Lewati ke konten utama

Bab 3 Ternyata dia...

Akhirnya yang ditunggu datang juga,apalagi jika bukan bel pulang sekolah. Sungguh surga ke dua setelah bel makan siang untuk kami para pelajar.

"Ayo main sebentar sebelum pulang,"ucap Sasha bersemangat. "Kalian mau main kemana?"timpal Jimmy tiba-tiba bahkan tidak ada yang mengajaknya bicara.

Dasar si pencari perhatian!.

"Kalian main saja sendiri."Aku terlalu malas untuk keluar rumah hari ini apalagi Jimmy si rese ini juga akan ikutan nanti,menambah kadar kebosanan ku saja.

"Benar kalian main saja sendiri,"ucap Jimmy lagi lebih cepat dari kereta. Express.

"Bukannya tadi kau bertanya?"balas Sasha yang juga heran dengan kelakuan cowok aneh ini.

"Apa salahnya aku bertanya?lagipula aku mengira Tiffany akan ikut."Mengabaikan omong kosong tak berguna milik Jimmy aku sudah selesai merapikan alat tulis ke dalam tas dan bergegas untuk pulang.

***

"Hei... tunggu aku!"interupsi dari seseorang menghentikan langkah ku yang hampir mencapai gerbang utama sekolah. "Kenapa jalanmu seperti pencuri di kejar polisi? cepat sekali,"lanjutnya dengan nafas terengah.

"Siapa suruh kau mengejar ku Tuan Jimmy?" Yup... yang mengejar ku Jimmy si cowok aneh yang selalu ada di mana-mana bahkan muncul ditempat yang tak terduga.

"Ayo pulang!"tanpa menjawab pertanyaan ku Jimmy malah menarik tanganku.

'Apa maksud cowok aneh ini?'

"Kau gila ya!"aku menghempaskan tangan Jimmy yang tanpa izin menggandeng tanganku.

Jimmy memandangi tanganku yang terlepas dari genggamannya dan mengangkat satu alisnya sebagai pertanyaan.

Tak lama kemudian cowok itu tersenyum simpul dan berdiri tegak memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam sekolah. "Tentu saja aku tidak perlu menjadi gila hanya untuk mengajakmu pulang bersama,"ucapnya santai.

Benar tebakanku ada yang salah dengan cowok ini kenapa dia selalu mencari gara-gara dengan ku sepanjang hari ini. Jimmy si cowok aneh ini benar-benar orang gila.

Aku melewatinya membiarkan orang aneh ini menikmati waktunya sendiri.

"Tunggu aku!hey ketua kelas!"

Walaupun aku tidak memperdulikannya tapi aku masih mengetahui jika cowok itu terus saja mengikuti ku sepanjang jalan bahkan hingga sampai di daerah komplek rumahku.Walaupun tidak ingin negative thinking tapi tidak bisa di pungkiri aku masih mewaspadainya.

"Kau!" Aku sudah terlalu geram dengan kelakuannya,sungguh tidak sopan mengikuti orang yang baru dikenal yang bahkan belum genap satu hari hingga ke rumahnya apalagi seorang gadis.

'Apa selain gila dia juga memiliki masalah dengan otaknya?'

Jimmy hanya mengangkat kedua bahunya dengan tangan yang masih setia di dalam saku celananya dan berlalu melewatiku. Aku melongo tak percaya melihat dirinya. "Hei berhenti disana,orang aneh!" aku mengejar Jimmy berniat menghentikan kegilaannya.

"Jimmy sudah pulang sekolah?" Aku berhenti mengejar cowok itu saat aku melihat mama menyapa Jimmy di depan apartemen kami.

"Mama mengenalnya?" Bukannya mendapatkan jawaban malah mendapat pukulan di lengan oleh mama.

"Sudah mama bilang semalam jika hari ini nak Jimmy akan pindah kemari!" balasnya.

"Lalu apa urusanku dengannya?" tanyaku sewot karena mama yang entah alasan apa memukulku,apalagi di depan cowok ini.

Sedikit melukai harga diriku!

"Tentu saja urusanmu! karena nak Jimmy hanya seorang diri disini orang tuanya tinggal di luar negeri dan menitipkannya ke kita,"ucap mama yang hampir terpancing emosi juga.

Aku ingat sekarang,semalam mama memang mengatakan akan ada anak sahabatnya yang akan pindah di unit apartemen di samping rumah kita tapi aku tidak menyangka yang di maksud mama itu cowok menyebalkan di depanku ini.

