Lewati ke konten utama

Bab 2 Helena (2)

Beberapa saat kemudian, Helena bangkit dari telentangnya, lalu turun dari ranjang dan mengambil handuk kecil yang tersedia di sana. Dalam keadaan masih telanjang bulat, dia lantas berdiri depan cermin besar seraya menyeka seluruh wajahnya membuang semua lendir yang tersisa. Kedua bola mata Helena sesekali menatap jengkel bayangan Farel dari balik cermin besar itu. Sementara Farel yang masih telentang dalam keadaan bugil, tersenyum penuh kemenangan saat membalas tatapan kesal dari Helena, “Seharusnya kamu biarkan, Helena. Kamu lebih cantik dengan lendirku itu,” ucap Farel enteng. “Kenapa sih sampai kena rambutku segala?” gerutu Helena sambil mengusap rambutnya dengan handuk. “Hehehe,” Farel terkekeh sambil bangkit dari telentangnya, lalu duduk bersila di atas kasur. “Biarkan saja lendir itu, Len. Aku yakin, Revan akan suka melihat wajahmu yang telah aku facial itu,” goda Farel sambil tertus terkekeh. Helena menyeringai, dengan jahilnya dia melemparkan handuk bekas ngelap kotoran di wajahnya itu ke arah Farel. “Hey, jangan lempar sama aku!” protes Farel. Helena tak peduli, dia lantai memakai kembali celana dalamnya lalu meraih branya. “Janga pergi dulu. Tinggallah sebentar lagi, Hel,” cegah Farel. Helena merapikan stockingnya kemudian berusaha mengenakan pakaiannya. “Gak bisa. Aku harus pergi karena ada janji dinner dengan Revan!” balasnya. Farel mengamati Helena yang tengah mengenakan kembali pakaiannya. Bentuk tubuhnya tampak begitu indah. “Bisa bantu dengan resleitingku?” ucap Helena, seraya menaikan dan menahan rambutnya ke atas, lalu memunggungi Farel. Bukannya membetulkan resleiting Helena, Farel malah menjulurkan tangannya ke depan. Dia lantas meraba dan merams buah dada Helena dari luar branya, kemudian menciumi leher Helena dengan lembut. “Tinggallah sebentar lagi, Len,” bisknya, “Masih banyak waktu, kita bisa mengulanginya lagi,” rayu Farel. “Tidah, Farel!” tolak Helena, namun di saat bersamaan dia justru merasakan putingya kembali mengeras. Farel juga merasakan itu dan dia makin kuat mengelus dan menjepitkan dua jarinya pada putting itu. Tak ayal, rasa nikmat kembali menyergap tubuh Helena, dari puting hingga clotirsnya. ‘Oh God, Farel sangat tahu betul cara merangsangku,’ maki Helena. Tapi akhirnya dia berhasil mengumpulkan kesadarannya dan segera mendorong Farel untuk menjauh. “Farel, aku gak bisa. Sudah aku bilang, ada janji dinner dengan Revan!” Farel mengangkat bahunya, menyerah dan kemudian dia tarik resleiting baju Helena ke atas. “Terus, apa hubungan kalian akan berlanjut lebih serius lagi?” tanya Farel. Helena merapikan rambut dan make up-nya. Berusaha mengabaikan denyutan geli pada belahan selangkangannya. “Aku belum tahu. Aku sangat menyukai Revan, tapi belum yakin apa ini akan terus permanen atau tidak. Maksud aku, kami bahkan belum pernah bicara tentang pertunangan apalagi pernikahan,” jawab Helena. Farel meraih paha Helena dan mulai merayap naik hingga berhenti pada pantatnya yang kencang. “Lalu kalau kamu jadi tunangan dan menikah dengan Revan, apakah kamu masih mengijinkanaku menikmati tubuh indahmuini?” goda Farel sambil menyeringai. “Aku gak tahu!” tukas Helena. “Kenapa gak kamu tanyakan itu pada Anggi, tunanganmu?” Nada suara Helena membuat Farel sedikit terkejut. “Apakah kamu marah padaku karena pertunangan itu?” tanya Farel. “Tidak. Tentu saja tidak,” jawab Helena cepat. “Aku turut bahagia untuk kalian dan aku suka dengan Anggi. Dia sangat baik, ramah dan cerdas,” jawab Helena. “Tapi, seharusnya kita tidak boleh lagi melangkah terlalu jauh karena masing-masing sudah mempunyai pasangan. Apakah kamu tidak merasa, kalau seharusnya kita segera