Lewati ke konten utama

Bab 3 Menurunkan tradisi

"Aaaahk... Sakiiiiit....!"

"Ampuuuuun pak .....! Ampuuuuun sakit...!"

Jerit suara perempuan yang kalau didengar dari suaranya masih belia.

Suara jeritan berasal dari dalam sebuah kamar.

Selang dua puluh menit Japri keluar sambil membawa baki dan masuk kedalam kamar kecil dipojok rumah dan menguncinya dari dalam.

" Pangersa semesta raya Ratu Kadita, ratunya ratu raja nya raja, aku persembahkan darah perawan ini...!" Lalu Japri memejamkan matanya. Sambil kedua tangannya terangkat keatas seolah memohon sesuatu.

Adzan subuh Japri baru keluar dari ruangan kecil itu.

Gegas ia keluar pondok, dan menjalankan motornya pulang.

" Pak, sebenarnya kamu dari mana sih..? Apa yang kamu lakukan sebenarnya...?" Tanya Arini istrinya.

" Aku sedang merubah hidup kita dek...!" Jawab Japri lalu masuk kedalam kamar mandi dan membwrsihkan dirinya.

Japri tersenyum melihat lumbung berasnya penuh, dan penggilingan padi pun tidak pernah sepi.

Satu bulan setelah kepulangan nya dari karang Nini hidupnya mulai berubah. Ia mengaku pada istrinya kalau ia dimodali kawannya, dan mulai membuka usaha gilingam padi dan jual beli beras.

Satu bulan kemudian Japri meminta istrinya yang pandai masak membuka runah makan Padang yang juga ramai pembeli.

Namun setiap selasa legi Japri akan pamit pada istrinya untuk menjumpai kawan nya yang meminjamkan modal, dan Japri selalu menghilang selama tiga hari.

Karena kesibukannya, Arini tidak begitu memperhatikannya.

Sampai suatu hari mereka membangun rumah besar layaknya istana.

Japri berpesan pada istrinya untuk jangan pernah masuk ke rumah pondok tempat nya tirakat tiga hari daei hari minggu sampai selasa pagi.

Dan pondok itu selalu terkunci rapat hanya Japri yang bisa keluar masuk ke pondok itu.

Namun saat Indra putra tunggalnya mulai remaja Japri mulai menceritakan rahasianya.

"Bu, ada yang mau aku bicarakan...! Duduklah...!" Ujar Japri pada istrinya.

" Ada apa sih pak...? Serius banget. Lagi banyak kerjaan ini. Ada catering ...!" Jawab Arini.

" Duduk sebentar...! Lusa kita berangkat ke Pangandaran...ada yang harus kamu tahu...!" Ujar Japri.

Arini memandang curiga pada suaminya.

" Apa bapak nikah lagi...?" Tanya Arini.

Japri tersenyum,,

" Ini bukan tentang aku, ini tentang Indra Putra kita..." Ujar Japri.

Arini dengan kepala yang berisi banyak pertanyaan meninggalkan kamar.

Ada apa dengan putra nya sampai suaminya segitu merasa penting untuk ke Pangandaran.

Dan hari sabtu pagi Japri membawa istrinya ke pantai Pangandaran.

Sampai dihotel, Japri meminta istrinya berganti pakaian dengan yang baru ia beli.

" Kok daster putih sih pak, ,..?" Tanya istrinya aneh.

" Pakai saja,..!" Lalu Japri menyuruh istrinya juga memakai jaket.

" Yuk kita temui guru bapak..." Ucap Japri.

" Guru apa..?" Tanya istrinya bingung.

Japri tidak menjawab, dengan menggunakan mobil Pajero nya jaori membawa istrinya menemui Abah Wiranta.

" Bah, ini istri saya..." Ucap Japri mengenalkan Arini pada Abah Wiranta yang nampak semakin tua.

Bah Wiranta tersenyum melihat Arini.

" Kamu jangan kaget dengan apa yang nanti akan kamu lihat dan kamu ketahui. Taoi kini sudah saatnya kamu sebagai istrinya tahu apa yang membuat hidup kalian berubah, dan apa yang menjadi kewajiban kalian agar semuanya tetao seperti sekarang." Ujar bah Wiranta.

Arini menatap bah Wiranta dengan bingung.

" Apa kamu bahagaia dengan keadaan sekarang atau kamu ongin kembali seperti tujuh tahun lalu...?" Tanya bah Wiranta.

" Ihk amit-amit atub Bah...! Jangan sampai ngalamin lagi kelaparan, aku ga mau Bah, dikejar bayar kontrakan. Anak sakit ga punya uang buat berobat."jawab Arini.

Bah Wiranta tersenyum.

" Kalau kamu mau terus seperti sekarang dan lebih maju lagi, kalian harus menjaganya dan jangan sampai melanggar nya...! Ya sudah kita berangkat sekarang." Ajak bah Wiranta.

" Sedekah lautnya sudah disiapkan sama Rahman ...!" Ucap Bah Wiranta, Japri mengangguk.

Beberapa hari lalu ia sudah membeli tiga ekor sapir untuk sedekah laut dimana dagingnya dibagikan ke warga sekitar dan kepalanya akan dibawa ketengah laut.

" Bu, mandilah dulu disana...!" Japri menunjuk pancuran air dibawah pohon besar.

Walaupun bingung arini mengikuti perintah suaminya yang duduk menunggu di gubuk tidak jauh dari pancuran.

