Lewati ke konten utama

Bab 3 Minat Ngurus Kucing

Sebenarnya cerita tentang Bu Haji Nia dan Ridwan yang dibawa Tante Tien, bukan sesuatu yang luar biasa. Bu Haji dan suami brondongnya saat ini memang sedang jadi buah bibir warga sekompleks. Sebelumnya sempat viral di medsos sebagai pasangan fenomenal yang katanya memalukan, tak tahu diri bahkan ada juga yang mencibir dengan mengatakan pasangan The Power of Neli. Bu Haji Nia berusia 59 tahun. Seorang nenek yang masih gesit dan lincah, dua bulan yang lalu tertangkap basah sedang ditiduri seorang pemuda bersama Ridwan. Pemuda yang baru lulus kuliah itu ternyata mantan anak kostnya. Akibat dari insiden tersebut mereka terpaksa menikah, lebih tepatnya dinikahkan secara paksa, walau keduanya mengaku suka sama suka atau sama-sama cinta, bahkan Ridwan mengaku berencana mau mau melamar Bu Haji Nia secara baik-baik. Ridwan yang pada awalnya dikecam sebagai brondong pengisap harta STW, ternyata berani membuktikan ucapannya jika dia menikahi Bu Haji Nia, atas dasar cinta dan sayang yang tulus. Sehari setelah menikah, dia memboyong istri tuanya iu tinggal di rumah kontrakan sederhana, meninggalkan semua fasilitas peninggalan semua warisan almarhum suami Bu Haji Nia. Mereka siap memulai semuanya dari nol secara mandiri. Walau sempat menjadi kontrovesi, akhirnya banyak yang memuji dan mendukung keputusan dan ketulusan cinta Ridwan pada Bu Haji Nia. Usut punya usut, ternyata mereka memang sudah menjalin hubungan terlarang itu sejak pertama Ridwan kuliah dan kost di tempat Bu Haji. Ketika itu bahkan suaminya Bu Haji Nia masih hidup. Setelah empat tahun menjalin hubungan terlarang, akhirnya mereka menjadi pasangan yang sah dan halal. Jodoh setiap makhluk, selamanya jadi misteri dan rahasia Sang Khaliq. Cinta dan jodoh pun terkadang bertentangan dengan logika. Lebih jauhnya lagi, cinta justru selalu menuntut untuk menempatkan pengorbanan di atas segalanya. “Hmmm tapi tante malah jadi kepikiran terus loh, Al.” Tante Tien kembali buka suara setelah kami lelah tertawa terpingkal-pingal. Mentertawakan orang lain memang terasa sangat nikmat seolah tanpa beban dosa, walau sangat sadar jika itu bagian dari dosa. “Kepikiran apa lagi, tan?” tanyaku sambil menatap wajah serta kedua matanya yang begitu intens menatapku. Sorot matanya seolah menyiratkan ada sesuatu yang sangat tidak dia pahami namun harus diketahui jawabannya. “Tante masih kepikiran, kok bisa kuat Bu Haji Nia menahan gempuran brondongnya?” Tante Tien menjeda ucapannya. “Gempuran?” Aku merespon heran karena aneh dengan istilah ‘gempuran’ itu. “Hmm, senjatanya Ridwan itu kan gede dan panjang banget. Kamu kebayang gak punya Bu Haji Nia jadinya seperti apa? Pastinya kan aninya Bu Haji udah keriput dan kendor gitu!” “Hahahahaha….!” Aku kembali tak kuasa menahan tawa. Lalu kami kembali tertawa terpingkal-pingkal, membayangkan pasangan beda usia itu saat sedang bergumul di atas ranjang. Jika dilihat secara fisik, Bu Haji Nia masih tampak seperti wanita paruh baya usia awal 40-an, tapi apakah dalam-dalamannya masih muda dan kencang? Atau setidaknya stamina dia masih bisa mengimbangi? Ngeri juga membayangkan bagaimana beringas dan membabi butanya lelaki muda bertubuh gagah dan tegap sedang dilanda birahi menyetubuhi nenek-nenek. Apalgi jika benar senjata andalannya berukuran tak biasa. "Oh iya tan, apakah kemarin Ridwan tahu kalau tante melihat pisangnya? Bagaimana kalau Bu Haji Nia juga tahu tante merhatiin rudal suaminya?” tanyaku setelah tawa kami benar-benar reda dan sudah sama-sama menghabiskan minum