/0/17274/coverbig.jpg)
/0/23351/coverbig.jpg)
Bab 3 Ciuman Yang Lembut
Mingmei memegang erat tangannya sendiri, merasakan hawa dingin yang menyelimuti sekelilingnya. Matanya tak berani menatap langsung ke arah Gibson, pria yang kini berada di hadapannya dengan tatapan tajam yang seolah menembus jiwanya. Vila itu terasa sunyi, hanya ada mereka berdua di ruangan luas yang dipenuhi perabotan mewah.
Gibson mendengus pelan, tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya. "Kau tahu apa yang paling tidak aku sukai?" tanyanya dengan nada yang begitu dingin.
Mingmei hanya diam tak menjawab. Dia hanya memberanikan diri menatap mata Gibson yang seperti menusuk ke arahnya.
"Gadis-gadis sepertimu, yang berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan apa saja hanya dengan berkata 'akan melakukan apa pun yang diminta'. Mereka rela menjatuhkan harga dirinya, bahkan merangkak ke atas ranjang demi uang," ucap Gibson dengan nada suara yang terdengar meremehkan.
Mingmei mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosi yang mulai berkumpul di dalam dirinya serta rasa sakit di hatinya. "Aku tidak punya pilihan lain, Tuan," suaranya bergetar, tapi dia berusaha tetap tegar.
Gibson mengangkat alis, jelas terkesan dengan keberanian Mingmei untuk membantah. "Tidak punya pilihan? Jangan menjadi gadis bodoh. Di dunia ini selalu ada pilihan. Kau hanya terlalu malas untuk mencarinya," lanjutnya berkata. "Dan sekarang kau datang padaku, berharap aku akan membayar semua hutangmu dan biaya sekolahmu. Jaminan apa yang akan kamu berikan padaku? Selain kata melakukan apa pun yang aku minta, apa kau menawarkan tubuhmu juga?"
Kata-kata itu sangat menusuk perasaan Mingmei. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi dia berusaha keras untuk menahannya. "Aku melakukan ini bukan karena aku ingin, tapi karena aku harus menyelesaikan sekolah dan masuk ke perguruan tinggi, seperti yang diinginkan orang tuaku sebelum mereka meninggal."
Gibson tertawa kecil, walaupun perkataan Mingmei tidak terdengar lucu. "Dan dengan cara merendahkan diri? Orang tua macam apa yang akan menginginkan hal seperti itu dari anaknya? Kau berpikir mereka akan bangga melihatmu sekarang?"
Kata-kata Gibson bagaikan palu yang menghancurkan pertahanan terakhir Mingmei. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini jatuh tanpa bisa dicegah.
"Aku ... aku tidak punya siapa-siapa lagi, Tuan," suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan. "Aku hanya ingin memenuhi keinginan mereka, untuk lulus dan melanjutkan pendidikan. Aku rela melakukan apa saja demi itu, termasuk merangkak ke atas ranjang jika orang itu menginginkannya dariku," ucap Mingmei dengan suara terdengar pasrah.
Gibson semakin intens menatap Mingmei yang kini terisak sambil berdiri. Namun, ekspresinya tetap datar, seolah tak terpengaruh oleh tangisan gadis itu.
"Kau tidak perlu menangis. Aku hanya memberimu kesempatan terakhir sebelum benar-benar menyesal dengan keputusan yang kau pilih."
Mingmei tak bisa lagi menahan rasa sakit yang meluap di hatinya. Dengan suara serak, dia berkata, "Apa kau tahu tentang rasa sakit dan kehilangan, Tuan? Kau memiliki segalanya-uang, kekuasaan, semua yang bisa membuat hidupmu mudah. Tapi aku? Aku hanya seorang gadis yang sebatang kara, tanpa siapa pun yang peduli. Aku tidak seberuntung dirimu, Tuan Gibson."
Gibson tak langsung menjawab. Dia terus menatap Mingmei dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tidak ingin membahas yang tidak penting bagiku. Kau masih memiliki pilihan. Jangan biarkan otak bodohmu yang bicara, tapi gunakan kata hatimu!" ujarnya dengan nada yang lebih tenang, tapi tetap dingin.
