Lewati ke konten utama

Bab 2 Fakta

Kini Camelia terlihat mengamatinya dengan ekspresi yang agak tajam dari sebelumnya. Jean mendesahkan napasnya. Sudah pasti sebentar lagi dia akan diusir. “Ya, setiap orang punya masa lalu. Kamu sudah menebus kesalahanmu itu, saya tidak merasa punya hak untuk menghakimimu atas hal yang sudah terjadi dimasa lalu dan lagi hal itu tidak bisa diubah. Sebaiknya masuklah kedalam Tuan Jean, jika terlalu lama diluar kamu mungkin akan merasa kedinginan.” Ketika pintu rumah dibuka lebar-lebar oleh pria itu, Jean hanya bisa terperangah tidak percaya terhadap pendengarannya. Ternyata wanita itu bukan cuma gila. Dia benar-benar begitu bodoh karena sudah membiarkan seorang mantan narapidana yang telah membunuh seseorang masuk begitu saja kedalam rumahnya tanpa curiga. Seolah bisa membaca keraguan yang merayap dalam benak Jean, Camelia berbalik kearah pemuda itu lagi dan memberikannya sebuah senyuman kecil. “Saya percaya padamu. Kadang percaya atau tidak saya sudah bisa membaca seseorang itu cukup baik atau jahat hanya dari menatap matanya saja.” Jean merasa dadanya membuncah bahagia. Untuk pertama kalinya dalam pelarian sejak keluar dari penjara baru kali ini ada orang yang mau menerimanya dengan tangan terbuka tanpa menghakiminya sedikitpun. Apalagi orang itu adalah wanita pribumi yang jelas-jelas punya banyak alasan untuk membencinya. Entah karena cahaya lampu yang membias ataukah memang senyum Camelia semata yang membuat wajah wanita itu jadi terlihat semakin menarik dan lembut dimata Jean. Begitu menapak kedalam, sudah tercium aroma makanan yang membuat Jean merasa perutnya keroncongan. Aromanya begitu hangat. Camelia dengan cekatan segera mendudukan putrinya di atas tikar yang digelar di tanah. Lantai rumahnya memang tidak dipoles sedemikian rupa, benar-benar hanya tanah. Camela kembali dengan sepotong singkong rebus yang telah dingin kemudian dia selipkan pada sepasang tangan mungil si kecil yang gemuk dan mahluk mungil itu langsung membawa potongan singkong tersebut ke bibirnya yang merah dan basah dengan air liur untuk melahapnya bulat-bulat. Jean tersenyum perlahan. Entahlah… melihat Camelia yang sedang menyiapkan makan untuk putrinya membuat naluri primitif didalam dirinya muncul secara tidak terduga. Dia yang sudah terbiasa hidup dengan dunia yang keras dan kejam tidak pernah menyangka akan tersentuh oleh kelembutan seorang wanita berperut bulat seperti semangka yang mencoba merawat anaknya dengan penuh kasih sayang seperti ini meski dalam kesederhanaan yang nyaris lebih seperti kekurangan. Gelak bayi yang terceguk dan ada ocehan yang ramai keluar darinya menyuarakan betapa tak sabarnya dia menunggu hidangan yang sedang disiapkan oleh sang Ibu. Keindahan itu memang kadang muncul dari hal-hal yang sederhana dan begitu alami. Entah mengapa, Jean tiba-tiba teringat pada Tuhan dalam situasi ini. Tuhan yang sudah entah berapa puluh tahun lamanya sempat dia lupakan karena terlalu fokus pada hidupnya yang dipenuhi oleh penderitaan. “Tuhan, untuk kali ini saja aku memohon berilah aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.” Saat itulah Jean menatap kearah dinding. Disana tersimpan rapi potret seorang pria dengan pakaian tentara dan seorang wanita yang tidak lain adalah Camelia berdiri berdampingan dan tersenyum ke depan. Mata Jean membulat seketika. Kedua tangannya bergetar, kepalanya terasa pusing dan ingatan berdarah langsung menghantamnya dengan mudah. Ulu hatinya terasa perih dalam hitungan detik. Susu basi, jambu