kami. “Tante rasa mereka tidak tahu. Soalnya sikap keduanya biasa-biasa aja, bahkan sampai tante pamitan pulang.” “Baguslah kalau mereka gak sadar atau gak tahu.” “Hanya memang tante merasa jika tatapan Ridwan agak berbeda setelah itu. Bahkan dia membikin tante salah tingkah saat bersalaman mau pulang. Entahlah, dia sepertinya ngasih kode yang bikin jantung tante deg-degan tak karuan gitu, Al. Hahaha,” ucap Tante Tien serius, namun aku yakin itu bercanda. “Tapi aku rasa, senjata Ridwan mungkin tidak sebesar yang tante ceritakan deh. Maksud aku, tante kan hanya sebentar ngeliat yang menggantung itu. Jadi tidak benar-benar mengetahui jika itu sebesar pisang ambon yang itu,” ucapku sambil menunjuk pisang ambon di mejaku dan ingin menguji kebenaran ceritanya. “Hmmm, memang sih agak kecilan, jauh malah kalau dibadingkan sama pisang itu, hehehehe.” Akhirnya Tante Tien jujur dan tertawa. Sudah kuduga jika cerita dia memang hanya karangan pemanis obrolan semata. Tante Tien kadang terlalu pandai membuat suasana jadi seru. “Hmmm, tapi memang bener kok, tante ngeliat pisang Ridwan, walau tidak sebesar itu. Tapi justru kejadian setelah itu yang membuat tante benar-benar tertegun sampai tadi malam sulit tidur!” lanjut Tante Tien sambil kembali menuangkan air dari botol ke dalam gelasnya dan meneguknya sekaligus. “Ada kejadian yang lebih seru setelahnya?” Aku pun terbawa suasana dan sedikit melongo. “Ya!” jawabnya singkat. Tante Tien selalu punyai sesuatu yang kadang bisa membuat siapapun terpana saat mendengar ceritanya yang panjang lebar. Dia pandai membuat plot twist yang dirancangnya dengan sangat apik. Seharusnya dia jadi penulis novel online, bukan malah si Fajar Merona yang maksa jadi penulis gak jelas gitu. “Intinya, kejadian setelah itu yang lebih gila, Al. Kamu bahkan masih tidak akan percaya setelah tante menceritakannya.” Tante Tien melanjutkan ucapannya sambil beranjak dari duduknya. “Sini!” ucapnya sambil menarik tanganku ke dekat jendela yang gordengnya tersingkap namun bervitrage. Dari dalam bisa bisa melihat keluar namun dari luar tak bisa melihat keadaan di dalam. “Noh!” ucap Tante Tien sambil matanya menujuju ke luar. “Kalau gak salah cowok yang duduk sama David itu namanya Nizar ya?” tanya Tante Tien sambil menunjuk Nizar dan David yang sedang duduk dan ngobrol berdua di teras depan kostan. “Yang pake kolor biru tante kan udah tahu dia Nizar. Ada apa dengan dia?” Aku balik bertanya. “Sini!” bisik Tante Tien sambil menarik kembali tanganku dan mengajak duduk lagi di sofa. “Ada apa dengan Nizar, tan?” bisikku bertanya penasaran. “Nah, dari rumah Bu Haji Nia itu, tante kan mau ke rumah Bu Yasier, lewat samping belakang kostan mereka. Ketika lewat di sana, tante dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang tak biasa. Di bawah pohon jambu, Nizar berdiri sambil kencing dan memelorotkan celana kolornya sampi paha.” “Hah masa sih?” “Beneran. Pisang Nizar ternyata jauh lebih besar dan lebih panjang dari pisangnya Ridwan!” bisik Tante Tien penuh penekanan pada kata ‘besar’ dan ‘panjang.’ Kedua bola matanya bahkan ikut-ikutan membesar. “Punya Nizar bukan?” tanyaku masih tak percaya. “Yes! Ternyata Nizar itu punya pisang yang sangat jumbo, Alda!” Tante Tien makin serous berusaha meyakinkan diriku. “Tante yakin? Emang ngeliat langsung? Berapa lama ngeliatnya? Nanti kaya punya Ridwan, kecil dianggap besar gara-gara liatnya Cuma sekilas, hehehe,” candaku berusaha mengelak, namun masih tetap dalam nada berbisik. “Kali ini tante bisa memstikan seratus perses kalu pisang Nizar memang luar biasa ukurannya. Cukup lama tante ngeliatnya, sampai kami sama-sama tersadar dan malu.” “Tersadar?” Kembali aku bertanya karena makin heran. “Ya, maksudnya, tante kan cukup terkesim, lama melongo melihat dia kencing. Dan Nizar sama sekali gak tahu kalau ada tante di sampingnya. Setelah selesai kecing dan kembali memakai celananya, kamu sama-sama tersadar, kaget dan sama-sama malu juga. Nizar segera berbalik badan dan pergi, tante juga langsung kabur ke rumah Bu Yasier. Sampai di rumah Bu Yasier malah kacau, terbayang terus pisang Nizar, hehehe!” “Sampai terbayang-bayang gitu, tan?” tanyaku masih dalam mode melongo. “Ya, tante kan cukup lama ngeliat pisangnya yang sedang ngebuang airnya itu. Sumpah Alda, tante benar-benar tak menduga dalam keadaan tidak berdiri, pisang Nizar bisa sebesar dan sepanjang itu, bagaimana kalau sedang ngaceng?” “Hmmm. Dasar ya, hehehe.” Aku mencoba menetralisir keadaan walau sebenarnya jantungku pun mulai sedikit berdebar-debar ikut membayangkannya. “Serius Alda, dan yang bikin heran lagi, postur tubuh Nizar kan lebih kecil dibanding Ridwan, tapi kok ukuran anunya bisa jauh kemana-mana ya? Seharsusnya punya Ridwan kan lebih besar kali.” “Nah, tubuh Om Rudy juga besar, tinggi dan gagah. Kata tante anunya Om Rudy kan kecil gak sesuai postur. Menurut tanet gedean mana punya Nizar sama Om Rudy?” pancingku. “Jujur aja, mungkin dua kali lipatnya, Al!” “Hah, masa sih? Berarti ukuran tubuh lelaki, emang gak bisa diidentikan dengan ukuran senjatanya, tan” “Ya.. ya.. ya, bener!” Tante Tien kembali melanjutkan cerita temuannya dengan lebih detail. Berarti memang cukup lama dia berada dalam insiden mendebarkan tersebut. Aku hanya bisa merespon ceritanya dengan melebarkan kedua bola mataku, walau masih sedikit meragukan dan kurang percaya. Aku rasa penilaian Tante Tien untuk senjatanya Nizar, terlalu berlebihan. Kalau pisang punya David, mungkin masih bisa kupercayai. Walau belum pernah melihat secara langsung, namun sudah beberapa kali secara tidak sengaja aku melihat David dalam keadaan pakaian seronok, hanya mengenakan boxer tanpa kaos mungkin juga tanpa daleman. Cetakan benda pusakanya telihat begitu besar seperti pisang ambon. Sebenarnya aku maupun Tante Tien sama-sama belum terlalu kenal Nizar. Baru dua bulan dia kost di tempatku, masih jarang interaksi denganku juga warga sekitar. Sebelumnya dia kost dimana aku pun tidak tahu. Kuliahnya tingkah berapa aku juga belum tahu. Nizar diterima kost di tempatku karena jaminan dari David sepupunya. David orangnya baik, sehingga aku dan suamiku yakin Nizar pun anak baik-baik. “Jaga baik-baik tuh Nizar. Dia brondong kualitas super yang udah langka. Keliatan anaknya baik, kalem, ganteng, gedong lagi anunya. Kalau kamu gak mau ngurus, biar tante aja yang urus, hihihi!” ucap Tante Tien sebelum berpamitan hendak melanjutkan ngabrag atau mungkin bisnisnya. “Kucing kali ah, gonta-ganti yang ngurus!” timpalku sambil mengantarnya menuju mobilnya yang dipakir di luar pagar halaman. “Maksudnya, kalau kamu udah gak mau ngurus dia, biar dia jadi kucing tante aja, hihihihi,” ucap Tante Tien sambil masuk ke mobilnya. “Ambil deh, kalau dia mau. Asal berani bertanggung-jawab aja kalau sampai ketahuan sama Om Rudy!” “Hahaha, atuuuuut…!!!!” teriak Tante Tien sambil ngacir melarikan mobilnya. ^*^

Itulah semua yang tersedia saat ini.

Terus membaca untuk melanjutkan cerita.

Lanjutkan membaca

Daftar bab

Total 55 bab

  1. Bab 1Bab 1 Awal Yang Tragis
  2. Bab 2Bab 2 Heboh dan Resah Sendiri
  3. Bab 3Bab 3 Minat Ngurus Kucing

Terbitan baru