Mingmei tidak cukup mengerti dengan perkataan Gibson. Dia merasa begitu tak berdaya di hadapan pria ini.
"Tuan, jika kau tidak menginginkannya, tidak perlu bicara sembarangan," katanya dengan nada putus asa. "Aku akan mencari pria lain saja yang bersedia membantuku," ucap Mingmei.
"Dengan jaminan tubuhmu?"
Mingmei, yang hendak bersiap untuk pergi, terdiam sesaat sebelum akhirnya dia menjawab dengan yakin. "Ya, dengan tubuhku!" ucap Mingmei dengan keras penuh emosi, seakan tidak takut dengan pria di hadapannya. Dia segera membalikkan tubuhnya untuk pergi.
Namun, Mingmei mendengar perkataan Gibson. "Bitch! How dare you yell at me!"
Seketika Mingmei berlutut seperti anak kecil, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya terasa sesak, dadanya benar-benar sakit dengan perkataan Gibson.
"Maafkan aku," isaknya. "Aku tidak seharusnya berteriak seperti itu padamu, Tuan. Aku tidak bermaksud apa pun. Sekarang aku akan pulang saja."
Mingmei membuka kedua tangannya dan mendongak. Betapa terkejutnya dia melihat Gibson sudah berada di depannya, begitu dekat. Dia tak tahu kapan pria itu mendekat, kini Gibson di hadapannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tanpa berkata apa-apa, Gibson hanya diam, menatap gadis yang menangis di hadapannya.
Detik-detik berlalu dalam keheningan. Rasanya seolah-olah seluruh dunia berhenti berputar, hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Akhirnya, Gibson bergerak, membungkukkan tubuhnya sedikit, cukup untuk bisa melihat wajah Mingmei dengan lebih jelas. Dia tidak meminta maaf, tidak juga mengatakan apa pun yang bisa dianggap sebagai penghiburan. Hanya sebuah tatapan yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, mungkin rasa iba, atau mungkin sekedar rasa ingin tahu.
Mingmei menatap balik, meski dengan mata yang sembab dan wajah yang basah oleh air mata. Ada sesuatu yang menarik seperti magnet, membuatnya tetap bertahan menatap Gibson, meski semua nalurinya menyuruhnya untuk segera pergi dari hadapannya.
Perlahan, Gibson meraih wajah Mingmei dengan tangan yang kuat namun lembut, menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu. Mingmei terkejut oleh tindakan Gibson. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya terus menatapnya, seolah berusaha mencari sesuatu di balik mata Mingmei.
Gibson mengelus salah satu pipi Mingmei sampai bagian jarinya menyentuh bibir Mingmei yang begitu kenyal dan berwarna merah muda. Tanpa memakai lipstik pun, bibir kecilnya sangat menggoda. Detik berikutnya, tanpa memberi Mingmei kesempatan untuk bereaksi, Gibson mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman itu begitu cepat dan tiba-tiba, namun penuh dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Mingmei terdiam, tubuhnya membeku. Jantungnya berdetak begitu cepat, membuat seluruh tubuhnya terasa panas dan menegang.
Ciuman itu terasa asing bagi Mingmei, yang tidak pernah berciuman dengan siapa pun, tapi ada sesuatu yang mengalir di antara mereka, sesuatu yang membuat Mingmei tidak bisa menghindar dari ciuman yang terasa lembut dan manis. Hatinya cukup tertarik untuk membalas ciuman Gibson, bibir mereka seperti memang ditakdirkan untuk bertemu. Dan seolah-olah ciuman itu adalah permintaan maaf yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dari Gibson.
Gibson menarik diri perlahan, menatap wajah Mingmei yang kini tampak merah dan terkejut. "Aku..." Suara Gibson terdengar serak, seolah dia pun tak mengerti mengapa dia melakukan itu. Namun, dia tidak memberikan penjelasan apa pun. Sebaliknya, dia hanya menatap gadis itu dengan mata yang sedikit melembut.
Daftar bab
Total 5 bab
/0/3161/coverbig.jpg)
/0/17330/coverbig.jpg)
/0/5131/coverbig.jpg)
/0/27068/coverbig.jpg)
/0/16907/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)