Setelah mandi Arini kembali mengenakan daster putih dengan selendang kain sinjang kebat.

" Kita puasa tiga hari, dimulai nanti jam tiga sore." Ujar Japri.

Arini hanya mengangguk.

Dengan berbekal tiga botol besar air mineral singkong rebus dan telur rebus, Arini berjalan sambil berpegangan oada suaminya memgikuti bah Wiranta yang walauoun sudah tia tapi masih berjalan cepat.

Arini melihat sekelilingnya, sejauh mata memandang hanya pohon besar yang doa tidak tahu pohon apa namanya besar dan tinggi.

" Kalian akan tirakat di keramat lima lanjutan dari keramat empat yanh sebenarnya sudah selesai, kalian hanya tinggal tiap tahun sedekah laut. Namun kalau kalian tidak mau anak kalian akan susah seperri kalian dulu, kalian harus melanjutkan ke keramat lima yang nantinya akan dilanjutkan oleh putra kalian, atau anak kalian lainya." UjarBah Wiranta.

Mendengy itu Arini merinding. Suara tongeret mulai bersahutan.

Saat alan masuk kedalam gua yang berada tepat dinding laut, dimana untuk lesan mereka harus berjalan miring dengan deburan ombak yang sesekali mengenai mereka.

" Ga apa-apa, yakin saja dan oasrah. Insya Alloh kita selamat sampai kedalam gua. " Ujar Abah Wiranta seolah tahu ketakutan Arini yang melihat dinding batu terhantam ombak saja dia sudah takut.

" Yuk kita masuk lewat sini...!" Ajak abah Wiranta yang berjalan didepannya.

Dengan takut Arini berpegangan erat pada suaminya.

Dan sebelum masuk ke sisi lain dalam gua yang mulai gelap.

" Kamu hanya duduk disping suami kamu, dengarkan saja apa yang ia ucapkan. Jangan membantah atau bertanya. Ucapkan lafal yang diajarkan oleh suami kamu, teris berukang dalam hati sambil memejamkan mata sampai suami kamu membangunkan kamu...!" Arini mengangguk mengerri walaupun ia takut setengah mati.

Di dalam Gua, setelah menggelar tokar Abah Wiranta membakar dupa dan mulai mengucapkan mantra panjang, sbil memejamkan mata.

Sementara Japri dan istrinya duduk dibelakang Abah Wiranta.

" Abah pulang dulu, kalian yang kuat...!" Pesan Abah Wiranta.

" Kita mulai bu, yang tenang...! Atur nafas ucaokan dalam hati ajian yang aku surib hapalkan...!" Ucap Japri pada istrinya.

Keduanya mukai memejmkan mata, berserah diri pada alam dengan suara deburan ombak yang menghantam dinding gua.

Suara desis ular bersahutan tak menganggu Japri, sementara Arini dengan keringat dingin hampir kencing di celana menahan takut.

Namun teringat oesan Abah wiranta dan suaminya, kalau mereka lakukan ini untuk Indra putra tunggal mereka.

Wangi melati tiba-tiba mengganti kan wangi dula yang dibakar,dan aemakin lama wangi itu semakin mendekati dengan amgin dingin yang aeolah mwniup wajah Arini.

Arini terjaga saat mendengar suaminya seperti berbicara dengan seseorang, lamat terdengar suata halus perempuan dam suara berat laki-laki.

" Wilujeung sumping Ratu pangeursa. Ratuna Ratu rajana raja..." Ucap Japri.

" Anak kami haeus sudah mulai melakukan tirakat selasa lego sesuai weton nya, dan ingat dia tidak boleh menikah sebelum menyelesaikan syarat darah 333 orang perawan di malam selasa legi. Dan jangan sampai putra kamu jatuh cinta atau menikahi wanita persembahannya. Lakuka. Ini selama tiga turunan, atau kalian akan jadi abdiku selamanya...!" Ucap suara wanuta itu.

Arini nyaris pingsan mendengar suara wanita itu, namun ia terus mengucapakan ajian dalam hatinya.

Arini sudah tidak bisa lagi mendengar apapun yang ia rasakan adalah tertidur diatas paha seorang wanita canti berkebaya hijau dengan mahkota yang mengusap kepalanya.

" Dampingi suami kamu, dan bekali anak kamu dengan apa yang kamu dengan dan kamu lihat sekarang. Itu tugas kamu. " Ucap wanita itu dengan suara lembut dan senyuman.

" Bu... Bangun bu... Kita pulang...!" Japri membangunkan istrinya.

Arini terkejut dan terduduk. " Pulang pak...? Sekarang...?" Japri tersenyum.

Arini berdiri mematung saat dolihatnya ular hijau panjang dengan mahkota dikepalnya seolah menjaga pintu gua.

"Pak... Ada ular...!" Ucap Arini sambil berpegangan pada lengan Japri.

" Tidak apa-apa,.."

" Nyimas,kami pamit...!" Ujar japri saat melewati Ular hijau yang terlihat cantik dengan mahkotanya.

Dan saat Arini berjalan ular itu seolah mengantar nya sampai ujung tebing dan yeeus memandang Arini dan Japri.

Itulah semua yang tersedia saat ini.

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 24 bab

  1. Bab 1Bab 1 Perjalanan
  2. Bab 2Bab 2 Sejarah persembahan
  3. Bab 3Bab 3 Menurunkan tradisi

Terbitan baru