/0/3875/coverbig.jpg)
Bab 2 Heboh dan Resah Sendiri
POV Alda ‘Kini aku telah menyadari, bahwa cinta tak selamanya memiliki. Ternyata cinta, pengorbanan di atas segalanya. ‘Tak pernah aku membatasi segala kebebasan yang kau inginkan, walaupun sayang, tiap saat hatiku merintih.’ ‘Sepahit apapun juga tak pernah aku menyesali, kucoba mendampingimu, sekuat hatiku ini.’ ‘Kucari dalam hatimu, cinta kasih yang terakhir, walau bertahun-tahun kusabar menunggu.’ Dor! Dor! Dor! “Spadaaa, bukain pintunyaaaa dong, Saaayaaaang….!” ‘Shit!’ makiku dalam hati sambil bergegas beranjak dari duduk. Senandung indah nan sendu dalam hatiku seketika ambyar akibat gedoran keras pada duan pintu rumahku. Dan dari teriakannya, aku sudah tahu siapa manusia pengganggu ketenangan hidup orang di pagi yang indah menjelang siang ini. “Demi Tuhan, Alda! Kamu pasti tidak akan percaya apa yang kemarin terjadi!" cerocos Tante Tien seperti petasan yang dibakar, ketika aku baru saja membukakan pintu untuknya. "Wah! ada gosip panas rupanya nih? Pastinya lumayan bagus tuh. Belum pernah tante bersemangat lagi seperti ini sejak tahu kalau Daniel ternyata selingkuh dengan suaminya Bu Lala, hahahaha," ledekku dengan tawa meledak. “Halah dasar kamu ya! Hahahaha!” Tante Tien menepis ucapanku dan berpura-pura hendak membungkam mulutku, namun kami justru tertawa. Selalu tak kuasa menahan tawa setiap kali menyebut nama Daniel. Lebih tepatnya mentertawkaan Tante Tien yang pernah terheboh-heboh oleh brondong itu, namun berakhir tragis. Lelaki muda yang ganteng dan macho itu dikabarkan menjalin hubungan asmara dengan Om Lala. Sementara suaminya Bu Lala sendiri memang sudah lama digosipkan tetap menyukai brondong walau sudah punya istri dan dua anak. “Tenang aja, tante udah move on kok dari Danel hombreng itu, hehehe.” “Beneran nih?” “Serius Al, tapi ini juga memang masih tentang brondong juga.” “Oh ya?” “Astaga, Alda! Tante masih tidak bisa percaya apa yang kemarin sore tante lihat di rumah Bu Haji Nia. Mata ini bahkan masih berasa kelilipan, sampai semalam pun gak bisa. Oh my God!" Tante Tien mendadak kembali berapi-api, kedua matanya makin membulat dan dia memang manusia paling lebay sedunia kalau sedang bercerita. “Oke, kalau gitu kita ngobrol di dalam aja, Tan!” ajakku sambail berjalan menuju ruang keluarga. “Eh, si cantik Nola kemana, Al?” Tante Tien menanyakan putri semata wayangku sambil melangkah mendekati kulkas. “Lagi diajak main sama Bi Asih, katanya sih mau ke rumah anaknya yang di kampung seberang itu,” jawabku sambil duduk di sofa depan televisi. “Kalau Dicky udah berangkat kerja ya?” Tante Tien bertanya sambil membuka pintu kukas entah apa yang mau dia ambil. “Pastinya. Malah udah berangkat dari tadi subuh. Katanya sih mau nemuin klien yang akan berangkat ke Jepang. Mereka janjian ketemu di sekitar bandara, jadinya Mas Dicky terpaksa berangkat subuh.” “Dicky emang paling semangat kalau urusan nemuin klien, hehehe,” puji Tante Tien sambil mengacungkan jempolnya ke arahku. “Ya gitu deh. Sejak kembali dari Singapore, dia semangat banget kerjanya. Walau sebenarnya aku merasa terlalu bersemangat. Hampir tiap hari pergi subuh pulang tengah malam, kadang gak pulang hingga berhari-hari. Kan jadinya sawahku banyak nganggur, tan.” “Tapi kerja kerasnya Dicky juga ada hasilnya kan?” Tante Tien membla suamiku. Dia duduk di sampingku setelah menyimpan sebotol air putih dan dua gelas di atas meja. “Alhamdulillah, semua mendapatkan hasil