/0/27619/coverbig.jpg)
/0/23351/coverbig.jpg)
Bab 2 Bermalam Dengannya
Setelah kejadian malam itu, Zay tidak berani lagi mendekati kediaman keluarga Fransisco. Ketakutan akan dampak dari tindakan nekatnya, ditambah teguran keras dari ibunya, membuat Zay semakin cemas. Ibunya menegaskan agar Zay tidak mendekati rumah itu lagi, apalagi setelah Gibson mencarinya. Zay sangat khawatir ibunya akan dipecat karena kesalahannya, sehingga dia memutuskan untuk menghindari tempat itu sepenuhnya.
Selama seminggu berikutnya, Zay berusaha menjauh dari masalah yang dia ciptakan sendiri. Namun, Mingmei tetap menjadi pusat pikirannya. Gadis itu semakin tertekan dengan situasi keuangannya, dan Zay merasa bersalah karena tidak bisa membantunya lebih jauh. Setiap kali mereka pulang bersama, Zay hanya bisa memberikan semangat lewat kata-kata, meskipun dia tahu bahwa itu tidak cukup.
Setelah beberapa jam berada di sekolah, walaupun tidak ada lagi jam pelajaran karena mereka telah bebas tetapi harus tetap hadir ke sekolah sebelum pengumuman kelulusan dan hari libur, setelah mereka menyelesaikan remedial mata pelajaran dan tugas-tugas sekolah lainnya.
Zay dan Mingmei berjalan keluar dari gerbang. Mata Zay terkejut melihat sebuah mobil mewah terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah. Mobil itu begitu mencolok dengan cat hitam mengilapnya, dan pria yang berdiri di sampingnya menarik perhatian semua orang. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, namun auranya yang kuat terpancar dengan jelas. Para siswa di sekitar mereka saling berbisik, penasaran dengan siapa pria itu dan apa tujuannya berada di sana. Bahkan Mingmei, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya, tidak bisa mengalihkan pandangan dari pria itu.
Mingmei tidak menyadari bahwa pria itu memperhatikannya dengan seksama, hingga tiba-tiba pria tersebut mengangkat tangannya dan memberikan isyarat kepada Zay untuk mendekat. Zay, yang awalnya ragu, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Gibson setelah menyuruh Mingmei menunggu.
"Tunggu aku di sini," kata Zay. Mingmei mengangguk, berdiri di tempatnya menunggu Zay kembali.
Beberapa siswa laki-laki mencoba mendekati Mingmei, seperti biasa, menawarkan untuk menemaninya pulang. Namun, Mingmei hanya menolak dengan sopan, tidak ingin terlibat dalam percakapan yang tidak penting dengan mereka. Mingmei seperti menjaga jarak dengan siswa laki-laki mana pun kecuali Zay.
Gibson Fransisco, yang masih memperhatikan Mingmei dari balik kacamata hitamnya, merasa terganggu oleh para siswa yang mengelilingi gadis itu. Ada rasa tak suka melihat Mingmei berbicara dengan mereka.
Saat Zay sampai di dekatnya, Gibson memalingkan pandangannya ke arah pemuda itu. "Tuan, maaf atas kejadian waktu itu," kata Zay dengan nada penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud lancang masuk ke ruangan kerjamu dan berbicara seperti itu."
Zay langsung meminta maaf dan menjelaskan kejadian pada hari itu. Zay takut kedatangan Gibson ke sekolahnya karena masalah yang dia buat.
Gibson menatap Zay dengan dingin, tanpa menunjukkan emosi di wajahnya. "Aku tertarik dengan tawaranmu saat di ruang kerja," katanya tanpa basa-basi. "Bawa dia sekarang."
Kata-kata itu meluncur cepat dari mulut Gibson dengan nada yang dingin, sehingga Zay terkejut. Dia merasa seolah-olah telah salah dengar. Gibson, tertarik? Dengan tawarannya?
Zay terdiam, masih mencerna kata-kata itu, sampai akhirnya Gibson membuka jendela mobilnya dan berteriak, "Cepatlah!" Panik, Zay segera berlari kembali ke tempat Mingmei berdiri. Tanpa banyak bicara, dia menarik tangan gadis itu.
"Zay, apa yang kau lakukan?" tanya Mingmei sambil berlari mengikuti langkah Zay yang membawanya menuju mobil Gibson. Mingmei sangat terkejut dengan tindakan Zay dan bingung dengan apa yang terjadi.
Sesampainya di mobil, Zay mendorong Mingmei masuk ke dalam, dan dia pun mengikuti dari belakang. Mereka duduk di kursi belakang, sementara Gibson duduk di kursi depan. Suasana di dalam mobil menjadi tegang.