menyudai semua ini. Kita sudah sama-sama milik orang lain.” Helena lebih menegasakan. “Ayolah, Len,” jawab Farel dengan sedikit sinis. “Kita dulu sudah pernah punya pasangan, tapi sama-sama tidak protes. Kamu juga kan enjoy menjalaninya,” paksa Farel. “Tapi sekarang kamu sudah tunangan dengan Anggi, brengsek!” teriak Helena kesal. Farel masih tetap sinis. “Oh, oke-lah. Hubunganku dengan Anggi belum berjalan terlalu lama. Kamu kan tahu kalau tunangan kami baru berjalan sebentar. Kenapa kamu jadi marah dengan tunangan itu?” sergahnya. “Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Helena balas menantang, “Apa kamu selamanya akan terus selingkuh di belakang Anggi?” Tatapan mata Helena makin tajam. Farel kembali rebahan di atas ranjang, kedua tangannya di pakai sebagai bantal kepalanya, “Mungkin,” jawabnya ngambang namun tanpa beban. Dengan mata terbelalak, Helena menyusul duduk di tepian ranjang. “Kamu bercanda kan, Farel? Bahkan setelah kamu menikah nanti, kamu akan tetap selingkuh? Bagaimana mungkin kamu mengkhianati Anggi seperti itu? Aku kira kamu benar-benar mencintai Anggi, Farel!” Suara Helena sedikit pelan, seakan mengandung kesedihan mendalam. “Tentu saja aku mencintai Anggi, karena itu dalah alasanku akan menikahi dia.” Farel lantas bergeser dan duduk di sebelah Helena. “Dengar Helena, kita sudah berteman sangat lama, kan? Jadi jangan marah kalau aku katakan realita seperti ini. Dan kamu harus dengar ini, ‘selingkuh itu sangat menyenangkan’, Helena.” “Apa? Menyenangkan maksudmu?” tanya Helena dengan gusar. “Kamu dengar apa yang sudah aku katakan barusan? Ini semua tentang jadi nakal. Tentang melanggar batasan. Dan tentang resikonya. Kalau kamu menjalani segala sesuatu dengan cara lurus-lurus saja, kehdiupanmu, termasuk seksualmu akan jadi sangat membosankan.” “No!” sergah Helena tak terima. “Itu sebabnya yang mungkin kamu sering dengar, sesungguhnya orang-orang yang sudah menikah itu banyak yang jarang berhubungan badan stelah lama menikah.” “Why?” “Karena seks itu hanya jadi menyenangkan kalau dilakukan dengan nakal dan sedikit terlarang. Kamu bisa baca juga novel-novel dewasa, kalau ada unsur dewasanya, tapi yang bermain ranjang itu pasangan suami istri yang sah, tentu kurang seru dibacanya.” “Kamu memang gila, Farel!” “Jadi, mungkin aku akan terus selingkuh di belakang istriku, demi mendapat kesenangan seks, bukan untuk mengalihkan cinta. Selingkuh hanya sekedar iseng agar hidup tidak membosankan, Helena!” “Oh my God, Farel!” Helena makin terbelalak. “Selingkuh akan membuatku tetap tertarik dengan seks bersama istriku. Dan itu bagus untuk pernikahan kami nantinya.” Farel bela diri dan Helena benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Ya, kalau menurutmu benar begitu, tetaplah dengan prinsifmu itu, hahahaha,” ucap Helena sambil tertawa. “Tapi kamu harus cari selingkuhan yang lain, karena kalau Revan sudah melamarku, maka semua ini harus kita akhiri,” tukas Helena tegas. “Hmmm,” gumam Farel sambil menjulurkan tangannya kembali membelai paha Helena, lalu dia dekatkan wajahnya pada wajah Helena, “Ayolah, Len. Kamu tak mungkin bisa melakukan itu,” bisiknya di telinga Helena. “Ini akan jadi jauh lebih menyenangkan, setelah kita sama-sama punya tunangan apalagi setelah menikah.” Tangan Farel berhenti di balik pakaian Helena. Detik berikutnya dia sudah membelai kulit telanjang Helena di atas stocking. Farel juga mencumbu leher Helena, arena sensitifnya akan selalu dengan mudah memicu Helena terangsang hebat. Tangan Helena mencoba menghentikan laju tangan Farel dalam pakaiannya, tapi Farel terus melaju dan berikutnya dia sudah sampai pada bahan tipis celana dalam berenda yang dikenakan Helena. Farel