Lewati ke konten utama

Bab 3 Helena (3)

Hubungan ranjang Farel dan Helena sebenarnya tidak bisa dikatakan mesra apalagi romantis. Farel tak pernah berlaku lembut atau penuh perhatian pada lawan bercintanya. Dia cenderung mendominasi bahkan jika dibutuhkan dia akan sangat bersikap kasar. Ketika sedang berhubungan badan, Farel senantiasa memperlakukan Helena sebagai perempuan jalang, atau setidaknya budak seks yang diajdikan sebagai obyek percobaan gaya baru dan pelampiasan seks yang rada ekstrim. Farel tak pernah melakukan itu dengan Anggi, calon istrinya. Namun anehnya, justru kekasaran dan sikap melecehakn itu yang pada akhitnya sangat disukai Helena. Dia seakan ketagihan dilecehan dan diperlakukan kasar oleh Farel. Birahinya selalu berkobar-kobar saat Farel memegang kendali seutuhnya di atas ranjang. Hal yang tak pernah Helena dapatkan dari Revan. Dengan wajah yang cantik dan imut, ditambah rambut bergelombang yang hitam legam, Helena terlihat begitu angun dan lugu seakan tanpa dosa. Tapi sesungguhnya dia suka bertingkah nakal dan liar dalam satu kesempatan. Dia suka dimanupulasi, diperlakukan sebagai wanita murahan dan jalang oleh lelaki. Dan Farel mampu memberikan semua fantasi gila Helena itu. Revan sama sekali tidak mengetahuinya. Apa yang disampaikan Helena pada Anggi tentang awal pertemuan dirinya dengan Farel, hanya isapan jempol belaka. Sejatinya Frel dan Helena baru saling mengenal lebih kirang lima bulan yang lalu dalam sebuah moment yang serba kebetulan. Ketika itu, Helena berjalan perlahan menuju sebuah bar, melewati remangnya suasana tempat itu. Helena memilih sebuah bangku tanpa penghuni di ujung bar. Dia menatap botol berkilau yang menawarkan kenyamanan instan untuknya, Helena tersenyum ketika sang bartender mendekat. Sambil memainkan rambutnya yang indah dengan jarinya yang lentik. Bartender itu tersenyum menatapnya, Helena pun tersenyum kembali, mata hitam indahnnya membalas kembali tatapan sang bartender . “Malam Kak, ada yang bisa saya bantu?“ tanya sang Bartender. “Eh, kok kakak sih? Panggil aja aku Helena,” jawab Helena sambil menjulurkan tangannya. “Oh, iya Kak.. ehh, Helena maksudnya. Aku Fajar Merona, mau pesan minuman, Helena?” “Hmm , apa ya….? Jack Daniels aja ya, on ice please,” jawab Helena sedikit ngambang, tak sepenuhnya yakin dengan yang diinginkannya. “Oke, Jack Daniels on ice coming up!” jawab Fajar yang langsung menyiapkan minuman yang dipesan Helna. Helena mencoba untuk membuat dirinya senyaman mungkin di kursi bar itu, sambil menghindari tatapan dari orang-orang di sekelilingnya. Dia membetulkan gaun hitam yang dikenakannya, menarik turun sedikit ujung roknya untuk menutupi pahanya yang menjadi santapan liar para pria di sana. Helena memiliki sosok yang ramping , tubuhnya yang seksi semampai mampu membius setiap pria yang melihatnya, dengan belahan yang memanjang ke bawah memunculkan indahnya bentuk bongkahan payudara yang tercetak jelas. “Here you go, Helena!” Fajar menyodorkan minuman yang tadi dipesan Helena. "Ah, thanks Fajar Merona," balas Helena sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di bar. Fajar mengambilnya dan pergi untuk mengambil kembaliannya. Helena mengangkat gelas dan memandangi isi minuman di dalamnya seakan sedikit bersulang. "Sialan lu! Bajingan lu brengsek! Emang pantes lu dapetin apa yang lu dapet sekarang!" gumam Helena tak jelas dan pelan. Lalu diteguknya minuman itu dan merasakan kehangatan menyebar di dalam perutnya. Tetapi batinnya semakin bergejolak. Kemarahannya bangkit kembali. Helena masih tidak percaya, lelaki yang sudah dipacarinya selama hampir dua tahun, ternyata telah berselingkuh dengan wanita lain hampir enam bulan lamanya. Helena tertipu atas kebohongan yang diciptakan olehnya, sampai dia menemukan beberapa bukti pagi itu. Sebuah hadiah dan foto mesra yang disembunyikan di lemarinya beserta nama gadis tersebut. Ketika Helena bertanya pada pacarnya itu, dia mengakuinya. Dan yang sangat membuat Helena shock, ternyata hubungan mereka sudah terjalin dari semenjak mereka masih di bangku kuliah, jauh sebelum dengan Helena. “Jadi sebenarnya gue yang dijadiin selingkuhan sama si brengsek itu! Sialan!’ maki Helena dalam hati. Helena pun akhirnya memberikan ultimatum pada kekasihnya. Dia segera keluar dan kembali ke apartemennya, berharap pacarnya akan meneleponnya. Namun telepon itu tidak pernah ada. Berbagai macam pikiran gila berkecamuk dalam benaknya. Helena bahkan merasa sangat terhina karena dia telah menyerahkan segalanya pada pacarnya itu, termasuk kegadisannya. Tapi apa yang terjadi? Helena meneguk dalam-dalam minumannya. Mengutuk kesal para lelaki bajingan itu. Dia meneguk kembali minumannya dari gelas, kemudian dengan rasa malas bermain-main dengan es. Berputar-putar dengan jarinya. Sejurus kemudian Helena merasakan air matanya menggenang di matanya. Helena menggigit bibirnya untuk menjaga mereka agar tidak jatuh ke pipinya. Helena terkejut ketika dia tesadar bahwa minumannya telah kosong. Dia ingin mabuk. Dia berpikir memang harus mabuk. Helena ingin membebaskan dirinya dari belenggu sakit hati yang dirasakan akibat perbuatan lelaki pecundang yang telah mengkhianatinya. “Mau pesen lagi, Helena?” Bartender itu kembali tersenyum saat menawari Helena. Namun sekarang Fajar melihat ada sedikit ketidak-jelasan dari Helena yang tidak diperhatikan sebelumnya. “Iya! aku pesen satu lagi, Fajar…..,” Jawab Helena lemah karena sudah mulai sedikit mabuk. “Oke, Helena!” Bartender itu melangkah untuk menyiapkan minuman selanjutnya. “Hai cantik, kalau memang diizinkan biar aku yang bayar minuman itu.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari sebelah kanan Helena. Helena menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Terlihat seorang pria tampan, dengan rambut pendek rapi dan ada janggut tipis di dagunya. Tingginya mungkin sekitar 185 cm. Atletis dan berotot nyaris tanpa lemak, sama sepeti pacarnya yang berkhianat. Lelaki itu mengangkat alisnya, meminta jawaban dari Helena untuk tawarannya tadi. “Ah, oke thanks,” jawab Helena tanpa pikir panjang. Terlintas senyum di wajah pria itu. Dia lantas mengambil bangku di samping Helena dan mengeluarkan kartu kredit dalam dompetnya ketika bartender kembali dengan minuman Helena. Dia pun lantas memesan minuman satu untuk dirinya sendiri. “Aku Farel Membara, kamu?” tanya lelaki itu pada Helena. “Oh, panggil saja aku Helena, sorry…” jawab Helena yang sedikit kurang konsentrasi. “Gak apa-apa. Maaf ni, tapi kayaknya wajah kamu lagi sedih banget ya, Len? Kalau boleh tahu kenapa? Mungkin aku bisa sedikit ngebantu membuang permasalah kamu?” tawar Farel selanjutnya. Akibat pengaruh minuman yang sudah mulai menguasai dirinya, Helena pun menceritakan semua isi hatinya pada pria yang baru saja dikenalnya itu, seperti pada orang yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Setelah menceritakan kebrengsekan pacaranya, Helena juga menjelaskan pekerjaannya dan tempat tinggalnya. Farel benar-benar menjadi pendengar setia yang baik sambil terus menatapnya dan mengatur segela rencananya. Malam itu Helena terlihat manis, lucu dan menggemaskan dengan rambut bergelombangnya yang membingkai wajah cantiknya. Berpadu dengan mata terindah yang pernah dilihat Farel. Helena memiliki seluruh tipe wanita yang Farel sukai. Farel bahkan membiarkan pikirannya menduga-duga seperti apa bentuk dan ukuran benda yang ada dalam gaun hitam Helena. Sejuruh kemudian Farel pun sudah merasakan ada yang berontak di balik celananya. “Aku sedikit kesal denger ceritamu, Len. Maksudnya dengan mantanmu itu. Kok bisa ya? Memang sih kebanyakan