ketika Anda berjalan di dalamnya, seakan Anda sedang berjalan di atas lautan bintang. Tak heran jika banyak orang yang suka mengunjungi plaza ini, sebuah plaza yang dibalut konsep unik konstelasi perbintangan. Sehingga, plaza ini menjadi tempat yang sangat populer, apakah itu untuk berpacaran atau tempat untuk mengajak orang-orang tersayang jalan-jalan. Di plaza ini Anda dapat melihat beragam pengunjung dari segala usia, baik yang sedang berkumpul bersama keluarga atau berdua dengan pasangannya, dan memandang bintang dari dekat.
Daftar bab
Total 1476 bab
/0/13069/coverbig.jpg)
/0/22523/coverbig.jpg)
/0/34540/coverbig.jpg)
/0/27682/coverbig.jpg)
/0/16578/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)