/0/36683/coverbig.jpg)
Bab 3 Tidak Mungkin, Itu Hanya Halusinasi
Di tengah rumah yang cukup luas dan tidak begitu banyak barang. Elfira setengah tengkurap memandangi layar laptop. Bokong besarnya yang tercetak dengan jelas, begitu menggiurkan jika di sodok dari belakang. Menonton video hot sambil setengah tengkurap. Tidak seperti gadis pada umumnya yang suka bermain ke mall atau sekedar ke salon untuk mempercantik diri. Meskipun demikian, kecantikan yang di milikinya tidak kalah dati aktris bollywood papan atas. Tubuh sintalnya selalu di balut mengenakan dres mini yang mengekspos pahanya yang mulus tanpa bercak sedikitpun. Membuat, setiap pria yang melihatnya langsung meneteskan air liur, bahkan air sperma pun bisa sampai menetes karna saking menggiurkannya. "El, ada temen kamu di bawah! Coba kamu temuin mereka?" Bergegas ia menutup laptop sebelum bu mayang semakin mendekat. Bisa gawat jika ibunya mengetahui kelakuan putri sulungnya yang ternyata budak seksual. Bisa-bisa semua fasilitas di ambil kembali oleh bu mayang karna rasa kecewa yang teramat. "I...iya bu. Emangnya siapa dia?" "Ibu gak kenal, meskipun sering kelihatan main sama kamu waktu di rumah kita yang dulu, tapi kan ibu belum pernah kenalan sama mereka el!" Tidak salah lagi, pasti yang di maksud bu mayang adalah Dinar dan Sira. Tapi untuk apa mereka datang di jam sore seperti ini? "Halo, el!" Serempak dinar dan sira menyapa elfira yang baru saja tiba di lantai bawah. "Mau ngapain sih, loe pada ke rumah gue? Ini udah sore juga kan?" "Kan kita mau ke party,el! Masak sih, loe lupa?" "Yup, itu Kelvin udah nungguin kita El! Loe cepetan ganti pakean yang lebih hot lagi, ok?" Sira sedikit berbisik, takut Bu Mayang mendengar ucapan nya. Sedangkan Elfira hanya diam tanpa ekspresi apapun. Dia sama sekali tidak pernah ingin menghabiskan waktu di keramaian seperti party. Pasti di sana akan banyak orang-orang dan juga suara musik yang mengalun keras. "Males gue. Mending kalian ajah gih yang pergi!" "Lo kenapa sih El? Sejak kapan loe nolak yang namanya party? Semenjak loe pindah ke rumah ini, kelakuan loe itu aneh tau nggk?" Kedua temannya bersikukuh untuk membawa Elfira ke partai. Rasa heran semakin membeludak di fikiran keduanya. Tanpa menunggu jawaban apapun lagi dari mulut Elfira, Sira dan Dinar segera menyeret tubuh Elfira kembali ke kamarnya. "Ayo cepetan ganti pakaian loe El, kita nunggu di sini!" Karna memang sudah sangat akrab dengan Elfira, kedua temannya itu sama sekali tidak merasa canggung lagi jika berbuat hal senyeleneh apapun di rumah nya. Sudah seperti sodara kandung yang telah di takdirkan untuk terus bersama. Di dalam kamar begitu bising dengan perdebatan ketiga bidadari tak bersayap itu. Membuat bu mayang yang baru saja lewat di depan kamar, sedikit geram. "Ada apa di dalam? Kenapa kalian begitu berisik sekali, seperti sedang melaksanakan demo di gedung kejaksaan saja?" Ucapnya dengan suara lantang sambil mencoba membuka pintu kamar. "Elo berisik banget sih, jadi nyokap gue marah." "Maaf El, kan gue cuman pengen loe cepetan bersiap-siap! Itu Kevin pasti sudah kesel nungguin kita?" Suara mereka langsung mengecil menciut dengan tubuh yang sedikit menyender pada tembok. "Buka El?" Bu Mayang masih penasaran dengan keadaan di dalam kamar. Semakin menggedor pintu dengan kencang. "Kenapa Bu?" "Harusnya ibu yang nanya sama kalian? Kalian kenapa ribut di dalam kamar?" Tanya Bu Mayang sambil berkacak pinggang. "Gini Tante, kan kita banyak banget tugas yang harus di selesaikan. Tapi Elfira malah menye-menye! Jadi kami sedikit kesal!" Dinar beralasan. Elfira sedikit melotot pada teman laknatnya itu. "Benar seperti itu El?" Bu Mayang menatap putrinya dengan penuh tanda tanya. "I....iya Bu," Elfira terpaksa harus membenarkan ucapan temannya. Meskipun hatinya merasa begitu bersalah. "Yasudah. kalian jangan