Lewati ke konten utama

Bab 3 Penuh Syukur

“Untung tadi kamu muntah sebelum makan masakan saya, Tuan Jean. Kalau sampai kamu muntah setelah menyantap masakan saya, saya mungkin akan sedih dan kecewa,” kata Camelia mencoba sekali lagi untuk menetralisir suasana yang terlanjur canggung beberapa saat yang lalu sambil menyendok sup jagung panas nan harum ke mangkuk Jean membuat si pria yang sempat merenung itu bisa sedikit memperlihatkan senyumannya. Senyuman yang sudah sangat lama dan jarang terlihat di bibirnya yang melengkung indah sehingga menampakan lesung di pipi kanannya. Senyuman yang mampu membuat pria maupun wanita bertekuk lutut dibawah kakinya. Tapi itu dulu. Ya, dulu sekali sebelum dia menjadi seorang narapidana. Setelah keluar dari penjara tidak ada satupun dari orang-orang yang dulu menjilat sepatunya mengumbar kata sayang dan cinta bersedia memberinya kesempatan. Para pria maupun wanita itu semua mendepak dia dan membanting pintu tepat didepan hidungnya bahkan sebelum Jean sempat mengatakan kata pertama. Berbeda sekali dengan wanita dihadapannya sekarang ini. Wanita sederhana, bertangan kurus namun kasar karena sering bekerja keras. Mengenakan baju yang lusuh tetapi berhati bersih tak tercela. Wanita yang lahir dari negeri jajahan bangsanya itu sama sekali tidak menghakimi kesalahan yang pernah dia perbuat di masa lalunya. Wanita itu benar-benar tulus menerimanya, tanpa syarat apapun. Nyai Camelia hanyalah seorang wanita biasa namun menarik dengan caranya sendiri. Dengan gelak tawanya ketika bercanda dengan putranya, kedua tangannya cekatan mengurus beberapa hal dalam satu waktu. Memasak dan juga menggendong tubuh montok putranya yang agak manja meski napasnya sampai tersenggal-senggal. Nyai Camelia itu istimewa. Karena itulah meski baru bersamanya sebentar Jean langsung tahu bahwa Abel adalah anak yang paling beruntung dan bahagia di dunia ini karena memiliki ibu yang sesempurna Nyai Camelia. Jean sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa rumah yang sangat tidak terurus ini dapat memiliki aroma harum yang menimbulkan gelenyar hangat dihatinya. Seolah kekosongan itu dapat terisi penuh dan membuncah dengan rasa manis. “Makanlah Tuan Jean. Jangan hanya dilihat saja, karena saya membuatnya bukan untuk dipandang.” Mendapatkan titah demikian Jean mulai mengambil sendok yang tersedia sembari mengawasi Nyai Camelia yang bergerak ke sekeliling dapur serta meja makan untuk merapikan hasil karya putranya, Abel yang kini sudah tertidur lelap. Hasil karya itu berupa lumatan rebus singkong yang berterbangan ke segala arah dan juga ceceran sup jagung yang tumpah kemana-mana. Wanita itu nampak sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini, sebab Jean tidak menemukan adanya keluhan yang biasa akan keluar dari mulut orangtua yang mengurus anak-anak mereka yang masih kecil. Sesekali wanita itu menegakan tubuhnya dengan agak meringis, nampaknya dia merasakan bagian punggung bawahnya sedikit kaku dan keram. Tentu saja itu menjadi dua kali lipat menyiksa karena dia sedang hamil pula. Jean mengamati seraya makan dengan setenang mungkin, meskipun rasanya mustahil baginya untuk bersikap demikian karena sejujurnya dia telah sangat kelaparan. Air liurnya yang sudah menggenang di bawah mulutnya sejak dia mencium bau nikmat dari sup jagung yang disediakan khusus untuk dirinya. Dan benar saja ketika pria itu menyendokan sup jagung itu kemulut rasanya senikmat aromanya. Dia yakin, bila dia masih hidup hingga tiga ratus tahun lagi pun dia tidak akan pernah melupakan rasa masakan ini. Belum lagi ketika dia mengkombinasikan sup jagung tersebut dengan rebusan singkong hangat yang baru diletakan oleh Camelia di atas piringnya. Singkong rebus hangat lembut yang baru keluar dari panci besar tersebut telah beri sedikit garam sehingga ada rasa gurih. Sebuah kombinasi yang sempurna untuk kudapan makan malam yang terbilang mewah untuk Jean. Namun