/0/36671/coverbig.jpg)
Bab 2 Sejarah persembahan
Beberapa tahun sebelumnya,
Dengan peluh membasahi tubuhnya Japri terus berjalan menyisir tepi pantai karang Nini Pangandaran.
Tujuannya hanya satu,menemui kuncen tempat keramat di karang Nini seperti yang di lihat dalam mimpinya.
Hampir Maghrib Japri baru menemukan kediaman kuncen yang bernama Abah Wiranta.
Setelah mengisi buku tamu, pria tua dengan kopiah hitam itu menyerah kan kertas putih dan tiga batang dupa juga tiga butir batu menyan berwarna hitam dan tiga batu menyan berwarna putih.
" Weton kamu Selasa nak...? Puasa lah di keramat 4 selama 3 hari. Abah antar kamu besok, tirakat dimulai besok hari minggu jam 3 sore, mulai lah puasa dan dihari terakhir puasa selasa pukul 3 dini hari. Kamu hanya boleh minum air putih,telur ayam rebus, singkong rebus...! Mengerti...?" Ucap Abah Wiranta.
Japri mengangguk.
" Lalu dupa ini dibakar saat dimulainya tirakat besok pukul 3 sore dupa ini jangan sampai padam, segera nyalakan dupa lainnya ketika hampir mencapai kayu merah,,,! Ingat jangan sampai padam..! Kalau sampai padam kamu harus mengulang dari awal...!"tegas Abah Wiranta.
Japri kembali mengangguk.
" Ini hapalkan,,,! didalam gua itu gelap sekali kamu tidak akan bisa membacanya.!"Abah Woranta menunjuk selembar kertas putih yang berisi petunjuk ritual didalam gua keramat empat, dan tiga ajian utama yang harus diucapkan. Dan satu ajian yang harus terus di kumandangkan dalam hati sambil memejamkan mata dalam keheningan semesta.
" Kalau tidak hapal bagaimana Bah...?" Tanya Japri.
" Kalau memang jodoh kamu, kamu akan mudah menghapalkannya.!" Ucap Abah Wiranta seraya berdiri.
Sepeninggal abah Wiranta, Japri keluar dari ruangan kuncen laku duduk diteras rumah Abah Wiranta sambil memegang kertas dan perutnya yang mulai menjerit.
Sambil bersandar di dinding ia memejamkan matanya pikiranya menerawang terbayang wajah istrinya pasti sama kondisinya sedang kelaparan, kemiskinan membuatnya nekad mendatangi tempat ini, entah karena ucapan seorang sopir yang datang ditambalban nya sehungga terbawa mimpi atau memang ia diundang untuk datang ketempat ini menemui Abah Wiranta.
Sakit hati karena hinaan orang sekeliling nya membuat kakinya terasa ringan berjalan kaki tidak seperti yang lainya datang dengan ojek.
Beruntung Japri bisa menumpang Bus Budiman sampai ke Karang Nini, hanya saja karena ia tidak tahu kediaman kuncen hampir seharian ia berjalan mencari kediaman Abah Wiranta.
" Jang, sini makan dulu...!" Ajak Abah Wiranta. Japri menyusut airmatanya, saat melihat nasi putih dengan asap yang mengepul saat tutup bakul di buka oleh Emak istrinya Abah Wiranta.
" Malah nangis...!" Ujar Abah wiranta.
" Apa anak dan istri saya makan bah..?" Isak Japri.
" Insyaallah anak istri kamu makan...! Ikuti Abah...!" Ucap abah Wiranta. Japri yangvtadinya menundukkan kepalanya langsung mendongak, melihat dan memperhatikan yang dilakukan abah Wiranata.
Bah wiranta mengisi piringnya dengan Nasi putih tiga centong, lalu menyerahkan centong nasi pada Japri.
Japri segera mengikutinya,mengusi piringnya dengan tiga centong nasi putih.
Lalu Bah Wiranta mengambil sepotong ayam goreng,sambal, tahu goreng, sesendok tumis kankung dan sepotong mentimun lalu menunjuk Japri untuk mengikutinya.
Dengan cepat Japri mengikuti apa yang dilakukan Abah Wiranta.
" Sekarang ikuti Abah, lakukan dengan hati dan bayang kan anak istri kamu..!" Ucap bah wiranta.
Japri mengangguk.
" Sangu Jeung deungeuna, lain seubeuh jang beueteung sorangan, sangu jeung deungeuna, seuebuh jang anak pamajikan. " Ucap abah wiranta yang segera di ijuti oleh Japri yang sedikit kesulitan saat mengucapkan bahasa sunda,karena dia orang Sumatra.
Bah Wiranta tersenyum.
" Intinya, kamu niatkan makan semua hidangan ini untuk mengenyangkan anak dan istri kamu, insyaallah anak dan istri kamu juga disana makan. Entah darimana ,,? Insyaallah mereka makan.." ujar Abah wiranta.
Dengan berlinang airmata kapri menyantap dengan nikmat makanan nya, entah kenapa dalam penglihatannya ia melihat Arini dan Indra putra nya sednag makan dengan nikmat bersamanya.
