Lewati ke konten utama

Bab 2 22 September 2014

Murid baru datang ke kelas ku tapi aku malas untuk beramah tamah lagipula itu hal yang wajar untuk tidak mengenal teman satu kelas,ya setidaknya itu hal yang wajar untukku.Lebih baik memikirkan rencana untuk membeli novel baru tanpa di marahi oleh ibu mengingat koleksi novel yang terlalu banyak menurut ibu tapi terlalu sedikit untukku.

"Tiffany."Sebuah suara panggilan membuyarkan lamunan ku tentang novel.

Aku pikir, aku mengenal suara yang memanggilku tapi untuk apa wali kelas memanggilku.Aku tidak berbuat salah hari ini aku juga tidak tidur di dalam kelas.

"Hei! kamu tidak tidur disana kan?"ucapnya terdengar kembali tapi kali ini membuatku tersadar jika sedari tadi aku memunggungi beliau.

Aku berbalik badan dengan memasang senyum manis lima jari berharap memang tidak ada kesalahan yang aku perbuat hari ini.

"Bapak David yang terhormat ada apakah gerangan?"ucapku basa-basi. "Cepat kemari!"ucapnya melambaikan tangan ke arah ku.

Aku menghampiri beliau dan menunduk hormat. "Ada apa pak?"

"Kamu mau ke kelas kan?tolong ajak dia sekalian,dia murid pindahan satu kelas denganmu," ucap wali kelas menjelaskan tanpa memberiku kesempatan untuk bertanya. "Jimmy kamu ikut dengan Tiffany dia ketua kelasnya,"lanjutnya.

Pak David berlalu pergi setelah menitipkan anak baru itu padaku sepertinya dia sedang buru-buru terlihat langkah kakinya yang tergesa.

Aku memandangi Jimmy dari atas ke bawah,proporsi tubuh yang sempurna aku menebak tinggi cowok ini 170cm cukup untuk membuatku terlihat kerdil di sampingnya yang hanya memiliki tinggi badan 155cm.

Sungguh dunia yang tak adil.

"Jimmy,"ucapnya menyodorkan tangannya dan aku baru menyadari jika dia mempunyai senyum yang manis dan dimple kecil tampak malu-malu keluar jika dia tersenyum. "Aku tau." Tanpa memperdulikan basa-basinya aku pergi meninggalkan Jimmy. **** Semua orang tau jika kesan pertama akan selalu melekat kepada kita tak peduli seberapa buruk hal orang itu lakukan kepada kita.Begitu juga dengan Jimmy,waktu itu aku tidak mengira bahkan tak sekalipun terbesit olehku jika vanila akan begitu menyakitkan untukku. Haruskah aku mengutuk aroma vanila yang ada di dunia ini atau menyalahkan diriku karena bertemu dia atau bahkan membenci takdir yang telah mengikat kami berdua?. Aku tidak tau dan itu masih abu-abu untukku.

*** Suasana kelas sangat rusuh tak ada yang namanya ketenangan disini bahkan aku saja terpaksa menjadi ketua kelas jika saja waktu itu aku tidak di jebak pasti sekarang aku lebih memilih untuk tidur di UKS.

Biar aku ceritakan sedikit tentang sekolah ku,SMA GANDHI sekolah favorit ke dua di kotaku hanya sebagian kecil orang yang dapat masuk kesini bahkan tes masuknya saja sudah melebihi tes masuk perguruan tinggi.Berterima kasihlah kepada otakku yang pintar ini dan dapat membuatku masuk ke sini,walaupun berada di urutan ranking lima ratus tapi tidak dapat menyangkal fakta jika aku sudah menjadi siswa di SMA Gandhi. Ini masih tahun pertama sekolah menengah dan beberapa bulan lagi ada kenaikan kelas dan pembagian jurusan. Tentu saja aku sangat ingin masuk IPA karena fakultas kedokteran adalah tujuan ku. Sudahi cerita tentang sekolah dan kembali ke suasana kelas yang masih tetap seperti pasar malam,sia-sia saja aku berteriak menyuruh mereka diam. Aku bagaikan semut kecil yang berteriak melawan sekumpulan gajah yang artinya itu tidak ada gunanya.

Aku membanting buku sejarah yang tebal di atas meja guru dan untungnya berhasil.