ketika seluruh hal baik ini berjalan sebagaimana mestinya, kenangan buruk terlintas kembali dibenak pria itu. Kenangan akan sosok sipir bermata satu di penjara dahulu. Dia selalu memiliki mata yang menatapnya tajam lengkap dengan senyum mengejek dan mencemooh yang tidak pernah lepas dari air muka pria itu. Sipir sialan itu selalu menyuruhnya untuk menggonggong lebih dulu layaknya seekor anjing setiap kali jam makan tiba. Setelah puas menghinanya barulah dia akan memberinya upah dengan cara memberi jatah makan di atas piring kaleng yang dilemparkan begitu saja hingga isinya berhamburan diatas lantai yang kotor. Sesungguhnya hanya rasa lapar saja yang membuat Jean melupakan harga dirinya, dia tidak keberatan mencomot makanan itu dari lantai dan mengunyahnya dengan mati rasa. Hati pria itu terasa sakit, membuat dia kemudian tanpa sadar mendesah berat membuat wanita baik hati yang sibuk disekitarnya itu mulai menoleh dan memberikan atensi berlebih kepadanya lagi. Jean telah menandaskan hidangan sederhananya, namun Camelia justru menemukan bagaimana netra abu-abu gelap yang semula menghangat itu kembali berubah menjadi jenis tatapan tak berdaya layaknya hewan yang terluka dan dipojokan oleh banyak luka. “Kemarilah Tuan Jean, kamu mungkin akan merasa lebih baik bila sudah membersihkan diri,” saran Camelia akhirnya sambil menaruh sebuah ceret besar berisi air di atas tungku kayu yang masih menyala. Jean menatap tak percaya pada apa yang sedang wanita itu lakukan terlebih ketika dia menyadari bahwa Camelia sedang menyiapkan beberapa peralatan mandi dan baskom berisi air hangat yang telah dia didihkan entah sejak kapan. Jean mendekat, dia berdiri diam ketika Camelia menuntunya ke pintu belakang dan menaruh baskom air tersebut disana. Pria menatap handuk putih yang Camelia berikan dengan tangan sedikit gemetar sebelum membawa benda itu ke pipinya. Handuk itu begitu putih, lembut, bersih, dan juga harum sabun. Entah sudah berapa tahun lamanya Jean tidak pernah memegang benda yang selembut dan seputih ini dalam hidupnya. Sepuluh tahun mendekam dibalik jeruji besi dia hanya bisa menggunakan handuk kumal berbau sangat apek sebagai lap badan yang bahkan belum tentu setiap enam bulan sekali handuk itu diganti oleh sipir penjara. Jean masih belum sepenuhnya dapat mempercayai hal baik yang dia terima baru baru ini. Pria itu berdiri kaku dengan lengan dimasukan secara perlahan ke dasar baskom. Setelah memejamkan matanya dia lantas menangkup air hangat itu dengan kedua belah telapak tangannya dan membasuhkannya ke wajah juga ke rambutnya. Sungguh betapa dia sangat meresapi semua kemewahan ini. Kepala pria itu tertunduk sehingga bulir-bulir air hangat kembali jatuh dan menetes ke dalam baskom dari helaian rambut sewarna emasnya. Erangan lembut keluar dari bibirnya yang setengah membuka. Kemudian dengan kegembiraan polos layaknya seorang anak kecil dia kembali membasuh berkali-kali wajahnya yang lusuh untuk kemudian mengibas-ngibaskan rambutnya seperti anak anjing kecil hingga air tersebut memercik ke segala arah. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah mencuci muka dengan air hangat. Air yang dikenalnya hampir sepanjang umurnya hanyalah air dingin. Entah itu dari sungai, danau, atau palungan tempat minum kuda. Tidak pernah dia mendapati kemewahan seperti ini dalam hidupnya. Perlahan Jean menyeka wajah, leher, dan rambutnya dengan handuk putih lembut tersebut. Handuk itu terlalu nyaman digunakan untuk hal seperti ini, baunya begitu harum dan berbau udara segar. Alasan mengapa Jean berspekulasi demikian adalah karena seringkali dia mengeringkan dirinya sendiri dengan kemeja lusuh yang dia kenakan atau jika sedang beruntung dengan bantuan sinar matahari.

Itulah semua yang tersedia saat ini.

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 86 bab

  1. Bab 1Bab 1 Kesan Pertama
  2. Bab 2Bab 2 Fakta
  3. Bab 3Bab 3 Penuh Syukur

Terbitan baru