cowok itu bajingan. Aku tahu itu, karena aku juga cowok,” sahut Farel menanggapi ocehan Helena yang mulai sedikit ngelantur. “Oh, jadi kamu juga bajingan dong, Farel? Hihihi…,” Helena meresponnya dengan sedikit Felisiaan geli. “Bukan, aku babi. Seenggaknya aku beda lah sama mantan pacarmu itu atau cowok lainnya, Hahahaha.” Farel tak kuasa menahan tawanya, gadis incarannya sudah mulai masuk dalam perangkapnya. “Hahaha bisa aja kamu, Farel!” Helena pun ngakak setelah itu tersenyum manis sekali. “Ya tapi kalau aku sih lebih milih buat nganggap kalau semua cowok itu baik, Far.” Helena melanjutkan ucapannya. “Seperti mantan pacarmu itu? Aah, sudahlah, lupain aja diaa. Kamu bener, Helena. Aku sedikit kagum dengan orang yang dalam keadaan bagaimanapun masih bisa melihat sisi kebaikan orang lain, bukan hanya yang buruk-buruknya saja. Mari kita bersulang!" seru Farel antusias. Mereka pun mengangkat gelas masing-masing dan kemudian Farel melanjutkan kata-katanya, “Bajingan itu pasti menyesal karena udah nyakitin bidadari secantik kamu, Helena,” puji Farel. “Hahaha, bisa aja kamu, Farel.. hahahah” Helena kembali berseru sambil meneguk minumannya hingga beberapa tegukan setelah tawanya reda. Obrolan antara Helena dan Farel mulai mengalir dengan mudah dan bebas seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama. Farel beberapa kali melontarkan lelucon yang sedikit garing, namun dapat membuat kedduanya tertawa. Dan itu tidak lama sebelum tangan Farel membelai bahu Helena dan mengusap lengannya. Dan entah mengapa Helena merasa hatinya tenang dan senang. Farel memang pandai merayunya, hingga Helena merasa telah menemukan semua keceriaannya lagi dalam sosok pria di depannya. Tidak lama kemudian, Farel telah menarik Helena dari kursi bar dan memangkunya di antara kedua pahanya. Helena bisa merasakan tangan Farel yang mulai mengusap punggungnya, hal itu membuatnya sedikit merinding. Farel terus menekan lebih dekat tubuhnya. Helena merasakan tangan Farel di lehernya, lalu mengusap lembut wajahnya. “Helena, kamu itu cantik, lucu, menyenangkan, sungguh dan sangat indah. Aku bisa memikirkan seenggaknya seratus hal yang bisa kulakukan bersamamu. Kamu begitu menyenakan dan menggairhakan. Kamu begitu sempurna di mataku. Bolehkah aku mencintaimu?” bisik Farel di telinga Helena. “Ahh, Farel uuuuh…” Helena mendesah saat hembusan napas Farel menelusuri telinga hingga lehernya. Sudah berbulan-bulan, atau mungkin setahun Helena tidak mendengar pacarnya membisikkan kalimat itu sejak awal dia membisikannya untuk menggoda dan Helena pun terbuai menyerahkan kesuciannya. Helena mengulurkan tangannya dan membelai lengan Farel , merasakan otot di bawah kemejanya. Farel mengerti jika saat ini Helena tidak dapat menjawab karena kegalauan hatinya. Namun Farel bukan lelaki tak berpengalaman. Dia lantan menghela napas dan menggerakkan tubuhnya lebih dekat dengan Helena. Bibirnya mengecup mesra tiap jengkal leher Helena sampai ke dagunya, kemudian ke bibirnya. Ketika bibir mereka menyatu, Helena merasa dunianya mulai berputar dan berbalik. Dia melingkarkan kedua tangannya ke leher Farel dan kembali berciuman dengan penuh gairah. Helena menerima pagutan lidah Farel saat meluncur di antara bibirnya. Helena merasakan tangan Farel mulai meluncur dari punggunggnya ke bongkahan pantatnya. Entah bagaimana awalnya, Helena bisa tidak peduli jika seluruh bar sedang mengawasi dirinya dengan Farel. Helena hanya sedang merasakan hidup kembali untuk yang kedua kalinya setelah dijatuhkan dan diterpurukan oleh kekasih yang paling dicintinya. Setidaknya untuk sebulan terkahir ini.

Itulah semua yang tersedia saat ini.

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 58 bab

  1. Bab 1Bab 1 Helena (1)
  2. Bab 2Bab 2 Helena (2)
  3. Bab 3Bab 3 Helena (3)

Terbitan baru