"Kalian cepat duduk!"aku menunjuk sekelompok anak lelaki yang sedang asyik menggelar konser di atas meja. "Ada anak baru namanya Jimmy."Mempersilakan Jimmy untuk perkenalan,aku pergi untuk menemui meja kesayanganku.

Belum sempat aku mengistirahatkan kepalaku yang berat seseorang lebih dulu menahan kepalaku. "Pinjam catatan fisika," ucapnya tak tau malu. "Catatan jawaban tugas,"timpal ku mengerti maksudnya. "Catatan matematika."Satu orang lagi yang lebih tak tau malu. "Kalian, sangat serasi!"balasku menggerutu.

Mereka adalah Sasha dan Felix sahabat terbaikku walaupun aku baru mengenalnya saat acara orientasi tapi aku menyukai mereka.Sasha dan Felix sudah berteman sejak mereka kecil bahkan bisa dikatakan mereka sudah bersama sejak baru lahir karena orang tua mereka yang bersahabat.

Disaat aku mengelus dada dengan kelakuan pasangan dua sejoli itu tiba-tiba kursi di sampingku bergeser dan tebak siapa yang berani menggeser kursi keramat ku.

Aku menaikkan satu alis ku untuk bertanya dan pelaku utama itu hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.

Oh kurang ajar sekali!

"Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?"tanyaku ketus. "Lalu aku harus duduk dimana?semua tempat sudah terisi lagipula aku anak baru,"ucap Jimmy santai tanpa beban.

Mataku mengitari seluruh kelas. Memang tidak ada tempat yang kosong tapi itu juga bukan alasan untuk duduk di kursi kesayanganku,kan? Lagipula aku juga tidak suka ada orang lain yang ada di dekatku.

"Hai tampan, kenalin Sasha lambang kecantikan SMA Gandhi yang baru,"ucap Sasha dengan centilnya.

Felix nampak tidak suka dengan Sasha yang sok akrab tapi aku bisa menyimpulkan Felix cemburu dengan Sasha yang memuji Jimmy tampan.

"Kerjakan tugasmu!" ucap Felix dengan menjewer telinga Sasha untuk menghadap ke depan. "Hey,lepaskan tangan bau mu!"

Jimmy masih betah duduk di sana tak berniat untuk pindah,mungkin aku harus menggunakan kekerasan untuk mengusirnya menendangnya dari kursi,mungkin.

"Perhatikan semua! beberapa bulan lagi kenaikan kelas jadi minggu ini hingga minggu depan kalian ada ujian kejuruan," ucap wali kelas yang tiba-tiba masuk mengacaukan rencana ku mengusir Jimmy. "Jimmy nanti temui saya di kantor,Tiffany bantu Jimmy beradaptasi sebagai ketua kelas dan teman sebangku juga,"lanjut Pak David. "Tap...." "Baik Pak!" ucap Jimmy yang dengan berani memotong ucapanku.

Aku melotot ke arah Jimmy tapi sang empu hanya tersenyum lembut. "Sebagai ketua kelas dan teman sebangku!kata wali kelas," ucap Jimmy sebelum berlalu pergi dari kelas.

Huh! sungguh aku tak percaya dengan kelakuan anak baru itu,belum satu hari dia menjadi anak baru tapi sudah berani menjajah daerah kekuasaan ku.

*** "Aku tidak mau makan! aku sedang diet Felix." "Kau tidak mau makan nanti biar aku yang ngadu sama ibumu!" "Dasar tukang ngadu!" "Makanya makan Sasha."

"Diam!" Dasar penyamun,otakku sedang kepanasan seperti ini mereka malah ribut sendiri hanya karena diet dan makan.

Aku pergi meninggalkan Felix dan Sasha memberikan kebebasan ruang untuk berdebat di kantin.lebih baik aku ke rooftop menyendiri dan menikmati kebebasan karena hanya tempat itu yang sepi tanpa kebisingan manusia.

"Hai ketua kelas." Aku memutar bola mata mendengar sapaan dari orang itu.

Kenapa harus dia lagi? Apa tidak cukup hanya bertemu dengan di kelas? Kenapa Jimmy ada dimana-mana?

***

Ingin terus membaca?

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 11 bab

  1. Bab 1Bab 1 Tiffany Ananda Putri
  2. Bab 2Bab 2 22 September 2014
  3. Bab 3Bab 3 Ternyata dia...

Terbitan baru