terlalu berisik, sebentar lagi mau magrib. Ibu mau ke rumah Bu Sinta dulu, untuk menanyakan kembali pesanan bajunya!" "Iya Bu" "Eh, tunggu Tante?" Langkah Bu Mayang terhenti, dengan panggilan dari Dinar. "Kita akan ke rumah Sira untuk mengerjakan tugas skripsi malam ini. Tante gak keberatan kan, kalo Elfira ikut sama kita?" Ada sedikit keraguan yang mengganjal di benak Bu Mayang. Kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang di tutupi kedua gadis remaja itu. Bahkan Elfira juga terlihat gelisah gundah gulana. "El? Apa kamu mau ikut sama mereka?" Bu Mayang bertanya dengan nada lembut. "Kalo ibu mengijinkan!" Jawab Elfira singkat. Ia paham, sekarang putrinya sudah tumbuh besar dan memiliki dunianya sendiri. Tapi sebagai seorang ibu yang hanya mendidiknya seorang diri tanpa dampingan suami tentu saja ia begitu takut, jika Elfira akan terjerumus pada dunia anak muda jaman sekarang. "Yasudah! Tapi, jangan pulang terlalu larut, ya?" Setelah mendapat izin dari Bu Mayang. Ketiga sodara beda induk itu kembali masuk kedalam kamar. Tadinya Elfira ingin mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke party, tapi karna hujan di tambah hawa dingin membuatnya mengurungkan niatnya. "Elfhiraaaaa...... Aku menunggu mu....... Khemarilahhhhh......." Lirih desahan seorang pria yang di dengar waktu di kampus kembali mengganggu fikirannya. Ia menoleh kebelakang mencari asal suara. Tapi sama sekali tidak ada orang di sana. Ia kembali fokus mencari baju ganti. Dan lagi, " uhhhhh sshhhh ahhhhh sshh ahhh... Aku sudah tak tahan elfhiraaa..... Kemarilahhhh....!" Ia kembali mendengar desahan yang semakin meresahkan gairahnya. Apa mungkin itu Kelvin? Tapi, Mana mungkin Kelvin berani masuk ke dalam kamarnya. Wushhhhhh..... Sebuah bayangan hitam melintas di hadapannya masuk kedalam kamar mandi. "Apa itu? Dinar? Sira? Kalian berdua lemparin apa barusan?" Ia berteriak-teriak memanggil kedua temanya.. Tapi tidak ada mereka di sana. Ia memegang tengkuknya yang tiba-tiba mulai meremang. Ini adalah kejanggalan kedua kalinya yang ia rasakan. Memberanikan diri untuk melihat sosok yang terlempar ke dalam kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang ketika pintu kamar mandi hampir terbuka sepenuhnya. Keringat dingin bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. "Arghhhhhh sshhh ahhhh.,.. khemarilahhh Elfhiraaaaa....." Suara desahan itu semakin menjadi, dan bersamaan dengan itu lampu kamar mandi langsung mati. "Astaga, aku harus keluar dari sini! Ini bukan mati lampu biasa!" Ucapnya lirih mencari keberadaan pintu keluar. Bughhhh.... Pintu itu di tutup dengan keras dengan hembusan angin yang mendesir kencang. "Akuuu.... Akan memuaskan kamuu.....kembali....elfhiraaa....." Desahan itu benar-benar membuatnya hilang kewarasan. Area intimnya berdenyut, meronta-ronta ingin mendapat gesekan dari rudal besar yang keluar masuk dari sana. Lengannya seperti bergerak sendiri mencabik-cabik dres mini yang membalut tubuhnya. "Tto....tolong....ahhhhh...." Susah payah ia mencoba berteriak, suaranya seakan tertahan oleh sensasi bergairah dari sesuatu yang menjalar di tubuhnya. Kekar dan sangat licin seperti tubuh berotot yang terkena oli. Meremas payudara besarnya, disusul dengan lumatan di sekita tengkuk menyertakan aliran aneh yang semakin meningkatkan hyper sensual. Cahaya lampu dari arah luar, remang-remang menampakan tubuh tinggi perkasa tepat di hadapannya. 'tidak mungkin, itu hanya halusinasi ku saja! Kelvin? Apa mungkin dia adalah Kelvin yang mengendap-endap masuk ke dalam kamarku?'
Daftar bab
Total 32 bab
/0/15338/coverbig.jpg)
/0/5777/coverbig.jpg)
/0/2043/coverbig.jpg)
/0/34548/coverbig.jpg)
/0/27619/coverbig.jpg)
/0/17871/coverbig.jpg)
/0/30432/coverbig.jpg)
/0/31176/coverbig.jpg)
/0/31099/coverbig.jpg)
/0/31113/coverbig.jpg)
/0/30348/coverbig.jpg)
/0/30126/coverbig.jpg)