Jimmy tiba-tiba menghampiri mama dan merangkul pundak mama,merayu dan menenangkannya.

"Sudahlah tante lagipula aku bisa menjaga diri sendiri,lihat bukannya aku sudah besar sekarang?"ucapnya dengan mengedipkan matanya padaku dan mengajak mama untuk masuk ke dalam.

Aku melongo tak percaya,bahkan aku lebih tidak percaya dengan mama yang meninggalkan anak gadisnya sendirian. Kenapa rasanya aku semakin tak suka padanya ya?.

Dasar tukang cari perhatian!.

**** Nasi di depanku rasanya sudah seperti semangkuk batu yang enggan aku sentuh.Selera makan ku menguap entah kemana apalagi kedatangan seorang yang tak ingin aku lihat untuk selanjutnya ikut bergabung di meja makan.

"Ayo di makan dagingnya nak Jimmy. lihat tubuhmu begitu kurus," ucap mama mengambilkan sesendok daging kepada Jimmy.

Yup... orang itu Jimmy,orang yang menghilangkan nafsu makan ku.

Hendak saja aku ingin angkat kaki dari meja makan sebelum kakak laki-laki ku bersuara. "Bakso ikan kesukaanmu,Fany,"ucapnya meletakan beberapa bakso ke dalam mangkuk nasiku.

Memang kakakku yang terbaik!

"Bagaimana kabar ayahmu Jimmy sudah lama paman tidak bertemu dengannya." "Papa sedang melakukan penelitian di situs sejarah yang baru ditemukan jadi sedikit sibuk akhir-akhir ini." "Kehidupan arkeolog memang tidak mudah,"ucap mama yang seakan mengerti saja. "Kamu tau nak Jimmy?dulu waktu kalian kecil aku dan ibumu pernah berjanji untuk menikahkan kalian," lanjut mama dengan tertawa kecil tapi berbeda dengan ku yang langsung tersedak jus jeruk yang sedang aku minum.

Kakak menepuk punggungku pelan,menenangkan ku dari berita besar yang mengejutkan itu.

"Sudahlah itu kan hanya perjodohan waktu kecil,mereka sudah besar sekarang," ucap ayah mengembalikan suasana yang canggung. "Iya aku tau,sudah ayo makan."

Aku melirik ke arah Jimmy tapi yang aku lihat malah cowok itu yang mengedipkan matanya ke arahku.

Aku mendengus melihat kelakuannya,sepertinya hanya aku yang terkejut dengan berita masa kecil itu.

Setelah makan malam Jimmy masih belum pulang dan malah asyik berbincang dengan mama dan papa dan aku, sungguh tak peduli.

Aku sedang mengerjakan tugas di dalam kamar ketika kakak ku datang dengan segelas susu. Kakak tersenyum mengelus puncak kepalaku sebelum duduk di ranjang samping meja belajar. "Sedang belajar apa?"tanyanya mengintip buku otonomi tubuh yang sedang aku baca. "Calon dokter keluarga kita memang sangat rajin," lanjutnya tersenyum lembut ke arahku. "Tentu saja aku harus rajin supaya bisa menyusul mu ke fakultas kedokteran kelak."

Tujuanku memang fakultas kedokteran tapi keinginanku yang sebenarnya adalah untuk selalu bersama kakak.Aku sangat mengaguminya,kakak sekarang kelas tiga SMA jurusan IPA dia sangat pintar bahkan berhasil mendapatkan rekomendasi ke fakultas kedokteran terbaik di negara ini.Selain pintar dia juga laki-laki yang lembut tidak pernah meninggikan suaranya kepada wanita yang paling penting dia sangat menyayangiku,betapa beruntungnya wanita yang kelak menjadi istrinya.

"Tidurlah lebih awal malam ini,"ucapnya kembali mengelus kepalaku.

"Kak,"panggilku sebelum dia benar-benar keluar dari kamar. "Aku pasti bisa masuk fakultas kedokteran."

Kakakku hanya mengangguk dan tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.

*** _to be continued_

Itulah semua yang tersedia saat ini.

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 11 bab

  1. Bab 1Bab 1 Tiffany Ananda Putri
  2. Bab 2Bab 2 22 September 2014
  3. Bab 3Bab 3 Ternyata dia...

Terbitan baru