muda yang rasanya asam dan pahit yang dia sempat konsumsi sebelum tiba ditempat ini bukanlah jenis kombinasi terbaik untuk perutnya. Apalagi dengan pemandangan yang dia dapati didalam rumah kumuh ini. Tanpa bisa ditahan ia pun bergegas menghambur ke luar halaman dan memuntahkan isi perutnya hingga habis tidak bersisa. Dia menatap kearah pergelangan tangannya, seolah menemukan darah yang berceceran disana. Mustahil. Kenapa dari sekian banyaknya orang yang dia temui, kenapa Jean justru harus menemukannya di rumah yang sehangat ini? Potret yang diabadikan di ruang keluarga rumah ini… jelas-jelas adalah pria yang menjadi korban pembunuhannya sepuluh tahun lalu. Bagaimana ini? *** Camelia mendengar ada sebuah keributan, karena itulah dia lantas keluar dari dapur dan menemukan kursi yang diduduki oleh Jean beberapa saat lalu telah kosong. Dia sesaat tidak bisa menahan senyum sedih dan sedikit rasa kecewa. Entah mengapa, padahal beberapa saat yang lalu dia sempat memiliki sebuah pengharapan dan adanya keajaiban barangkali pria misterius tadi mau menemaninya disini. Tapi ternyata, sama saja. Dia tidak berhak untuk terus meminta. Camelia lantas menaruh semangkuk sup jagung dan menuangkannya pada tiga piring berbeda yang telah tertata di atas atas tikar lusuh. Hanya bisa pasrah. Apa lagi yang bisa dia harapkan sekarang? dia hanyalah seorang wanita hamil yang miskin, tidak cantik, punya satu anak kecil yang masih membutuhkan perhatian dan asuhan, dan… gila. “Hoeekk … Hoeekk ….” Suara orang yang terdengar sedang muntah-muntah membuat Camelia terperanjat kaget. Wanita itu bergegas lari membawa kaki telanjangnya menuju kearah beranda. Tampak di halaman sosok pria yang baru saja menjadi tamu dikediamannya sedang membungkuk dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Camelia mengangkat alisnya. Apa dia sakit? Bila benar sudah bisa dipastikan dia tidak memenuhi kualifikasi dari orang yang dia butuhkan. “Kamu kenapa?” Jean terlihat mengatur napasnya meski sedikit terengah. Sebelum akhirnya dia bisa berbalik dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan. “Kurasa karena susu basi yang saya minum tadi siang.” “Susu basi? Kamu meminum susu basi? Saya pikir pria dewasa seharusnya memikirkan lebih dulu apa yang mereka konsumsi ke tubuh dengan akal sehat.” “Akal sehat tidak membuat saya jadi kenyang, Nyai.” “Sudah berapa hari kamu tidak makan dengan layak?” Jean tidak angkat bicara, dia memilih diam saja. Membuat Camelia pada akhirnya menghela napas kemudian menawarkan tangannya membantu pria itu berdiri. “Mari masuk kerumah. Saya sudah buatkan sesuatu untuk mengisi perutmu malam ini. Meskipun apa yang saya suguhkan jauh dari kata mewah, tapi setidaknya lebih layak untuk dimakan.” “Tidak usah. Saya tidak bisa….” “Tolong kembalilah ke dalam rumah, Tuan Jean! Harga diri tidak akan membantumu bertahan hidup. Saya tidak bermaksud untuk memaksa tapi percayalah tidak berguna untuk mempertahankan gengsi. Kecuali kalau kamu lebih suka hal itu mematahkan iga dan juga merobek kulitmu yang tipis.” Jean meraba perutnya yang perih, seraya menatap kearah uluran tangan yang menanti untuk disambut. Senyum tipis yang hadir disudut bibir membuat ucapannya yang sedikit kasar malah terdengar biasa saja. Mungkinkah karena Jean sudah terbiasa dengan celaan dan makian? Atau karena memang pada dasarnya karena wanita ini adalah alasan atas pengecualian itu sendiri? sebab caranya memarahi Jean sekarang seperti sedang menceramahi seorang anak kecil yang nakal. Wanita bertubuh mungil ini peduli padanya, dan itu lebih Jean butuhkan dibandingkan apapun. Hanya saja… Apakah dia bisa berpura-pura tidak tahu ? Lantaran dia adalah sabab musabab mengapa wanita ini bisa jatuh dan hidup dalam nestapa seperti sekarang. Karena Jean adalah pelaku yang membunuh mendiang suaminya. Apa bisa dia menetap ditempat ini? Dia memohon dalam hatinya, “Kumohon… pertahankanlah aku. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menebus seluruh dosaku padamu.” Tangan yang terulur mendapatkan sambutan, senyuman Camelia kian merekah tatkala membantu Jean berdiri dari posisinya. Wanita itu menuntunnya untuk masuk kedalam. Kembali Jean mendapatkan kehangatan dari gubuk reyot berantakan serta celotehan dari si malaikat mungil di dalam rumah. “Duduklah…,” ujar Camelia pada Jean dengan nada setengah memerintah, seraya menepuk sisi di atas tikar yang kosong untuk dia duduki. Sementara Jean menatap kearah kudapan yang tersedia di atas tikar, diam-diam Jean menatap jari-jari Camelia yang sedang mengelus rambut priang putranya dengan sangat lembut. Membuat Jean bertanya-tanya apakah sosok ibunya dahulu pernah membelai rambutnya dengan cara seperti itu juga. Jean tidak bisa mengerti. Dihadapan seorang wanita yang sangat biasa dan dengan kecantikan yang sederhana ini, dia justru malah merasakan kedamaian seperti seorang anak yang letih dan ingin dipeluk hingga terlelap dalam dekapan. Jean perlahan meraih cangkir yang ada dihadapannya. Secangkir teh yang masih mengepul menarik perhatiannya. Ketika menyesap cairan pekat tersebut, seluruh tubuhnya terasa dibanjiri oleh kehangatan yang dia butuhkan. Jean menutup kedua matanya rapat-rapat. Apakah memang rasa teh pada dasarnya selalu senikmat ini? “Maafkan saya, saya tidak punya gula jadinya saya hanya bisa menyajikan teh tawar.” “Ini lebih dari cukup, Nyai. Rasanya sungguh nikmat.” “Syukurlah. Saya sangat khawatir karena tidak bisa memberikan hidangan terbaik.” “Sejujurnya semua ini melebihi harapan saya,” balas Jean jujur. Dia melirik kembali kearah potret yang terpajang. Menatap lekat-lekat dan sekali lagi dadanya terasa menyempit. Kegelapan tidak hanya merajai didalam dirinya, namun juga turun merajai bumi yang dipijaknya. Angin diluar berhembus masuk melalui celah rumah yang bolong, sedikit membuat api dalam lentera meliuk-liuk. Bunyi hewan nocturnal diluar bernyanyi syahdu. “Apakah saya bisa dibilang sangat tidak tahu diri bila berharap sekarang?” Jean tiba-tiba berucap sambil menatap kearah potret itu lagi, kemudian pandangannya mengarah pada Camelia dan putranya yang tengah asyik mengunyah singkong rebus dengan mulut belepotan lantaran dia mencelupkannya ke dalam sup jagung. “Apa yang kamu harapkan?” “Dimaafkan.” “Harapan akan selalu ada,” jawab Camelia. Suaranya terdengar tenang dan begitu bersahaja. Sesaat Jean merasa dia baru saja diterangi didalam kegelapan. Seolah wanita itu benar-benar memberinya ampunan padahal kenyataannya duduk perkaranya saja sang nyai tidak tahu. “Saya harap saya benar-benar diampuni.” “Saya percaya bahwa setiap orang bisa berubah. Bahkan meski kamu telah berbuat buruk dimasa lalu, saya yakin kamu punya alasan yang kuat sampai nekat melakukan hal buruk itu.” “Ya. Tapi dibandingkan itu saya lebih memilih untuk tidak dilahirkan saja sejak awal.” timpal Jean membuat suasana di ruang makan menjadi sangat canggung seketika.

Ingin terus membaca?

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 86 bab

  1. Bab 1Bab 1 Kesan Pertama
  2. Bab 2Bab 2 Fakta
  3. Bab 3Bab 3 Penuh Syukur

Terbitan baru