yang sangat luar biasa. Ya, tante bisa lihat sendiri deh keadaan kami setahun terkahir ini, mudah-mudahan semuanya makin mudah dan berkah!” “Amiin. Ya, kamu memang wajib bersyukur Al. Punya suami yang muda, ganteng, bersemangat, jago cari uang, dan kata kamu dia juga super beringas dan perkasa di atas ranjangnya, hehehe.” Tante Tien memainkan kedua alisnya. “Yang terakhir sih gak usah dibahas lagi deh, tan!” sergahku memungkas. Ada perasaan risih jika membahas urusan ranjang di depan orang lain, walau Tante Tien sudah sangat akrab denganku juga masih ada ikatan saudara dengan Mas Dicky. “Iay, intinya, biarkan para suami itu berkarya dan berusaha sebebas yang mereka bisa di luar sna. Sebagai istri, kita hanya punya kewajiban mendukung mereka agar tetap bersemangat, tenang, senang dan nyaman dalam mencari nafkah bjuat kita. Iya gak?” “Setuju!” “Dan satu lagi kamu juga wajib bersyukur karena Dicky itu sangat setia. Padahal tante yakin, pasti banyak yang naksir sama dia di luaran sana. Namun sejauh ini, tante perhatikan Dicky itu masih sangat setia. Cintanya buat kamu dan Nola, aku rasa tidak akan pernah berubah dan tidak perlu disanksikan lagi.” “Amiin! Dan semoga cinta Om Rudy juga tetap langgeng buat Tante Tien ya, Amiin.” “Ya, walau tante belum bisa kasih anak buat dia, hehehe.” “Heheh, kalau itu kan memang beda urusannya. Gak punya anak kan karena disengaja. O iya, tadi isi kepala tante sepertinya mau pecah deh. Ceritain dong ada apa sih yang tante temui kemarin itu?" Aku kembali mengalihkan fokus pembicaraan pada awal sang tante lebay ini tiba di rumahku. “Nah, kemarin sore, tante kan ke kontrakannya Bu Haji Nia, tetangga baru yang lagi heboh itu. Maksudnya mau narik uang arisan, soalnya dia kan udah daftar minggu lalu. Dan uang arisan itu harus terkeumpul kemarin karena sore ini mau harus diserahkan sama Bu Lala yang dapat giliran.” “Lantas?” “Oh my God. Alda. Aku kan kontrakakannya yang sempit itu, dan ternyata selera mereka untuk meubel dan perabotan rumahnya sangat buruk!” Tante Tien sekekrika membelalakan matanya seperti seseorang yang sedang teramat kaget. “Hmm, mereka kan baru pindahan, Tan. Lagian mereka juga baru nikah mungkin perabot lama dari rumah Bu Haji belum dibawa, karena kontrakannya kecil. Jadi wajar kalau bawa perabotan seperlunya aja dulu, tan.” Aku mencoba meluruskan ucapan Tante Tien sesuai pemahamanku. “Oh iya bener. Kalau gak salah pernikahan mereka kan gak direstui sama keluraga dari kedua pihak, ya? Teruatama anak-anak dan cucunya Bu Haji Nia. Jadi mungkin juga dia gak dikasih perabotan yang bagus-bangus sama anak-anaknya, hehehe.” Tante Tien akhirnya membenarkan penadapatku. “Lagian, ngapain juga sih ngurusin jodoh orang. Terus urusannya apa dengan perabotan mereka yang tidak berkelas itu?” Aku sedikit mengernyitkan dahi, walau sebenarnya sudah terbiasa dengan mulut nyinyirnya. “Duh jadi banyak ketunda nih ceritanya. Nah, tante kan diterima sama Bu Haji Nia, ngobrol-ngobrol sebentar, terus diajak ke dapur yang merangkap ruang makan. Di sana hanya ada meja makan bulat yang atasnya pake kaca, tanpa alas. Juga ada empat buah kursi makan dari besi, joknya warna marun yang aku pikir norak banget motifnya, Al!” “Hmmm.” Aku menghela napas, protes agar cerita dia tidak melebar kemana-mana, “lanjut!” sergahku lagi agak ketus. “Tante dan Bu Haji Nia duduk di meja makan bulat itu. Tante buka catatan arisan untuk membuktikan jika dia harus membayar arisan tiga bulan