memberinya sebuah french kiss dan Helena tiba-tiba saja kembali membuka kedua pahanya untuk memebrika keleluasaan pada tangan nakal lelaki tunangannya Anggi. Farel segera menggesek-gesek kembali clitoris Helena dari luar celana dalamnya. ‘Oh my God,’ Helena melenguh dalam hati sambil kembali meresapi sesuatu yang sangat nikmat dalam dirinya. “Apa? apa maksudmu, lebih menyenangkan tadi itu, Farel?” Dengan susah payah Helena coba bertanya saat dengan perlahan tubuhnya mulai menggeliat menahan geli akibat serangan tangan Farel. Farel menarik Helena untuk berdiri, ujung tumit sepatunya mengentak di atas lantai keramik. Farel singkapkan kembali rok Helena hingga pantatnya. Lalu dia tarik celana dalam Helena ke samping, dan menurunkan tubuh Helena menuju ujung rudalnya yang telah siap tempur kembali. Sembari menusukkan rudalnya membelah vagina Helena, ”Selingkuh di belakang Revan yang hanya pacar saja, sudah sangat menyenangkan begini, bukan? Apalagi kalau dia sudah menjadi suamimu, nikmatilah, Helena,” ucap Farel sambil kembali membenamkan rudalnya dalam vagina Helena lalu menggenjotnya pelan-pelan. “Oooh, kamu gila, Faeeeel, aaah, sssst..” Helena tak kuasa menahan serangan nikmat yang kembali melemparkan dirinya di ambang orgasmenya. Helena tahu kalau Farel juga sama, sudah berada di ujung puncakanya. “Faaar, jangan dikeluarin di dalaaaaaam, aaaah ssst, pelasssse..” Dengan napas tersengal dia meminta pada Farel Tapi Farel tak mengacuhkannya. Dia malah mengencangkan cengkeramannya pada pinggang Helena saat menyodoknya semakin keras, mencegah Helena agar tidak menjauh. Farel ingin keluar di dalam Helena. Dia ingin agar Helena terisi dengan air maninya saat nanti malam bertemu dengan Revan, kekasihnya. Setelah cukup lama terkulai lemas, Helena pun akhirnya bisa keluar dari apartemen Farel, bergegas menemui kekasihnya yang sudah menunggu di sebuah resturan mahal. ‘Selingkuh itu menyenangkan.’ Ucapan Farel terus terngiang-ngiang dalam benak Helena, bahkan saat dia sudah duduk di depan Revan di sebuah restoran. Dan di sepanjang dinner itu, Helena terus memikirkan semua ucapan Farel. Saat Revan mengecup pipinya, Helena berpikir, ‘Beberapa jam lalu, wajahku penuh dengan sepermanya Farel.’ Saat Revan menggenggam tangannya, dia pun membatin, ‘Tadi tangan ini aku gunakan untuk menggenggam rudal jumbonya Farel.’ Dan Helena merasa senang saat memikirkan itu semua. Helena tahu itu salah. Itu terlarang. Tapi itu hal tabu yang menyenangkan. Dia raih dua kali orgasme bersama Farel hanya beberapa jam sebelumnya, tapi hanya memikirkan itu semua bisa membuat birahinya menggelegak. Seusai dinner Revan dan Helena pergi ke gedung film. Helena menyilangkan kedua kakinya dan tangan Revan berada di pahanya seperti biasa. Tangan Revan mulai bergerak meraba paha Helena dan ujung jarinya berhenti tepat di bawah gaun Helena. Tapi karena di sekeliling mereka banyak orang, Revan pun tak melanjutkan aksi nakalnya. ‘Kalau Revan menyentuh vaginaku sekarang, dia akan merasakan sisa seperma Farel.’ Pikiran nakal itu membuat Helena sedikit bergidik namun juga darahnya berdesir hangat. “Kamu gak apa-apa, Len?” tanya Revan khawatir. “Gak.” Helena coba menjawab dengan nada sewajarnya, “Hanya agak dingin aja.” ‘Harusnya pejuh Farel tidak dikeluarin di dalam. Sialan! Dia terkadang memang jadi sangat menyebalkan begitu!’ maki Helena dalam hati. Tapi harus dia akui, kekurang-ajaran Farel itulah yang membuatnya mudah terangsang setiap kali memikirkannya apalgi jika dekat dengannya. ^*^

Ingin terus membaca?

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 58 bab

  1. Bab 1Bab 1 Helena (1)
  2. Bab 2Bab 2 Helena (2)
  3. Bab 3Bab 3 Helena (3)

Terbitan baru