Gibson, yang dari tadi mengamati mereka lewat kaca spion, mendengus kesal tanpa menjalankan mobilnya. "Aku bukan sopir," katanya dengan suara berat.
Zay, yang langsung memahami maksud Gibson, segera menyuruh Mingmei untuk duduk di depan.
Dengan gugup, Mingmei berpindah ke kursi depan, duduk di samping Gibson. Jarak mereka kini begitu dekat, dan Mingmei tidak bisa menghindari perasaan gugup yang merayapi hatinya. Jantungnya berdebar kencang, terutama saat dia melihat wajah Gibson dari arah samping. Pria itu sangat tampan dengan rahang tegas dan ekspresi dingin yang sulit dibaca. Setiap detail dari wajahnya membuat Mingmei merasa semakin gugup.
Untuk menenangkan diri, Mingmei menggenggam erat rok seragamnya. Sementara itu, Gibson tetap diam, mengabaikan kecanggungan di antara mereka. Tanpa sepatah kata pun, dia menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudi. Mobil melaju meninggalkan sekolah. Banyak siswa yang membicarakan Zay dan Mingmei yang masuk ke dalam mobil mewah tersebut.
Ini pertama kalinya bagi Gibson memberanikan diri membawa mobilnya sendiri, hanya untuk menemui Zay dan gadis yang sebelumnya pernah bertemu. Zay pernah membawa Mingmei ke kediaman Fransisco, bahkan mereka sempat bertabrakan di lorong. Mingmei datang ke rumahnya untuk mencari pekerjaan, tetapi ibu tirinya menolak dengan alasan dia terlalu muda untuk bekerja di kediaman Fransisco. Setelah beberapa menit berkendara, mereka tiba di sebuah villa mewah yang terletak di pinggiran kota. Villa itu dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan pagar besi.
Gibson memarkir mobilnya di depan pintu utama, lalu keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Zay dan Mingmei mengikuti dari belakang, merasa sedikit canggung dengan suasana yang tiba-tiba begitu formal.
Gibson membuka pintu villa. Ruang tamu yang luas dan mewah menyambut mereka, dengan perabotan elegan dan pencahayaan lembut. Meski ruangan itu indah, atmosfernya terasa dingin.
Gibson berjalan menuju sebuah sofa besar dan duduk di sana, masih dengan kacamata hitamnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepasnya dan menatap Zay dan Mingmei.
Suasana menjadi semakin tegang ketika Gibson mulai berbicara dan menatap ke arah Mingmei.
"Aku bisa melunasi semua tunggakan sekolahmu, dan lebih dari itu," lanjut Gibson. "Tapi, aku ingin tahu sejauh mana kamu bersedia melakukan apa saja untukku."
Mingmei menelan ludah, merasa ketakutan dengan cara Gibson berbicara. Namun, dia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan kelemahannya.
Mingmei menoleh ke arah Zay, lalu menatap Gibson dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk langsung ke hatinya. Dia tahu bahwa ini bukan lagi soal uang, tapi soal harga dirinya. Mingmei juga tahu bahwa inilah satu-satunya cara untuk menyelesaikan semua masalahnya.
"Aku... aku akan melakukan apa pun yang kamu minta," kata Mingmei akhirnya, suaranya gemetar namun tegas. Gibson mengangguk perlahan, menunjukkan sedikit senyuman yang sulit diartikan.
"Mulai sekarang, kamu bekerja untukku dan melakukan apa saja atas perintahku. Aku akan mengatur semua kebutuhanmu, termasuk uang yang kamu butuhkan."
Mingmei hanya bisa mengangguk, tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia tahu bahwa keputusannya ini akan membawa konsekuensi yang sangat besar, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Gibson lalu berdiri, memberi isyarat bahwa pertemuan mereka sudah selesai.
"Zay, kamu bisa pergi sekarang," ujar Gibson tanpa melihat ke arah pemuda itu. "Mingmei akan tetap di sini malam ini." Zay terkejut mendengar perintah itu, namun dia tahu bahwa membantah Gibson bukanlah pilihan. Dia berdiri, menatap Mingmei dengan cemas, lalu berbisik, "Kau tidak perlu takut, Mingmei. Ingatlah dengan tujuanmu," bisik Zay sambil menepuk pundak Mingmei.
Mingmei mengangguk pelan, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Setelah Zay pergi, Mingmei merasa semakin terisolasi dengan hawa dingin yang terasa menyentuh kulitnya.
Daftar bab
Total 5 bab
/0/4063/coverbig.jpg)
/0/2796/coverbig.jpg)
/0/16482/coverbig.jpg)
/0/14587/coverbig.jpg)
/0/29116/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)