Esoknya selepas sholat Dzuhur, Abah Wiranta mengajak Japri untuk bersiap berangkat ke keramat empat.
" Jang, ini buat bekal disana ada singkong rebus dan telur ayam. Ini air putihnya..!" Japri langsung memeluk lutut Emak yang spontan mengelus kepala Japri.
" Yang kuat Jang, sabar..! Didalm banyak godaannya...! Emak doakan kamu akan jadi orang yang sukses.." ujar istrinya abah Wiranta.
Dengan menggunakan mobil Toyota hardtop milik Abah Wiranta yang dikemudikan oleh seorang pria, Japri duduk di belakang.
Sampai di bawah bukit karang Nini, termuata sidah Banyak orang disana menunggu Abah Wiranta.
" Mandi lah dulu di pancuran air pohon keramat untuk membersihkan badan kamu...!" Titah Abah Wiranta.
Tepat pukul dua siang Japri yang sudah membersihkan diri berjalan mengikuti Abah Wiranta bersama beberapa orang lainya yang mempunyai niat yang sama.
" Yang lainya tunggu dulu disini, Abah mau mengantar yang ke keramat satu dulu,," ujar Bah Wiranta.
Ada sepasang suami istri berjalan mengikuti Bah wiranta naik menuju bukit keramat satu.
" Itu mau nyalon kades, keramat satu itu untuk orang-orang yang mau pangkat atau jabatan, banyak juga yang mau masuk polisi atau tentara tirakat disitu." Ujar pria yang jongkok disebelah Pak Rahman pembantu Abah Wiranta.
Pak Rahman kuncen jaga di tempat keramat karang Nini.
Setelah hamoir lima belas menit menunggu Abah Wiranta turun dari bukit keramat satu.
Kami pun berjalan lagi menyusuri hutan,
" Kalian tunggu dulu disini...! Abah antar yang ke keramat dua dulu..!" Ucap Abah Wiranta.
" Keramat dua ini apa Pak...?" Tanya Japri pada pak Rahman.
" Ini pinjaman Goib, ," jawab pak Rahman sambil merokok.
Setelah abah wiranta turun kamipun melanjutkan perjalanan dan lagi-lagi Abah Wiranta berhenti dan menyuruh kami menunggu.
" Ini keramat juga...?" Tanya Japri pada pak Rahman.
" Iya ini keramat tiga, perjanjian pribadi dengan penguasa laut. Biasanya pemyerahan anggota keluarga." Japri melihat kebawah menatap punggung seorang pria yang begitu ringkih berjalan mengikuti Bah Wiranta.
Tinggal Japri dan pak Rahman yang menunggu kali ini.
" Pak,emangnya disini ada berapa keramat..?" Tanya Japri.
" Disini ada lima keramat, yang kelima itu guanya masuk kebawah laut. Yang kesana hanya orang-orang pilihan. Sama dengan kamu ke keramat empat biasanya karena undangan melalui mimpi atau wangsit dan bisa juga wasiat atau turunan." Pak Rahman menjelaskan.
Japri terdiam, dia berpikir labagaiman pak rahman tau kalau ia datang karena mimpi.
" Yuk kita jalan...!" Ajak abah wiranta.
Perjalanan menuju keramat empat cukup jauh, menyusuri pasir pantai.
Japri melihat laut lepas dengan ombak nya yang tinggi.
Setelah berjalan hampir dua puluh menit akhirnya sampai di mulut gua, di pojok sebelah kanan Japri melihat ada seorang pria sedang berbaring memejamkan matanya.
" Selama didalam kamu tidak boleh bertanya ataupun berbicara dengan orang yang ada disini. Tidak boleh bersuara..! Kalau kamu merasa tidak kuat, segera turun ke bawah temui Rahman...!" Ujar abah Wiranta sebelum merek masuk kedalam gua.
Abah wiranta menggelar tikar lalu menggajak Japri duduk diatasnya.
Dari tas tikar yang dibawanya Bah wiranta mengeluarkan dupa dan korek api lalu menyalakan nya.
Hawa dingin tiba-tiba terasa meniup tengkuk Japri.
" Kamu niatkan tirakat dan selalu sebutkan keinginan kamu dalam hati. Dan teeus baca ajian nya. Hadapi apapun yang datang...! Ingat dupa jangan sampai padam, kamu boleh makan telur dan singkong kalau kamu merasa lapar. Tidak boleh merokok..!" Pesan Abah wiranta sebelum meninggalkan Japri.
Dupa yang dibakar bah wiranta mulai mengeluarkan wangi.
Japri mwmejamkan matanya mulai fokus pada ajian.
Yang terdengar hanya suara deburan ombak.
Sampai suara deburan ombak berganti menjadi suara Gending yang merdu mengiringi langkah para wanita cantik dengan kemben hijau dengan selendang hijau kain sinjang putih, para wanuta berambut panjang dengan mahkota kecil di kepala nya tersenyum pada Japri.
Daftar bab
Total 24 bab
/0/15455/coverbig.jpg)
/0/26468/coverbig.jpg)
/0/34550/coverbig.jpg)
/0/6550/coverbig.jpg)
/0/2362/coverbig.jpg)
/0/2474/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)