/0/34552/coverbig.jpg)
Bab 3 Jangan Sampai Tertipu Olehnya!
Mata Didi melebar lalu pupil matanya mengecil, dia menatap penuh ketidakpercayaan pada Liany. Bukankah Liany membencinya? Kenapa dia justru menawarkan diri padanya sekarang?
Apa perasaannya terhadap dirinya berubah?
Itu tidak mungkin terjadi begitu saja!
Didi ingat bagaimana Liany memandangnya dengan jijik saat dia terus mengucapkan kata-kata menyakitkan yang tak terhitung jumlahnya padanya. Sedetik kemudian, seolah-olah seseorang menuangkan seember air dingin ke atas kepalanya.
"Lepaskan tanganmu dariku!" Dia menggenggam lebih erat lagi tangan Liany. Tempat yang dia pegang langsung memerah. "Jangan menguji kesabaranku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu! Kamu adalah suamiku." Melawan rasa sakit di pergelangan tangannya, Liany mendekap pria itu dengan seluruh kekuatannya dan menekan kepalanya di dadanya. "Aku melakukan ini bukan untuk orang lain; tapi karena aku mencintaimu dengan tulus."
"Cih!" Didi terkekeh, kilatan dingin muncul di matanya. "Apa kamu baru saja mengatakan kamu mencintaiku? Bukankah beberapa waktu yang lalu, kamu sendiri yang mengatakan kamu membenciku dan mengharapkan kematianku?"
"Eh ... bukan aku yang mengatakannya! Aku tidak akan pernah berkata seperti itu," bantah Liany keras kepala. "Bahkan jika itu benar-benar terjadi, itu bukanlah diriku yang sebenarnya Sekarang adalah diriku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, Didi! Sungguh sangat mencintaimu."
Pernyataan ini mengejutkan Didi seperti sambaran petir di siang bolong. Jantungnya beberapa kali berhenti berdetak.
Sudah lama sekali dia berharap mendengar kata-kata itu. Namun, dia tidak dapat menahan perasaan bahwa itu terdengar sangat tidak nyata sekarang.
Semua itu hanya kebohongan belaka. Liany hanya bersandiwara demi pria itu dan Keluarga Wardana. Itulah alasan di balik semua tindakannya!
"Lepaskan aku! Aku bersungguh-sungguh!"
Begitu suara Didi menjadi dalam, Liany mendongak dan mendapati matanya menyala-nyala bagai mata binatang buas. Karena terkejut, tanpa sadar dia melepaskannya.
Ekspresi ketakutan di wajahnya membuat Didi menggelengkan kepalanya untuk mengejek dirinya sendiri. Astaga! Dia hampir memercayai omong kosong ini. Sungguh wanita yang tidak tulus!
"Katakan padaku, Didi. Apa yang dapat aku lakukan padamu agar percaya bahwa aku bersungguh-sungguh?"
"Setelah semua yang kamu lakukan, apa kamu pikir aku masih akan memercayaimu?" Tanpa menunggu jawaban darinya, Didi masuk ke kamar mandi, meninggalkan Liany sendiri.
Di tempat tidur, Liany duduk diam. Dia terus linglung sampai dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Pikirannya kembali melayang jauh. Namun, dia segera menepis pikirannya dan mencoba memikirkan kejadian masalah yang ada depan mata.
Sepertinya dia benar-benar kembali ke malam pernikahan mereka tiga tahun lalu.
Saat itu, Liany tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan Didi. Namun, setelah menyadari bahwa itu akan memberikan manfaat besar bagi Keluarga Wardana dan kekasihnya, dia terpaksa mengubah pikiran dan menikah dengannya.
Untuk merahasiakan pernikahan mereka, dia menolak keras mengadakan upacara pernikahan atau membuat pengumuman resmi tentang pernikahan mereka. Dia dan Didi baru saja pergi ke Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka sebelum dia pindah ke rumahnya.
Saat Liany memikirkan betapa buruknya dia memperlakukan Didi sejak awal, membuat hatinya sakit karena penyesalan.
Didi telah beberapa kali membiarkannya melakukan apa pun yang dia inginkan. Ini semua karena dia cinta dan memanjakan Liany.
Sayangnya, Liany meninggal tanpa mengetahui tentang cintanya, apalagi mengakuinya. Saat itu, yang dia pedulikan hanyalah menjaga keperawanannya dan menantikan hari di mana dia akhirnya akan kembali ke pelukan cinta sejatinya.
"Liany, Liany! Bagaimana kamu bisa begitu bodoh? Kamu menolak pria baik-baik untuk mengejar seorang bajingan? Kamu orang terbodoh yang pernah ada!" Liany menarik napas dalam-dalam. Menatap cahaya yang datang dari kamar mandi, dia langsung mengambil keputusan.
Di kamar mandi, Didi berdiri di bawah pancuran yang mengucurkan air yang sangat dingin. Dia ingin cepat-cepat mendinginkan tubuhnya yang panas.
Beberapa menit yang lalu, dia hampir kehilangan kendali dan menuruti permintaan Liany. Dia tidak bisa memahami perilaku anehnya. Tiba-tiba wanita itu bertingkah seperti seseorang yang sepenuhnya berbeda. Liany yang dia kenal tidak akan pernah menawarkan dirinya padanya.
Membayangkan bagaimana bibir kemerahan Liany bergerak saat dia menatapnya dengan mata menggoda sudah mengirimkan sensasi ke selangkangannya. Jantungnya berdebar kencang lagi.
"Berhentilah memikirkan itu! Jangan sampai tertipu olehnya." Didi menampar kepalanya dengan kedua tangannya beberapa kali. Setelah itu, dia menarik napas dalam-dalam dan perlahan-lahan kembali tenang.
Daftar bab
Total 225 bab
/0/15270/coverbig.jpg)
/0/23719/coverbig.jpg)
/0/36659/coverbig.jpg)
/0/15724/coverbig.jpg)
/0/36656/coverbig.jpg)
/0/16889/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)