sekaligus,” lanjut Tante Tien. "Oh, jadi Tante Tien, kemarin ngeliat meja makan kaca milik Bu Haji Nia itu sangat buruk. Lantas tante ke sini tergopoh-gopoh hanya untuk menceritakannya. Pentingnya buat saya apa?" Aku mulai sedikit kesal karena ceritanya makin bertele-tele. “Dengerin dulu, Al. Bukan meja makannya yang tante lihat!” sergah Tante Tien sambil mendelikkan kedua bola matanya yang besar. “Apa dong yang tante liat?” Aku kembali bertanya sambil mencibir. “Bu Haji Nia setuju dan dia ngambil uang dulu di kamarnya. Waktu kembali ditemani sama Ridwan, suaminya yang brondong itu. Yes, tante harus akui, kalau suaminya emang lumayan gagah dan ganteng kalau dilihat dari dekat, hehehehe..” “Duh, jangan kegenitan deh! Ingat sama Om Rudy dong, heheheh!” potongku sambil mengejeknya. “Nah, Bu Haji sama Ridwan duduk depan meja. Mereka membaca catatan dan menyetujuinya. Ridwan duduk persis berhadap-hadapan dengan tante. Saat itu dia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Rambutnya pun masih basah, mungkin baru keluar dari kamar mandi.” Tante Tien menjeda kembali ceritanya sambil menatap mataku intens. “Hebatnya apa peristiwa begitu, tan?” Aku makin kesal namun juga penasaran. “Ridwan kan duduk berseberangan dengan tante. Saat dia ngambil catatan itu, tante kan sedang melihat ke bawa menembus meja kaca yang tanpa alas itu. Kemudian Ridwan agak maju lalu membuka sedikit kedua kakinya hingga handuknya tersingkap ke samping! Oh my God, Alda! Dia bahkan tidak memakai celana dalam!” seru Tante Tien sambil membelalakkan kembali kedua matanya lebih besar. “Hah, gak pake celana dalam?” Aku pun tak sadar bertanya dan tersentak. “Yes hanya pake handuk dililitkn. Dan celakanya, tante langsung bisa ngelihat di selangkangan Ridwan itu ada yang menggantung, Alda!” seru Tante Tien makin antusias sambil mengelus-elus dadanya. “Yang menggantung?” Aku bertanya konyol. “Maksud tante, saat dia bergerak itu, di selangkangannya ada yang tergantung dan seperti sengaja diayun-ayunkan maju-mundur. Oh my God! Pisangnya Ridwan itu besar dan panjang banget persisi kaya itu, Alda!" jelas Tante Tien sambil menunjuk pisang ambon yang ada di atas meja makanku. "Astaga, masa sih?" Aku kembali tersentak. "Ya, tante hanya beberapa detik melihatnya. Maksudnya, tante sebentar aja ngeliatnya, karena langsung memalingkan wajah ke arah lain, malu hati dan takut ketahuan sama Bu Haji. Bisa berabe tuh, hahaha!" "Hmmm, ngeliatnya cuma beberapa detik, tapi butuh waktu sangat lama buat menceritakannya. Tante bahkan mengatakan seperti sengaja diayun-ayun maju-mundur. Sebentar apa lama bisa ngeliatnya? Dasar tante penggila pisang!" selidikku dengan nada pura-pura kesal. “Hmmm, emang kamu bukan penggila pisang, gitu?” Tante Tien malah balik mencibirku. “Bukanlah! Kecuali pisangnya Mas Dicky,” sangkalku. “Hahahaha, iya ya!” ucap Tante Tien dan kami pun kembali tertawa. Entah pisang siapa yang kami tertawakan. Sejujurnya aku sangat yakin, walau pisang Ridwan katanya panjang dan besar, tapi tidak akan mengalahkan pisangnya suamiku. Tak terbayangkan bagaimana ekspresi dan hebohnya Tante Tien kalau ngelihat pisang Mas Dicky. Semoga aja tante lebay ini tidak sampai melihat pisang Mas Dicky, nanti malah heboh dan resah sendiri. Bahaya! ^*^
Daftar bab
Total 55 bab
/0/16519/coverbig.jpg)
/0/3699/coverbig.jpg)
/0/9448/coverbig.jpg)
/0/15327/coverbig.jpg)
/0/2200/coverbig.jpg)
/0/29147/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)